Strategi Anton Kurniawan Jalankan Bisnis Mie Gacoan
Harga mulai Rp 10 ribuan namun omset perhari tembus ratusan juta rupiah. Tanpa franchise. Tanpa investor besar. Tanpa iklan masif. Dalam kurang dari 10 tahun, Anton Kurniawan membangun 400 gerai Mie Gacoan dengan 10.000 karyawan.
Konteks : Pasar yang Semua Orang Anggap Sudah Penuh
Tahun 2016. Kuliner mie pedas di Indonesia sudah ada pemainnya. Kober Mie Setan sudah berdiri sejak 2010. Warunk Upnormal sudah ramai. Franchise asing masih mendominasi fast food.
Semua analis pasar akan bilang: segmen ini sudah sesak.
Anton Kurniawan tidak percaya pada analisis itu. Dia melihat satu celah yang tidak ada yang isi dengan serius: mie pedas berkualitas. suasana kekinian, harga benar-benar terjangkau untuk mahasiswa dan pekerja muda. Bukan satu atau dua dari tiga itu. Tapi ketiganya sekaligus.
Saat Mie Gacoan mulai viral di Malang dan tawaran franchise mulai berdatangan, Anton membuat keputusan yang tidak populer di industri F&B Indonesia.
Dia menolak semua sistem waralaba. Sampai hari ini. Mie Gacoan memilih strategi ekspansi tanpa sistem waralaba atau franchise untuk menjaga kendali mutu secara langsung melalui modal sendiri. Perusahaan juga memiliki central kitchen di Malang untuk memastikan konsistensi rasa dan standar kualitas bahan baku yang ketat di seluruh cabang.
Bagi kebanyakan orang, menolak franchise artinya membatasi kecepatan pertumbuhan. Bagi Anton Kurniawan, itu adalah satu-satunya cara untuk menjaga apa yang membuat Mie Gacoan berbeda.
Apa yang Anton Lihat yang Orang Lain Tidak Lihat
Anton tidak sedang membangun warung mie. Dia sedang membangun pengalaman. Nama menu yang nyeleneh seperti Mie Setan dan Mie Iblis bukan gimmick semata. Itu strategi yang dirancang untuk menciptakan word of mouth organik di era media sosial orang penasaran, datang, foto, cerita ke orang lain.
Suasana gerai dirancang bukan sekadar untuk makan, tapi untuk nongkrong dan swafoto. Setiap detail dari pencahayaan, warna, hingga layout meja dikalkulasi untuk audiens anak muda yang hidupnya di Instagram dan TikTok Produknya murah. Tapi experience-nya premium.
Krisis yang Mengancam Segalanya
Tahun 2022. Mie Gacoan sedang di puncak popularitasnya. Lalu datang masalah yang tidak ada yang duga.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempermasalahkan nama-nama menu Mie Setan, Mie Iblis, Es Teh Jumbo "Jin" - dianggap tidak memenuhi kriteria Sistem Jaminan Halal. Sertifikasi halal ditolak. Di negara dengan 230 juta Muslim, ini bukan masalah kecil.
Banyak brand di posisi itu akan defensif. Anton memilih sebaliknya.
Pada November 2022, seluruh nama menu diubah. Proses sertifikasi dijalankan sepenuhnya. Dan pada 22 Juni 2023, seluruh gerai Mie Gacoan resmi mengantongi sertifikat halal MUI. Bukan terpaksa. Tapi bergerak cepat dan tuntas.
Pola Pikir: Konsistensi Kualitas adalah Moat yang Paling Kuat
Kebanyakan brand F&B yang tumbuh cepat akhirnya kehilangan satu hal : konsistensi rasa di semua cabang.
Anton Kurniawan membangun sistem untuk mencegah itu sejak awal.
Central kitchen di Malang memastikan bahan baku dan standar rasa sama persis di semua gerai dari Malang sampai Balikpapan. Tanpa franchise berarti tidak ada mitra yang bisa mengambil jalan pintas dalam kualitas. Semua cabang adalah milik sendiri, semua standar dikontrol langsung. Pertumbuhan yang lebih lambat tapi lebih solid selalu mengalahkan pertumbuhan cepat yang rapuh.
Hasilnya, dari awal berdiri di Solo dan Malang, kini Mie Gacoan telah berbiak ke lebih dari 20 kota di Indonesia dengan total lebih dari 400 gerai yang tersebar di wilayah Jawa, Bali, hingga Mataram. Dengan dukungan lebih dari 10.000 karyawan, Mie Gacoan telah mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar restoran spesialis mie di Indonesia.
Estimasi omzet per cabang mencapai Rp 200 juta per hari. Tahun 2022, Presiden Joko Widodo sendiri datang mengunjungi gerai Mie Gacoan di Mataram tanpa diundang, tanpa Pekerjaan Rumah. Dari satu gerai di Malang yang semua orang bilang pasarnya sudah penuh, ke 400 gerai dan 10.000 karyawan dalam kurang dari 10 tahun.
Anton Kurniawan tidak berhasil karena dia menemukan resep mie yang paling enak di Indonesia. Dia berhasil karena dia membangun Sistem yang memastikan resep itu sama enaknya di 400 gerai. Berbeda.
Di era ketika banyak brand berlomba ekspansi cepat lewat franchise, Anton Kurniawan memilih kontrol penuh atas kualitas meski itu berarti pertumbuhan yang lebih lambat.
Satu hal yang bisa kamu terapkan hari ini: Sebelum buka cabang baru atau rekrut partner baru, tanya satu pertanyaan ini apakah sistem kamu sudah cukup kuat untuk menjaga standar kualitas yang sama tanpa kamu harus hadir langsung di sana?
*) Source : The founders
Editor : Bambang Harianto