Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray (18 Agustus 1922 – 17 Juli 1986) bukan sekadar nama dalam sejarah Kalimantan Barat. Ia adalah simbol kebangkitan masyarakat Dayak, seorang guru yang bertransformasi menjadi pejuang politik dan pemimpin daerah, serta Gubernur Kalimantan Barat pertama dari suku Dayak. Perjalanan hidupnya mencerminkan semangat perjuangan, kecerdasan politik, dan keberanian melawan diskriminasi etnis yang mengakar di masa kolonial.
Lahir di Tanjung Kuda, Melapi I, Kapuas Hulu, Oevaang Oeray berasal dari keluarga petani ladang berpindah. Ayah dan ibunya, Ledjo dan Hurei, adalah penoreh karet yang hidup sederhana namun menjunjung tinggi pendidikan dan nilai iman Katolik. Dari kehidupan pedalaman inilah semangat juang dan empati sosial Oevaang tumbuh ia menyaksikan ketertinggalan dan keterpinggiran bangsanya, suku Dayak, di tengah hegemoni kolonial dan kekuasaan bangsawan Melayu.
Baca juga: Klarifikasi dari Rimba Group atas Penyalahgunaan Tarian Hudoq
Dari Guru Menjadi Penggerak Kebangkitan Dayak
Sebelum terjun ke dunia politik, Oevaang Oeray adalah seorang guru sekolah Katolik. Namun, panggilan jiwanya jauh melampaui ruang kelas. Tahun 1941, ia menulis surat terbuka yang mengguncang kesadaran para guru Katolik se-Kalimantan Barat. Dalam surat itu, ia menyerukan agar masyarakat Dayak bangkit memperjuangkan nasib mereka melalui organisasi politik.
Seruan ini melahirkan gerakan Dayak In Action (DIA), yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Partai Persatuan Dayak (PPD) pada 1 November 1945 hanya dua bulan setelah Indonesia merdeka. PPD menjadi wadah pertama bagi masyarakat Dayak untuk bersuara di kancah nasional.
Gubernur Dayak Pertama di Kalimantan Barat
Perjuangan Oevaang Oeray menuntunnya hingga ke tampuk kekuasaan. Ia dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Barat pada 30 Januari 1960, menjadikannya gubernur pertama dari suku Dayak.
Masa kepemimpinannya ditandai dengan semangat pemerataan dan pengangkatan martabat suku Dayak yang selama berabad-abad terpinggirkan. Namun, langkahnya tak selalu mulus kebijakannya menimbulkan kecemburuan sosial dan ketegangan antar-etnis, terutama antara Dayak dan Melayu.
Baca juga: Legenda Bunsu Rusa yang Turun Temurun di Suku Dayak Iban
Sebagai tokoh nasionalis, Oevaang Oeray dikenal dekat dengan Presiden Soekarno dan sempat bergabung dengan Partindo, partai berhaluan kiri nasionalis. Namun, setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), ia difitnah sebagai simpatisan komunis. Padahal, laporan resmi Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa ia bukan bagian dari PKI, melainkan seorang nasionalis sejati yang memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyatnya.
Meski demikian, tekanan politik di era Orde Baru membuatnya diberhentikan secara hormat oleh Menteri Dalam Negeri Basuki Rahmat pada 12 Juli 1966. Ia kemudian hidup dalam bayang-bayang fitnah hingga akhir hayatnya.
Akhir Hayat dan Warisan Perjuangan
Oevaang Oeray meninggal dunia di Pontianak pada 17 Juli 1986. Ia meninggalkan warisan yang abadi semangat untuk memerdekakan hati dan pikiran masyarakat Dayak, serta perjuangan untuk kesetaraan dan kebebasan beragama di tanah Borneo.
Baca juga: Amarah Warga Dayak Setelah Hudoq Dipentaskan di Sound Horeg
Ia pernah berkata bahwa kedaulatan setiap agama harus dijaga, dan negara tidak boleh mencampuri urusan keimanan rakyatnya. Sebuah pandangan yang jauh melampaui zamannya.
Warisan Seorang Putra Borneo
Oevaang Oeray dikenang bukan hanya sebagai gubernur, tetapi juga simbol kebangkitan identitas Dayak di Indonesia. Ia membuka jalan bagi generasi baru dari pedalaman Kalimantan untuk percaya bahwa mereka juga bisa berdiri sejajar di panggung nasional. (*)
Editor : Bambang Harianto