Sisi Lain Todung Mulya Lubis Sang Pendekar Hukum
Di panggung hukum Indonesia, nama Todung Mulya Lubis adalah sebuah jaminan mutu. Lahir pada 4 Juli 1949, sosoknya selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pengacara papan atas, tokoh gerakan Hak Asasi Manusia (HAM), hingga diplomat ulung. Puncaknya pada tahun 2018, Presiden Joko Widodo memercayainya untuk mengemban amanah sebagai Duta Besar Indonesia untuk Norwegia merangkap Islandia.
Namun, di balik ketegasannya di meja hijau dan ruang diplomasi, Todung adalah seorang manusia multidimensi dengan jiwa seni yang begitu kental.
Pengacara Paling Efektif di Indonesia dengan Pengakuan Global
Karier Todung di dunia hukum dibangun lewat dedikasi dan intelektualitas yang luar biasa. Ia merupakan pendiri kantor hukum legendaris Lubis Santosa & Maramis (kini Lubis, Santosa & Rekan) yang eksis sejak tahun 1986. Rekam jejaknya dalam menyelesaikan sengketa korporasi berskala besar membuat lembaga riset internasional Chambers Global menobatkannya sebagai "advokat paling efektif di Indonesia" sekaligus "pelobi dengan profil dan pengaruh luar biasa."
Tak hanya itu, namanya rutin bertengger dalam daftar The International Who's Who of Business Lawyers dan Asia Pacific Legal 500 sebagai tokoh terkemuka dalam praktik penyelesaian sengketa hukum di Indonesia. Atas reputasi dunia ini, Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan Kamar Dagang Internasional (ICC) Paris mendudukkannya sebagai arbiter panel terpercaya.
Fondasi Akademik dari Kampus Terkemuka Dunia
Ketajaman berpikir Todung tidak lepas dari latar belakang pendidikannya yang mentereng. Masa kecilnya yang dinamis dan berpindah-pindah kota—mulai dari Jambi, Pekanbaru, hingga Medan—membentuk karakternya menjadi sangat adaptif dan demokratis.
Setelah meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1974, ia terbang ke Amerika Serikat untuk memburu ilmu:
Tahun 1978 & 1987: Meraih gelar Master hukum (LL.M) dari dua universitas paling bergengsi di dunia, University of California, Berkeley dan Harvard University.
Tahun 1990: Meraih gelar Doctor of Juridical Science (SJD) dari UC Berkeley dengan disertasi monumental tentang dilema hukum-politik HAM di era Orde Baru.
Dedikasinya yang besar bagi masyarakat luas membuat UC Berkeley menganugerahinya penghargaan internasional bergengsi, Elise and Walter A. Haas International Award pada tahun 2017. Kepakarannya juga ia bagikan sebagai akademisi, termasuk saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Kehormatan di University of Melbourne, Australia, serta aktif mengajar di UI, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Universitas Sumatera Utara (USU).
Romantisme Puisi dan Prosa "Menunda Kekalahan"
Di luar ruang sidang yang kaku, Todung Mulya Lubis adalah seorang pujangga yang produktif. Kepekaan sosialnya ia tuangkan dalam beragam buku fiksi dan nonfiksi. Ia telah melahirkan sebuah novel berjudul Menunda Kekalahan (2021), tiga jilid catatan harian, serta tiga buku kumpulan puisi yang sarat akan makna kehidupan: Pada Sebuah Lorong (1988), Sudah Waktunya Kita Membaca Puisi (1999), dan Jam-Jam Gelisah (2006).
Sisi puitis seorang Todung bahkan memikat dunia musik tanah air. Pada tahun 2019, delapan puisi indahnya digubah menjadi melodi yang syahdu oleh duo musikalisasi puisi legendaris, Ari Malibu dan Reda Gaudiamo (AriReda), dalam sebuah album musik berjudul Perjalanan.
Melalui rekam jejaknya, Todung Mulya Lubis membuktikan bahwa hukum, diplomasi, dan seni dapat berjalan beriringan secara harmonis. Beliau adalah simbol ideal dari seorang profesional hukum yang tidak hanya mengandalkan logika, tetapi juga menggunakan hati dan rasa untuk membela kemanusiaan. (*)
Editor : Bambang Harianto