Kisah Syekh Abdul Qadir Al Jailani Diuji dengan Tumpukan Hutang

avatar Ach. Maret S.
  • URL berhasil dicopy
Syekh Abdul Qadir Al Jailani
Syekh Abdul Qadir Al Jailani
grosir-buah-surabaya

Suatu ketika, sebelum kemasyhuran nama Syekh Abdul Qadir Al Jailani Q.S. tersebar ke seluruh penjuru Baghdad. Beliau diuji Allah dengan ujian yang berat : lilitan hutang yang menggunung.

1. Datangnya Ujian 

Pada masa mudanya, Syekh Abdul Qadir Al Jailani hidup dalam kezuhudan dan kefakiran. Beliau sering berhari-hari tidak makan, mengganjal perut dengan batu. Suatu saat, beliau harus menanggung nafkah para santrinya yang datang dari berbagai negeri untuk menuntut ilmu. Sementara itu, tidak ada sepeser pun harta di tangannya. 

Demi menjaga kehormatan para penuntut ilmu, beliau terpaksa berhutang kepada beberapa pedagang di pasar Baghdad. Hari demi hari, hutang itu bertambah. Para pedagang mulai menagih, sebagian dengan lembut, sebagian dengan kasar. Jumlahnya mencapai puluhan dinar emas — jumlah yang mustahil bagi seorang zahid yang hanya berbaju wol kasar.

2. Kesabaran di Tengah Tekanan 

Setiap pagi, para penagih hutang berdiri di depan pondok beliau. Namun Syekh Abdul Qadir Al Jailani tidak pernah mengeluh. Beliau tetap mengajar, tetap berdzikir, tetap melayani tamu. Wajahnya tenang, seolah tidak ada beban yang menindih pundaknya. 

Murid-muridnya gelisah. “Wahai Guru, izinkan kami meminta bantuan kepada para dermawan,” pinta mereka. 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani tersenyum, “Anakku, jika aku meminta kepada makhluk, lalu di mana letak tawakkalku kepada Al-Khaliq? Hutang ini bukan antara aku dan mereka, tapi antara aku dan Allah yang menggerakkan hati mereka untuk memberi pinjaman.”

Malam-malam Syekh Abdul Qadir Al Jailani lalui dengan sujud panjang. Dalam doanya beliau berbisik : 

“Ya Allah, Engkau yang menjadikan aku berhutang, maka Engkau pula yang berkuasa melunaskannya. Aku tidak takut pada penagih, aku hanya takut jika hati ini berpaling dari-Mu karena urusan dunia.”

3. Pertolongan yang Tak Disangka 

Puncaknya, seluruh pedagang sepakat datang bersamaan. Mereka mengepung pondok beliau dan berkata : “Wahai Abdul Qodir, lunasi hutangmu hari ini atau kami seret engkau ke pengadilan!”.

Di saat itulah terdengar derap kaki kuda. Seorang utusan Khalifah Bani Abbasiyah datang tergesa-gesa membawa kantong-kantong penuh dinar. Dengan wajah penuh hormat Syekh Abdul Qadir Al Jailani berkata: 

“Wahai Syekh, semalam Khalifah bermimpi didatangi Rasulullah SAW. Beliau bersabda: ‘Di Baghdad ada kekasih Allah yang sedang kesulitan karena hutang. Lunasi hutangnya, jika tidak maka kerajaanmu akan binasa.’ Maka inilah 1000 dinar emas sebagai hadiah dari Khalifah, dan beliau memohon doamu.”

Syekh Abdul Qadir Al Jailani menengadahkan tangan, air matanya jatuh. Bukan karena hutangnya akan lunas, tapi karena Allah menunjukkan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertawakal.

4. Hikmah yang Diajarkan 

Syekh Abdul Qadir Al Jailani panggil semua pedagang, lalu dilunasinya seluruh hutang hingga tidak tersisa satu dirham pun. Kelebihan harta itu beliau bagikan kepada fakir miskin dan para santrinya.

Setelah itu beliau berkata kepada murid-muridnya: 

“Wahai anakku, inilah pelajaran bagimu. Hutang adalah ujian kesabaran. Jika engkau jujur, sabar, dan tidak lepas dari pintu Allah, maka Allah akan melunasi dari arah yang tidak disangka-sangka. Jangan takut miskin karena berbuat baik. Takutlah jika hatimu miskin dari yakin kepada Allah.”

Sejak hari itu, karomah Syekh Abdul Qadir Al Jailani semakin masyhur. Orang-orang menyebut peristiwa ini sebagai “Karomah Lunasnya Hutang” — bukti bahwa tawakal yang hakiki tidak akan pernah disia-siakan. (*)