Di panggung politik dan ekonomi Indonesia era reformasi, nama Adi Sasono menempati posisi yang sangat unik sekaligus fenomenal. Pria kelahiran 16 Februari 1943 ini bukan sekadar birokrat, melainkan seorang pemikir, aktivis pergerakan, dan pejuang ekonomi kerakyatan sejati.
Dikenal luas sebagai mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) pada era Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah Presiden B.J. Habibie, Adi Sasono mendedikasikan sepanjang hidupnya untuk membela pelaku usaha cilik. Tokoh pergerakan nasional ini mengembus napas terakhirnya pada 13 Agustus 2016, meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam tentang kemandirian ekonomi bangsa.
Baca juga: Misteri Nota Percakapan A 298
Dari Aktivis Mahasiswa hingga Motor Penggerak ICMI
Sebelum menduduki kursi menteri, Adi Sasono adalah seorang aktivis tulen yang tumbuh di rahim berbagai organisasi kemasyarakatan besar di Indonesia. Rekam jejak organisasinya membentang luas sejak masa mudanya, di mana ia tercatat sebagai tokoh penting di Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Jiwa kritisnya di dunia pergerakan juga disalurkan melalui Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) serta berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Di tingkat nasional, intelektualismenya membawa ia dipercaya mengemban posisi strategis sebagai Sekretaris Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada dekade 1990-an, sebuah organisasi yang menjadi motor pemikiran bagi umat dan negara kala itu.
"Indonesia's Most Dangerous Man": Julukan Sangar dari Media Asing
Kiprah Adi Sasono saat didapuk menjadi Menteri Koperasi dan UKM periode 1998–1999 benar-benar mengguncang kemapanan ekonomi saat itu. Kebijakannya yang berpihak total pada pemberdayaan ekonomi rakyat kecil dinilai mengancam gurita bisnis konglomerasi era Orde Baru.
Baca juga: Respon Kombes Manang Soebeti Pas Didemo Mahasiswa HMI Jambi
Keberaniannya meluncurkan program-program ekonomi kerakyatan yang agresif membuat salah satu media luar negeri menjulukinya sebagai "Indonesia's most dangerous man" (Orang Indonesia paling berbahaya).
Meski julukan tersebut terdengar sangar, Adi Sasono menanggapinya dengan santai dan penuh selera humor. Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh Los Angeles Times - Washington (yang dikutip kembali oleh The Tufts Daily edisi 3 Maret 1999), ia menyangkal tuduhan tersebut dengan senyuman. "I've tried to convince them that I'm not dangerous at all" (Saya sudah mencoba meyakinkan mereka bahwa saya tidak berbahaya sama sekali), ujarnya kala itu.
Menakhodai Dekopin hingga Mendirikan Partai Merdeka
Dunia koperasi memang telah menjadi napas perjuangan Adi Sasono. Kiprahnya di sektor ini diperkuat lewat perannya sebagai salah satu tokoh sentral di Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN). Lewat lembaga ini, ia terus menyuarakan bahwa koperasi harus menjadi soko guru perekonomian nasional demi mewujudkan keadilan sosial.
Baca juga: HMI Kabupaten Kediri Prihatin Penangkapan Mahasiswa di Lamongan
Selepas purnatugas dari kabinet, hasratnya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat tidak pernah padam. Sebagai langkah konkret untuk membawa gagasan ekonominya ke parlemen, Adi Sasono mendirikan Partai Merdeka. Di bawah kepemimpinannya, partai politik ini sukses lolos menjadi salah satu kontestan yang mewarnai pesta demokrasi pada Pemilu tahun 2004 di Indonesia.
Adi Sasono adalah potret utuh seorang ideolog ekonomi rakyat. Bagi para konglomerat monopoli, ia mungkin sosok yang "berbahaya", namun bagi jutaan pedagang kecil, petani, dan perajin di pelosok negeri, ia adalah pahlawan yang berani pasang badan demi tegaknya keadilan ekonomi di bumi nusantara. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar