Legenda Bunsu Rusa yang Turun Temurun di Suku Dayak Iban
Kisah Bunsu Rusa telah melegenda di Suku Daya Iban. Turun temurun. Kisah yang hadir ratusan tahun lalu, dan sampai sekarang masih lestari.
Suku Dayak Iban adalah salah satu suku tertua di Pulao Borneo (Kalimantan). Mereka berasal dari hulu sugai Kapuas, Kalimantan Barat, dan sebagian berasal dari kawasan yang kini menjadi Sarawak, Malaysia.
Ratusan tahun lalu, leluhur Iban menyusuri sungai untuk mencari tanah subur. Mereka akhirnya menetap di pedalaman hutan Kalimantan dan hidup berdampingan dengan alam. Dan dalam tradisi Dayak Iban, dikenal dengan legendanya ”Bunsu Rusa”.
Kisahnya, konon, dahulu kala di kampung Suku Dayak Iban, yang dikelilingi sungai jernih, hiduplah seorang gadis muda bernama Dara Lintang. Dia terkenal elok parasnya, ramah tutur katanya. Dan sering pergi ke tepi sungai untuk menumbuk padi atau mencuci kain.
Suatu hari ketika matahari hampir tenggelam, dan cahaya jingga memantau di permukaan air, Dara Lintang melihat sesuatu berkilau di dasar sungai. Dia menyelam dan menemukan sebuah cincin indah bertahtakan batu permata. Tanpa berpikir panjang, Dara Lintang menyelipakan cincin itu ke jari manisnya.
Malam harinya ketika Dara Lintang tertidur, Dara Lintang bermimpi aneh. Seekor rusa bertanduk emas mujo berubah wujud menjadi seorang pamuda tampan dengan mata seteduh hutan.
Dia memperkenalkan diri sebagai Bunsu Rusa. Roh penjaga hutan yang sakral. Dengan suara dalam, Bunsu Rusa berkata, “Engkau telah memakai cincin kawin milikku. Mulai malam ini engkau adalah permaisuriku”.
Sejak saat itu, Dara Lintang sering melamun. Tubuhnya ada di rumah tapi jiwanya seolah dibawa pergi. Kadang ia berjalan sendiri di hutan. Matanya kosong, bibirnya berbisik nama yang tak dimengerti keluarganya.
Orang kampung mulai berbisik mengatakan bahwa Dara Lintang sudah diambil roh. Ayah dan ibu Dara Lintang sangat gelisah. Mereka tahu hanya seorang Manang, perantara dunia manusia dan roh yang bisa menolong. Maka dipanggillah seorang Manang tua yang sudah puluhan tahun menjalankan ritual sakral.
Dalam upacara penuh asap kemenyan, Manang itu memukul gong kecil, menyanyikan mantra, dan berjalan mengelilingi Dara Lintang.
Manang memangil roh leluhur, memohon izin kepada para Dewa dan menantang Bunsu Rusa untuk melepaskan Dara Lintang.
Suara gaib terdengar dari dalam diri Dara lintang, keluar suara bukan suaranya sendiri. Lirih, namun menggema, “Dia milikku. Cincin itu tanda pengikat.”
Manang menjawab tegas, “Dia adalah anak manusia. Engkau dari alammu, dia dari alam manusia. Biarkan cinta hanya menjadi kenangan. Jangan jari jerat”.
Pertarungan batinpun terjadi.
Gong dipukul semakin keras, doa-doa dilantunkan makin cepat hingga akhirnya cincin di jari Dara Lintang tiba-tiba terlepas sendiri dan jatuh ke tanah.
Saat itu juga, Dara Lintang menjerit dan ambruk. Seakan roh yang mengikatnya terputus.
Dara Lintang sadar kembali dengan wajah pucat dan mata yang bening. Cincin itu diambil Manang, dan dilempar ke sungai tempat asalnya. Sejak saat itu, Dara Lintang terbebas meski dalam tidurnya, dia mendengar suara rusa bertanduk yang memanggil namanya dari jauh.
Legenda Bunsu Rusa ini diceritakan turun temurun. Diiringi hadirnya lagu Bunsu Rusa. Lagu Bunsu Rusa diciptakan bukan sekadar melodi indah, tapi nyanyian yang menyimpan kisah cinta gaib antara roh suci hutan dan seorang gadis manusia.
Lirik lagu Bunsu Rusa sebagai berikut :
Aku miau sida panggau (Aku berseru di panggung malam)
Petara Raja penjaga kami (Dewa raja penjaga kami)
Aku tu miau beamat amat (Dengan sepenuh hari aku memanggil)
Ngagau ka semengat jauh pegi (Mencari semngat yang jauh melayang)
Aki Manang belian (Wahai aki Manang belian/tabib penyembuh)
Pulai semengat pulai (Kembalikanlah semangat yang hilang)
Kalih mata bunsu atu (Palingkan pandangan, roh penunggu)
Anang ngacau anak kami (Jangan ganggu anak kami)
Reef
Aki Manang belian (Wahai aki Manang belian/tabib penyembuh)
Pulai semengat pulai (Kembalikanlah semngat yang hilang)
Kalih mata bunsu atu (Palingkan pandangan, roh penugggu)
Anang ngacau anak kami (Jangan ganggu anak kami)
Ref
Cukup beruntung Meh Dara (Berapa beruntung Seorang Gadis)
Tetemu ka intan curak chiru (Menenukan intan bening bercahaya)
Maia ia mansai silau air (Bersinar terang dari hulu sungai)
Ba kerangan sungai batu (Di tebing batu yang keras)
Reef
Terima kasih oh Petara Raja (Terima jasih wahai Dewa Raja)
Ngajih ka mai tuah belimpah (Engkau limpahka rezeki berkat)
Intan chiru nyadi ka cincin (Intan benin menjadi cincin)
Dirasuk ba jari manis dara (Terselip di jari manis sang gadis)
Tang nyelai malam tuk (Namun malam itu pun datang)
Kudi ari ribu bepuput nganu (Disertai badai yang menderu)
Ujang berengkah neritic labuh (Hujan deras jatuh berderai)
Ngasuh bebungkur tinduk tumu (Membawa tidur ke dalam mimpi yang pekat)
Reef
Dalam mimpi ia tepeda (Tampaklah dalam mimpi itu)
Lelaki sigat bertanduk rusa (Seorang lelaki bertanduk rusa)
Tubuh bebulu nyelir lida (Tubuh berbulu, lidah menjulur)
Ya takut lalu nyerauh (Menakutkan, meraung keras)
Reef
Dalam mimpi ia tepeda (Tampaklah dalam mimpi itu)
Lelaki sigat bertanduk rusa (Seorang lelaki bertanduk rusa)
Tubuh bebulu nyelir lida (Tubuh berbulu, lidah menjulur)
Ya takut lalu nyerauh (Menakutkan, meraung keras)
Reef
Ia ngerasuk cincin siti (Dia menyematkan cincin bercahaya)
Sebaka gamal intan chiru (Dari intan bening yang berkilau)
Lalu madah mai dara jadi (Lalu berkata pada sang gadis)
Dara bisu nda nemu bejaku (Sang Dara bisu, hilang suara)
Reef
Bujang lalu berubah gamal (Seorang pemuda lalu berubah menjadi rusa)
Gamal sigat nyau bebali (Rusa itu lalu berlari kembali/ke tempat asalnya)
Tanduk mansul belubah pansut (Tanduk yang tumbuh berubah bentuk)
Dara tagepang berengkeh lemi (Gadis yang dipinang mulai pergi)
Reef
Aki manang belian (Kakek dukun/penyembuh)
Pulai semengat pulai (Panggil kembali semangat/jiwa yang pergi)
Kalih mata bunsu atu (Palingkan pandangan, roh penunggu)
Anang ngacau anak kami (Jangan ganggu anak kami)
Reef
Aki Manang belian (Kakek Dukun/penyembuh)
Pulai semengat pulai (Panggil kembali semangat/jiwa) yang pergi)
Kalih mata bunsu atu (Palingkan pandangan, roh penunggu)
Anang ngacau anak kami (Jangan ganggu anak kami)
Reef
Dalam mimpi ia tepeda (Tampaklah dalam mimpi itu)
Lelaki sigat bertanduk rusa (Seorang lelaki bertanduk rusa)
Tubuh bebulu nyelir lida (Tubuh berbulu, lidah menjulur)
Ya takut lalu nyerauh (Menakutkan, meraung keras)
Reef
Cincin intan bebali churak (Cincin intan pecah retak)
Ari intan bebali runtan (Berkilau hancur di tanah)
Nuan bujang bunsu rusa (Bukan manusia, melainkan roh)
Nuan jelu ukai mensia (Bukan manusia, melainkan roh)
Reef
Manang belian mau ku pulai (Wahai/tabib penyembuhan, pulangkanlah)
Ngalih ka mata bunsu antu (Usirlah roh jahat yang mengintai)
Pala unchung anak mensa (Lindungi jiwa anak manusia)
Minta terabai petara raja (Kami mohon pada Dewa Raja)
Reef
Dalam mimpi dara tepedak (Dalam mimpi sang gadis melihat)
Lelaki sigat tinggi burak (Seorang lelaku bertubuh tinggi)
Ngelambai jari ya tuchum (Melambai jemari penuh cahaya)
Ngasuh tekait belabuh rindu (Mengikat rindu dalam sukma)
Reef
Cincin intan bebali churak (Cincin intan mulai retak)
Ari intan bebalu runtan (Berkilau hancur di tanah)
Nuan bujang bunsu rusa (Bukan mnusia, melaikan roh)
Nuan jelu ukai mensia (Bukan manusia, melainkan roh).
Makna lagu Bunsu Rusa
Bunsu Rusa berarti anak bungsu rusa dalam Bahasa Dayak Iban. Lagu ini menceritakan kisah mistis dari mitologi Iban tentang seorang gadis muda yang menemukan cincin berlian, yang indah di sebuah sungai.
Tanpa di sadari, cincin itu adalah cincin pernikahan dari roh rusa bertanduk, yang di sebut"Bunsu Rusa". Ketika gadis itu memakai cincin tersebut, roh ilahi datang untuk menikahinya dalam wujud gaib, yang menyebabkan arwahnya seakan-akan hilang ke alam spiritual.
Untuk mengembalikan arwahnya, keluarganya meminta bantuan "Manang" seorang perantara spiritual yang bisa berkomunikasi dengan Dewa Dewa Cerita yang menghantui. Namun indah ini, dihidupkan melalui melodi yang mendalam dan sentuhan tradisional, menjadikan lagu. (*)
Editor : S. Anwar