Amarah Warga Dayak Setelah Hudoq Dipentaskan di Sound Horeg
Amarah warga Dayak Kalimantan membuncah setelah tahu tarian hudoq yang dianggap mereka sakral, dipentaskan di salah satu festival sound horeg di Jawa Timur. Pembawa tarian tersebut seakan asal membawakan tanpa tahu esensi dari kesakralan tarian hudoq.
“Bisa-bisanya Hudoq yang kami anggap sakral malah dibuat festival horeg? Tanpa izin, tarian salah. Ada-ada saja memang kelakuan pulau seberang. Minimal riset dulu kalau mau pakai budaya kami. Mana yang boleh digunakan secara umum dan mana yang sakral!” tulis akun Kalimantrans menanggapi video taria hudoq yang dibawakan di festival sound horeg di Jawa Timur tanpa menyebut detail nama daerahnya.
Amarah warga Dayak Kalimantan atas kejadian itu sangat berasalan. Hudoq bagi orang Dayak, mengandung kesakralan. Tidak semua orang mampu membawakannya. Jika dibawakan secara asal-asalan, maka bisa menciderai nilai luhur warisan budaya masyarakat Dayat Kalimantan.
Tari hudoq adalah tari topeng ritual tradisional yang berasal dari Suku Dayak di Kalimantan Timur, khususnya Suku Dayak Bahau, Dayak Kenyah, dan Dayak Ga’ay. Setiap hentakan langkah Hudoq dari Dayak Bahau bukan hanya gerak tari, tapi gema doa leluhur untuk bumi.
Dengan topeng babi hutan, ukiran khas, dan hiasan daun yang melambangkan kesuburan, tarian ini hadir sebagai penjaga padi dari hama sekaligus pembawa harapan akan panen berlimpah. Hudoq Babi adalah suara tradisi, kekuatan, dan ikatan abadi antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Sejarah hudoq
Tarian sakral ini pada mulanya diadakan sebagai bagian dari upacara adat saat memulai musim tanam atau setelah panen (seperti upacara Laliq Ugal atau Nebeeq Rau), biasanya pada bulan September hingga Oktober. Fungsi utama Hudoq adalah untuk memohon berkat dari Sang Pencipta dan roh leluhur agar tanaman padi tumbuh subur, panen melimpah, dan masyarakat terlindung dari gangguan hama serta roh-roh jahat.
Para penari, yang seringkali berjumlah sebelas, mengenakan topeng kayu yang dinamakan hudoq—berarti 'menjelma'—serta kostum dari dedaunan (seperti daun pisang atau daun kelapa) yang melambangkan kesuburan dan kesejukan.
Topeng hudoq memiliki rupa yang beragam, melambangkan penjelmaan roh dan dewa yang diyakini turun ke bumi untuk membawa keberkahan dan mengusir roh pengganggu tanaman, seperti roh berbentuk babi (Hudoq Urung Bavui).
Topeng Hudoq ini dibuat dari kayu dan diukir menyerupai binatang seperti babi, kera, dan rusa, atau bahkan roh leluhur dan dewa. Topeng ini diyakini sebagai perwujudan roh-roh pelindung yang datang untuk membantu manusia.
Gerakan tarian Hudoq ini didominasi oleh hentakan kaki yang kuat dan putaran perlahan, diiringi oleh musik tradisional seperti gong dan gendang, dengan lirik nyanyian yang mengandung doa dan cerita mitos.
Gerakan ini dipercaya berfungsi untuk mengusir hama dan roh jahat dari ladang. Penari juga seringkali berputar-putar, yang dimaknai sebagai gerakan membuang kesialan dan meraih kebaikan.
Meskipun berakar pada ritual spiritual, seiring perkembangan zaman, Tari Hudoq juga sering dipentaskan sebagai seni pertunjukan untuk memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Dayak, serta menjadi daya tarik dalam festival-festival kebudayaan.
Tarian Hudoq ini memuat filosofi mendalam mengenai keharmonisan antara manusia dan alam, sekaligus menjadi simbol identitas budaya Dayak. (*)
Editor : S. Anwar