Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut untuk mencoba meredakan ketegangan di Teluk, bahkan ketika militer Amerika Serikat mengumumkan menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induknya di Laut Arab.
Donald Trump mengatakan bahwa Washington sedang bernegosiasi dengan Iran saat ini, tetapi menolak untuk mengatakan di mana pembicaraan itu berlangsung.
Baca juga: Dari Kawan Jadi Lawan : Perseteruan Trump Vs Elon Musk Makin Panas
"[Pembicaraan] sudah selesai. Tetapi mereka sedang bernegosiasi. Mereka ingin melakukan sesuatu, dan kita akan lihat apakah sesuatu akan dilakukan," kata Donald Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Selasa, 3 Februari 2026.
"Mereka memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu beberapa waktu lalu, dan itu tidak berhasil. Dan kita melakukan 'Midnight Hammer', saya rasa mereka tidak ingin itu terjadi lagi," tambahnya, merujuk pada operasi Juni 2025 lalu di mana Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran.
Donald Trump yang telah mendorong Teheran untuk menyetujui pembicaraan mengenai program nuklirnya, telah berulang kali mengancam akan menyerang negara itu lagi atas tindakan keras baru-baru ini terhadap protes anti-pemerintah. Presiden Amerika Serikat mengirimkan Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke Teluk pekan lalu, yang menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan konfrontasi militer.
Grup serang kapal induk yang membawa sekitar 5.700 pasukan Amerika Serikat tambahan, bergabung dengan tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir yang sudah berada di wilayah tersebut.
Ketegangan telah mereda dalam beberapa hari terakhir di tengah dorongan dari kekuatan regional untuk mencapai resolusi.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa ia telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Iran itu untuk melakukan negosiasi yang adil dan merata, dipandu oleh prinsip-prinsip martabat, kehati-hatian, dan kelayakan, dengan syarat bahwa lingkungan yang sesuai ada.
"Negosiasi ini akan dilakukan dalam kerangka kepentingan nasional kita," tambah Pezeshkian pada hari Selasa (4/2/2016).
Penembakan Drone
Pengumuman presiden Iran itu disampaikan ketika Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan sebuah jet tempur Kapal Induk Amerika Serikat dari USS Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran untuk membela diri dan melindungi kapal induk dan personel di dalamnya.
CENTCOM mengatakan drone Shahed-139 mendekati secara agresif kapal induk, yang berlayar sekitar 800 km (500 mil) dari pantai selatan Iran, dengan niat yang tidak jelas. Dan drone itu terus terbang menuju kapal meskipun ada tindakan de-eskalasi yang diambil oleh pasukan Amerika Serikat yang beroperasi di perairan internasional.
Tidak ada komentar langsung dari pihak berwenang Iran
Kantor berita IRAN, Tasnim, mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa komunikasi terputus dengan sebuah drone – yang telah berhasil mengirim data kembali ke Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) – di perairan internasional.
Tasnim mengatakan penyelidikan sedang dilakukan untuk menentukan mengapa pemutusan komunikasi terjadi.
Setelah penembakan jatuh tersebut, CENTCOM mengatakan bahwa pasukan IRGC juga mengganggu sebuah kapal dagang berbendera AS dan berawak AS di Selat Hormuz, jalur air Teluk yang penting bagi perdagangan global.
“Dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi dan mengancam untuk naik dan merebut kapal tanker tersebut,” katanya.
Kantor berita Fars Iran mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan kemudian pada hari itu bahwa sebuah kapal telah memasuki perairan teritorial Iran tanpa izin hukum yang diperlukan.
Para pejabat tersebut mengatakan kapal itu telah diperingatkan dan meninggalkan daerah tersebut tanpa adanya peristiwa keamanan khusus yang terjadi.
Pembicaraan Diharapkan
Baca juga: 58 Negara Ini Dinilai Trump Punya Kebijakan yang Hambat Ekspor Amerika Serikat
Kedua insiden tersebut tampaknya tidak mengubah rencana pembicaraan, yang diperkirakan akan berlangsung pada hari Jumat.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Selasa (4/2/2026), Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan untuk melakukan pembicaraan dengan Iran akhir pekan ini.
"Pembicaraan tersebut masih dijadwalkan hingga saat ini," kata Leavitt.
Tasnim mengutip Juru Bicara Kementerian Luar Negeri yang mengatakan bahwa konsultasi sedang berlangsung untuk memilih tempat pertemuan, dengan Turki, Oman, dan beberapa negara lain di kawasan tersebut telah menawarkan diri untuk menjadi tuan rumah.
Melaporkan dari Teheran, Ali Hashem dari Al Jazeera mengatakan bahwa seorang sumber senior Iran telah mengkonfirmasi bahwa pembicaraan akan diadakan di Muscat, ibu kota Oman.
Kantor berita Associated Press, mengutip seorang pejabat Turki yang tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa menteri luar negeri dari Oman, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab juga telah diundang untuk menghadiri pembicaraan tersebut, jika terjadi.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pihaknya bekerja sama dengan kontak di Iran pada tingkat tertinggi untuk meredakan situasi.
“Kita semua di kawasan ini secara kolektif… sedang menjalin koneksi dan kontak yang tepat untuk memastikan kita memainkan peran positif,” kata Majed Al Ansari, juru bicara kementerian tersebut.
“Qatar tidak sendirian dalam hal ini. Kami bekerja sama untuk memastikan kami meredakan dan melindungi kawasan kami serta memastikan tidak ada lagi eskalasi,” tambahnya.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa Iran menuntut agar pembicaraan diadakan di Oman, bukan Turki, dan agar ruang lingkupnya dipersempit menjadi negosiasi dua arah hanya mengenai isu-isu nuklir. Kantor berita tersebut mengutip sumber regional yang tidak disebutkan namanya.
Tahun 2025 lalu, para pejabat AS dan Iran mengadakan lima putaran pembicaraan di Oman, hingga diskusi dihentikan karena perang 12 hari Israel terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh Washington.
Tohid Asadi dari Al Jazeera, melaporkan dari Teheran, mengatakan para pejabat Iran mencari pendekatan pragmatis untuk pembicaraan ini tetapi topik diskusi yang tepat masih belum jelas.
Para pejabat Iran mengatakan mereka ingin negosiasi tersebut fokus pada program nuklir negara itu, sementara Washington dilaporkan ingin membahas berbagai masalah, termasuk hubungan Iran dengan kelompok bersenjata regional serta program rudal balistik dan pertahanannya.
“Tentu saja, kita juga memiliki masalah kepercayaan, dan kita harus ingat bahwa ada pembicaraan pada bulan Juni, ketika AS dan Israel menyerang Iran, menargetkan fasilitas nuklirnya, ilmuwan nuklir, markas militer, serta infrastruktur sipil,” tambahnya.
Para analis mengatakan mereka tidak percaya pembicaraan tersebut dapat membuahkan hasil.
“Pertanyaannya adalah, apakah ini akan menghasilkan sesuatu? Saya belum melihat sinyal apa pun dari Washington atau Teheran yang menunjukkan bahwa kedua pihak bersedia. Jika boleh dikatakan demikian, melonggarkan garis merah mereka,” kata Alex Vatanka, seorang Peneliti Senior di Middle East Institute di Washington, DC.
“Jadi, kecuali itu berubah, kecuali ada kejutan menit terakhir dari pihak Amerika atau Iran, maka saya tidak dapat melihat bagaimana mengadakan pembicaraan diplomatik dapat membawa krisis ini ke arah yang damai,” katanya.
Vatanka menambahkan bahwa, kali ini, AS memamerkan kekuatan dan berlagak jauh lebih banyak.
“Pertanyaannya adalah, apakah Amerika Serikat mengerahkan semua aset militer ini untuk benar-benar menarik perhatian Iran pada perlunya kesepakatan segera? Atau mungkin sedang mempersiapkan sesuatu yang berkepanjangan, dalam hal proyek politik yang tampak seperti perubahan rezim di Republik Islam?” katanya. (*)
Editor : Redaksi