Yatim Sejak Bayi, Ismed Yuzairi Chaniago Tumbuh Menjadi Jenderal
Banyak orang melihat kesuksesan seorang jenderal hanya dari pangkat bintang di pundaknya. Namun, jarang ada yang tahu bahwa di balik seragam gagah Mayjen TNI (Purn.) Ismed Yuzairi Chaniago, tersimpan cerita masa kecil yang penuh air mata dan darah perjuangan.
Ia adalah bukti nyata pepatah "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 1 Januari 1949, takdir Ismed kecil langsung ditempa oleh kerasnya garis depan perang kemerdekaan.
Gugurnya Sang Ayah di Peristiwa Situjuh
Saat Ismed masih bayi dan belum mengerti apa-apa, sebuah tragedi memilukan menimpa keluarganya. Ayahnya, Mayor (Anumerta) Zainuddin—seorang pejuang legendaris yang dijuluki "Kapten Zainuddin Tembak"—gugur dalam peristiwa heroik.
Sang ayah menjadi salah satu korban pembantaian oleh tentara Belanda dalam Peristiwa Situjuh, sebuah mata rantai perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat.
Ismed pun harus kehilangan sosok ayah sejak di buaian. Di bawah asuhan ibundanya, Yuniar, dengan segala keterbatasan pasca-perang, Ismed tumbuh menjadi pemuda yang mandiri, disiplin, dan memiliki kecintaan luar biasa pada tanah air. Semangat juang "Kapten Zainuddin Tembak" rupanya tak pernah mati, melainkan mengalir deras di darah sang anak.
Melanjutkan Estafet Perjuangan Melalui Akademi Militer
Bertekad meneruskan cita-cita suci sang ayah untuk menjaga NKRI, Ismed memantapkan langkah masuk ke dunia militer. Ia berhasil menamatkan pendidikannya di Akademi Militer (Akmil) tahun 1971.
Dari sinilah kariernya perlahan merangkak naik berkat dedikasi dan prestasinya di lapangan. Berbagai posisi strategis di TNI Angkatan Darat berhasil ia duduki dengan gemilang, di antaranya:
Kepala Staf Kostrad (Kas Kostrad) (1997)
Pangdam I/Bukit Barisan (1998–1999) – Memimpin komando militer wilayah Sumatra bagian utara.
Komandan Pusat Teritorial TNI AD (Danpusterad) (1999–2000)
Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) (2000–2002)
Inspektur Jenderal TNI AD (Irjenad) – Jabatan puncak sebagai pengawas tertinggi matra darat sebelum purnatugas.
Puncaknya, sang jenderal yatim ini berhasil meraih pangkat Mayor Jenderal (Bintang Dua)—sebuah pencapaian tertinggi yang pastinya akan membuat mendiang ayahnya tersenyum bangga di keabadian.
Mayjen TNI (Purn) Ismed Yuzairi Chaniago telah berpulang ke pangkuan Sang Khalik pada 28 Agustus 2005 silam. Bersama istrinya, Febrina, Ismed Yuzairi Chaniago telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan sangat terhormat. (*)
Editor : Bambang Harianto