Ketika 4 Istri Syaikh Abdul Qadir Al Jailani Mengadu
Diriwayatkan oleh putra beliau sendiri, Syaikh Abdul Razzaq, dan ditahqiq Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam al-Nubala.
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memiliki empat orang istri, yang semuanya sangat setia dan taat kepada beliau. Dari ke empat istri beliau, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memiliki 49 anak, 27 laki-laki dan 22 perempuan.
Suatu hari, istri-istri beliau mendatangi beliau dan berkata :
“Wahai pemilik akhlak yang mulia, anak bungsumu wafat dan kami tak melihatmu menangis atau bersedih. Tidakkah kau menyanyangi orang yang menjadi bagian dari dirimu? Kami sangat berduka, tetapi engkau tetap sibuk dengan urusanmu seakan-akan tak ada yang terjadi. Kau adalah pemimpin, pembimbing dan harapan kami di dunia maupun di akherat. Tetapi, hatimu sekeras itu, bagaimana kami dapat bersandar kepadamu di hari kiamat dan berharap kau dapat menyelamatkan kami?”
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menjawab :
“Sahabat-sahabatku tercinta, jangan pernah mengira hatiku keras. Aku mengasihi orang kafir karena kekafiran mereka. Aku mengasihi anjing yang menggigitku dan berdoa kepada Allah agar tidak menggigit orang lain dimana mereka akan melemparinya dengan batu. Tidaklah kalian tahu bahwa aku mewarisi kasih sayang dari orang yang telah diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam?”
Para istri beliau berkata :
“Engkau mengasihi bahkan kepada anjing yang menggigitmu, tetapi mengapa engkau tak menunjukkan rasa iba atas anakmu yang telah dipenggal pedang kematian?”
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berkata
“Duh sahabat-sahabatku yang malang, kau menangis karena berpisah dengan anak yang kau cintai. Kau melihat anakmu dalam mimpi duniawi dan kau kehilangan dia dalam mimpi yang lain.”
Allah berfirman :
“Dunia ini adalah mimpi.”
Dunia ini adalah mimpi bagi orang-orang yang tidur. Sementara aku tetap terjaga. Aku melihat anakku ketika ia berada dalam lingkaran waktu. Kini, ia telah keluar dari lingkaran itu. Aku masih melihatnya, dan ia tetap bersamaku. Ia sedang bermain di dekatkku persis seperti saat-saat sebelumnya. Ketahuilah, jika kau melihat dengan mata hati, baik dalam keadaan hidup maupun mati, kebenaran tidak akan pernah hilang.”
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
Alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Semoga senantiasa tercurahkan kepadanya rohmat, kesejahteraan dan melimpahkan kepada kita dengan rahasia Allah dalam semua waktu dan tempat. Aamiin. (*)
*) Source : Kisah Kramat Wali Wali Allah
Editor : Bambang Harianto