Sejak masa-masa awal Islam, Allah Ta‘ala telah mengingatkan umat-Nya agar selalu waspada terhadap makar musuh—baik dari kaum kafir yang terang-terangan memusuhi, maupun dari golongan munafik yang menyembunyikan permusuhan di balik wajah yang tampak saleh. Di antara ujian terbesar dalam sejarah umat adalah upaya segelintir musuh untuk mencuri jenazah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dari dalam makam beliau yang mulia. Bahayanya tidak kalah besar dengan pengkhianatan kaum munafik pada masa Nabi.
Pada abad ke-6 Hijriah, Allah memilih dua hamba-Nya untuk menjaga kehormatan pusara Rasulullah. Mereka adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi dan gurunya yang mulia, Sultan Nuruddin Mahmud Zanki—penguasa Syam yang dikenal sangat takut kepada Allah, zuhud, dan adil. Nuruddin Zanki—yang kelak menjadi inspirasi Salahuddin—adalah panglima besar Islam yang berhasil memukul mundur pasukan Salib dalam Perang Salib I dan meletakkan fondasi bagi pembebasan Al-Quds yang dilakukan muridnya.
Baca juga: Kisah Ummu Mutiah yang Sempat Membuat Fatimah Az Zahra Cemburu
Mimpi itu Datang…
Dalam kitab Beberapa Bagian dari Sejarah Madinah karya Ali Hafidh, dikisahkan sebuah peristiwa agung yang terjadi pada masa kepemimpinan Nuruddin.
Pada suatu malam, ketika dunia terlelap, Sultan Nuruddin bermimpi bertemu Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Dalam mimpinya, wajah Nabi tampak sangat jelas, bersinar, dan penuh wibawa. Beliau memanggilnya berkali-kali dengan suara yang membuat hati bergetar:
“Wahai Nuruddin… bangkitlah. Segeralah pergi ke Madinah. Ada dua orang berkulit putih yang hendak menyakiti aku.”
Sultan tersentak bangun. Nafasnya memburu. Ia merasakan mimpi itu bukan mimpi biasa. Ia segera berwudhu, menunaikan beberapa rakaat shalat, lalu kembali merebahkan diri.
Dalam tidur yang kedua, mimpi itu datang kembali—lebih kuat, lebih jelas, lebih mendesak. Rasulullah memanggilnya dengan kata-kata yang sama.
Nuruddin bangun lagi, semakin gelisah. Ia kembali berwudhu, shalat, lalu tidur. Untuk ketiga kalinya mimpi itu datang, kali ini dengan kejernihan seolah-olah beliau berdiri tepat di hadapannya.
Tidak mungkin ini mimpi biasa. Hatinya yakin, itu adalah isyarat dari langit.
Perjalanan 16 Hari yang Mengubah Sejarah
Keesokan paginya, Sultan memanggil tangan kanannya yang paling ia percayai, seorang menteri alim dan rendah hati bernama Jamaluddin Al-Muwashshali. Setelah mendengar cerita tersebut, Jamaluddin hanya berkata:
“Berangkatlah segera ke Madinah. Dan jangan ceritakan mimpi ini pada siapa pun.”
Tanpa menunda waktu, Sultan mengumpulkan seribu pasukan berkuda terbaik, membawa perbekalan dan harta yang banyak. Ia menempuh perjalanan panjang selama 16 hari dari Syam menuju Madinah, tanpa berhenti kecuali untuk shalat dan kebutuhan mendasar.
Tatkala rombongan itu tiba di Madinah Al-Munawwarah, Sultan segera berjalan menuju Masjid Nabawi. Ia masuk ke Raudhah yang mulia, lalu duduk lama di depan makam Rasulullah. Ketundukan dan getaran cinta terlihat jelas dari wajahnya. Ia bermunajat, memohon petunjuk dari Allah, dan memohon ampun bila ada kekurangan dalam menjaga agama dan kehormatan Nabi.
Pencarian Dua Lelaki
Keluar dari makam Rasul, Sultan segera memerintahkan agar seluruh penduduk Madinah dikumpulkan: para penduduk lokal, pedagang, musafir, dan para peziarah yang tinggal di sekitar Masjid Nabawi.
Ia memberikan hadiah kepada setiap orang yang hadir. Bukan semata-mata hadiah—tetapi cara halus untuk melihat setiap wajah, berharap menemukan dua orang yang Rasulullah tunjukkan dalam mimpinya.
Namun setelah pemberian selesai, ia tidak menemukan keduanya.
Sultan pun bertanya kepada penduduk:
“Apakah ada orang yang belum menerima hadiah?”
Baca juga: Begini Cara Dzu as Suwaiqatain Robohkan Kabah di Akhir Zaman
Mereka menjawab:
“Tidak ada, kecuali dua orang dari Andalusia. Keduanya tidak mau mengambil apa-apa karena tengah tenggelam dalam ibadah di Raudhah.”
Sultan bertanya lagi:
“Bagaimana warna kulit mereka?”
Penduduk menjawab:
“Putih kemerahan.”
Merindinglah Sultan Nuruddin. Ciri itu sama persis seperti dalam mimpinya.
Terungkapnya Kedok Dua "Peziarah"
Kedua “peziarah Andalusia” itu akhirnya dibawa ke hadapan Sultan. Wajah mereka tampak gelisah. Jawaban mereka berbelit-belit, tidak meyakinkan. Mereka mengaku sebagai Muslim yang datang untuk berziarah.
Namun Nuruddin, dengan firasat mukmin yang kuat, merasakan ada yang tidak beres.
Untuk memastikan, keduanya diperiksa lebih jauh. Mereka dibawa ke tempat tertutup. Saat celana mereka dibuka, terbongkarlah semuanya—keduanya tidak berkhitan, tanda jelas bahwa mereka bukan Muslim.
Baca juga: Kisah Wafatnya Fatimah Az Zahra yang Tak Lama setelah Rasulullah
Maka dengan tekanan interogasi, mereka akhirnya mengaku.
Mereka adalah agen tentara Salib (dalam riwayat lain disebut dari kalangan Yahudi), yang diutus oleh raja mereka dengan satu misi: mencuri jasad Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dari makamnya yang mulia.
Terowongan Rahasia itu…
Selama berbulan-bulan, mereka tinggal di Madinah, berpura-pura menjadi zahid dan ahli ibadah. Mereka menempati sebuah rumah kecil dekat sisi kiblat Masjid Nabawi. Dari rumah itu, pada waktu malam, mereka menggali tanah sedikit demi sedikit, membuat terowongan menuju makam Nabi.
Dengan kedalaman dan keseimbangan struktur tertentu, mereka hampir mencapai dinding makam dari bawah tanah. Tinggal beberapa hari lagi usaha itu berhasil—sebelum Allah mengirim “penjaga” pilihan-Nya melalui mimpi.
Hukuman dan Upaya Perlindungan Abadi
Keduanya kemudian dihukum mati sesuai hukum khianat dan spionase terhadap umat Islam. Jasad mereka dibakar di luar Masjid Nabawi sebagai bentuk kehinaan dan peringatan bagi siapa pun yang berniat jahat terhadap makam Rasulullah.
Namun Sultan tidak berhenti di situ.
Untuk mencegah kejadian serupa, ia memerintahkan agar seluruh area sekitar makam Rasulullah digali sangat dalam, lalu dituangkan cairan tembaga panas hingga membeku dan mengeras seperti batu. Perlindungan ini menjadikan dasar-dasar makam Rasulullah mustahil digali atau ditembus, baik dari atas maupun dari bawah tanah.
Inilah mengapa hingga hari ini, makam Rasulullah terlindungi oleh lapisan tembaga tebal yang dibuat pada masa Sultan Nuruddin Mahmud Zanki—seorang pemimpin yang Allah pilih untuk menjaga kehormatan Nabi-Nya. (*)
Editor : Bambang Harianto