Masih ingat fenomena orang-orang latah masuk hutan cari Porang demi mimpi jadi miliarder mendadak? Banyak cerita tragis di mana orang sudah capek-capek memikul umbi berton-ton, tapi pas dibawa ke pengepul malah ditolak mentah-mentah. Boro-boro beli mobil, yang ada malah rugi bandar!
Usut punya usut, mereka terkena scam alias tipuan alam. Mereka salah cabut tanaman yang wujudnya super mirip Porang, yaitu Walur dan Suweg. Biar Kawan tidak ikut tertipu, mari kita bedah identitas dua kerabat Porang ini. Tapi sebelum itu, ada rahasia botani mereka yang sering banget bikin heboh satu kampung!
Baca juga: PT Sumber Tani Barokah Indonesia Ponorogo Tertipu Jual Beli Porang
Heboh Penemuan "Bunga Bangkai" di Pekarangan
Pernah lihat berita di TV soal warga yang mendadak heboh memagari pekarangannya karena tumbuh "Bunga Bangkai" langka yang dikira Rafflesia arnoldii?
Plot twist-nya: Itu kemungkinan besar adalah bunga dari keluarga tanaman ini (Porang/Suweg/Walur)! Mereka semua berasal dari genus Amorphophallus. Saat masuk fase generatif, batang dan daunnya tidak ada, berganti menjadi sebuah bunga merah marun keunguan yang menjulang dari tanah dan mengeluarkan bau busuk seperti bangkai tikus. Tujuannya murni untuk memikat lalat hijau agar membantu penyerbukan.
Bayangkan rasa kaget netizen awam saat tahu bahwa tanaman bau bangkai ini umbinya ternyata enak dimakan.
Si Ahli "Mati Suri" yang Menghilang Ditelan Bumi
Pernah lihat pohonnya di kebun, tapi pas musim kemarau tiba-tiba tanamannya hilang tanpa sisa? Jangan dikira mati, Kawan!
Keluarga tanaman ini adalah ahli "mati suri" (hibernasi/dorman). Saat kemarau panjang, batang dan daunnya akan rebah dan hancur menyatu dengan tanah. Sementara itu, umbinya tidur nyenyak di dalam tanah, bersembunyi dari panas.
Begitu tersiram air hujan pertama, boom! Tunasnya akan muncul lagi menyapa dunia.
Bentuknya kayak apa sih? Buat yang jarang ke kebun, visual termudahnya begini: dari jauh, tanaman ini mirip banget sama anak pohon pepaya yang kerdil, tapi batangnya punya corak belang-belang mirip sisik ular. Daunnya sama-sama menjari dan melebar.
Lalu, bagaimana cara membedakan antara Porang si Sultan, Walur si Penipu, dan Suweg si Merakyat?
Kunci pertamanya: cek sela-sela daunnya! Porang punya bintil cokelat alias "katak" (bulbil). Kalau daunnya bersih tanpa katak, itu pasti antara Walur atau Suweg. Mari kita interogasi keduanya.
Baca juga: Weilong dan Yanjin Shop, Dua Produsen Cemilan Porang Terbesar di China
Si Impostor Bikin Rugi Bandar: Walur
Inilah si antagonis kita, Walur (Amorphophallus variabilis). Wujudnya sangat mengecoh karena batangnya halus dan mulus, persis seperti Porang. Warnanya hijau keunguan gelap. Bagi mata awam yang gelap mata ingin kaya, ini pasti langsung dicabut! Tapi begitu umbinya dibelah, warnanya putih kekuningan pucat.
Kandungan glukomanannya nyaris nol, jadi pabrik pasti menolaknya. Parahnya lagi, kandungan senjata mematikannya, jarum gatal kalsium oksalat sangat tinggi!
Zaman dulu, Walur cuma dipakai buat pakan ternak atau terpaksa dimakan saat paceklik (itu pun harus direndam abu gosok berhari-hari biar mulut nggak melepuh).
Si Rakyat Jelata yang Ramah: Suweg
Sekarang kita sambut sang pahlawan ketahanan pangan lokal: Suweg (Amorphophallus paeoniifolius). Daunnya juga bersih tanpa katak, tapi coba raba batangnya. Kalau batangnya terasa kasar atau bergerigi dengan corak loreng abstrak, Kawan sudah menemukan suweg sejati.
Baca juga: PT Fengshuo Konjac Indonesia Bangun Pabrik di Madiun
Suweg ini luar biasa gila. Kalau dibiarkan bersembunyi bertahun-tahun di dalam tanah, ukuran umbinya bisa membesar terus sampai segede tabung gas melon (3 kg) bahkan sebesar ban mobil Begitu dibelah, dagingnya berwarna putih pucat, merah muda, atau sedikit keunguan.
Kandungan kristal gatalnya jauh lebih rendah dan karbohidratnya padat. Kawan tidak butuh teknologi pabrik untuk memakannya. Cukup dikupas, dicuci, lalu dikukus sampai empuk. Taburi sedikit kelapa parut dan sejumput garam.
Teksturnya yang pulen dan ngeprul (mudah hancur di mulut) bikin Suweg jadi camilan ndeso juara buat teman ngopi sore.
Ironi di Dalam Hutan
Melihat mereka rasanya seperti menonton drama dengan plot twist luar biasa dari alam. Tiga tanaman berwajah identik. Yang satu (Porang) jadi komoditas ekspor mahal beracun, yang satu (Walur) jago nge-prank orang yang ingin cepat kaya, dan yang satu lagi (Suweg) si miskin yang ramah, enak dikukus, tapi sering bikin heboh sekampung karena dikira bunga bangkai langka.
Besok-besok kalau nemu tanaman "pepaya kerdil" berbatang belang di pinggir hutan, jangan asal cabut ya. Raba batangnya, cek sela daunnya, dan pastikan Kawan tidak tertipu!
Editor : S. Anwar