Donny Latuperissa, Sang Penjaga Mistar dari Era Galatama

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Donny Latuperissa
Donny Latuperissa
grosir-buah-surabaya

Nama Donny Ericson Latuperissa mungkin tidak setenar para bintang sepak bola masa kini, tetapi bagi penikmat sepak bola Indonesia era 1980–1990-an, ia adalah sosok kiper yang tangguh, berwibawa, dan penuh kharisma. Lahir pada 6 Juni 1963, Donny meniti karier sepak bolanya dari kota Medan — sebuah kota yang dikenal sebagai gudangnya pemain tangguh.

Awal Karier dan Pembentukan

Donny mulai dikenal publik sepak bola saat memperkuat PSMS Medan junior di awal 1980-an. Dari klub inilah karakter keras dan disiplin seorang Donny terbentuk. Ia dikenal memiliki refleks cepat dan mental baja, dua kualitas yang sangat dibutuhkan untuk menjadi kiper hebat di era permainan fisik seperti Galatama.

Menembus Galatama dan Klub-Klub Besar

Karier profesional Donny menanjak saat ia menembus kompetisi Galatama, liga profesional Indonesia sebelum era Liga Indonesia. Ia sempat memperkuat beberapa klub besar seperti Niac Mitra, Pelita Jaya, dan Bandung Raya, serta sempat tampil bersama nama-nama seperti Dadang Kurnia, Dede Iskandar, Agus Salam, dan Deny Syamsudin di bawah asuhan Risnandar Soendoro.

Namun, salah satu bab paling menarik dari perjalanan karier Donny terjadi saat ia membela Arema Malang di musim Galatama 1987/1988.

Bab Arema: Dari Skorsing ke Momen Emas

Kedatangan Donny ke Arema bermula dari situasi unik. Ia dan Bambang Nurdiansyah sempat terkena skorsing ketika memperkuat Pelita Jaya. Begitu masa skorsing berakhir, Nirwan D. Bakrie — salah satu sponsor Arema saat itu — membantu meminjamkan keduanya ke klub Singo Edan.

Musim itu berjalan luar biasa. Dengan Donny di bawah mistar, Arema hanya kebobolan 20 gol dari 26 pertandingan — catatan impresif untuk ukuran Galatama. Penampilan gemilang Donny berpadu dengan barisan bek tangguh, menjadikan lini pertahanan Arema salah satu yang paling solid di liga. Tak heran, banyak striker lawan yang ciut nyali saat harus berhadapan dengannya.

Kiprah di Tim Nasional

Puncak karier Donny di level internasional datang saat ia menjadi bagian dari Timnas Indonesia. Ia masuk dalam skuad kualifikasi Piala Dunia 1986, salah satu momen penting dalam sejarah sepak bola nasional ketika Indonesia nyaris menembus babak lebih lanjut.

Kemudian, Donny kembali dipercaya menjadi kiper utama Timnas di ajang SEA Games 1993 di Singapura, di bawah asuhan pelatih legendaris Ivan Toplak.

Akhir Karier dan Pertandingan Terakhir

Menjelang akhir kariernya, Donny masih menunjukkan kualitasnya bersama Pelita Jaya. Salah satu laga terakhir yang dikenang adalah Pelita Jaya vs Pupuk Kaltim Bontang di Stadion Lebak Bulus, dalam hujan deras, sebelum Galatama dilebur menjadi Liga Dunhill I. Pertandingan itu berakhir dengan skor 2–0 lewat gol Ansyari Lubis dan Powan Ngadi — menjadi salah satu momen terakhir sang kiper tampil di level tertinggi.

Kehidupan Pasca-Pensiun

Setelah menggantung sarung tangannya, Donny tidak meninggalkan dunia sepak bola. Ia beralih menjadi pelatih kiper, sempat melatih di beberapa klub termasuk PS Bangka, dan aktif membina generasi muda. Perannya dalam pengembangan kiper muda menjadi bentuk pengabdian baru bagi dunia yang telah membesarkan namanya.

Warisan dan Reputasi

Donny Latuperissa dikenang sebagai sosok penjaga gawang berkarakter kuat, disiplin, dan rendah hati. Ia merupakan bagian penting dari generasi emas sepak bola Indonesia di penghujung era Galatama.

Namanya kerap disebut dalam berbagai tulisan retrospektif sebagai salah satu kiper terbaik Indonesia pada zamannya — ikon ketenangan di bawah mistar, dan panutan bagi banyak kiper muda setelahnya.

Fakta Singkat Donny Latuperissa

Nama lengkap: Donny Ericson Latuperissa

Tanggal lahir: 6 Juni 1963

Asal: Medan, Sumatera Utara

Klub pembinaan: PSMS Medan (junior)

Klub profesional: Niac Mitra, Pelita Jaya, Bandung Raya, Arema (pinjaman)

Karier internasional: Timnas Indonesia (Kualifikasi Piala Dunia 1986, SEA Games 1993)

Pasca-pensiun: Pelatih kiper dan pembina usia muda.