Siapa sangka, sebuah jurus ikonik dari dunia anime fiksi bisa menjadi inspirasi lahirnya teknologi canggih yang digunakan oleh satelit di seluruh dunia? Di tangan Dr. Eng. Khoirul Anwar, S.T., M. Eng., imajinasi masa kecil itu berubah menjadi rumus matematika jenius yang memecahkan masalah besar dalam dunia komunikasi nirkabel (wireless) modern.
Pria kelahiran Kediri, 22 Agustus 1978 ini bukanlah lahir dari keluarga konglomerat atau akademisi ternama. Ia adalah seorang anak petani yang tumbuh dalam kesederhanaan di pedesaan Jawa Timur. Namun hari ini, dunia internasional mencatat namanya sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh di bidang telekomunikasi digital.
Baca juga: Siti Nurhayati Sukses Bertani Kemangi Beromset Puluhan Juta Per Bulan
Perjuangan Anak Petani dari Kediri
Latar belakang ekonomi yang terbatas tidak pernah menyurutkan langkah Khoirul Anwar. Mengawali pendidikan di SDN Juwet 2 (lulus 1990), SMPN 1 Kunjang (lulus 1993), dan SMAN 2 Kediri (lulus 1996), otaknya yang encer selalu menonjol di antara teman-temannya.
Jalan menuju panggung dunia terbuka lebar ketika ia berhasil menembus Departemen Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan lulus dengan predikat cum laude pada tahun 2000. Gairah risetnya yang tinggi membawa Khoirul terbang ke Jepang. Melalui perjuangan keras, ia sukses merengkuh gelar Magister (2005) dan Doktoral (2008) dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST).
Kejeniusannya diakui di Negeri Sakura hingga ia dipercaya menduduki posisi terhormat sebagai Asisten Profesor di Japan Advanced Institute for Science and Technology (JAIST) pada periode 2008-2016.
Menghilangkan "Benteng Pemboros Data" Lewat Inspirasi Dragon Ball
Dalam sistem komunikasi nirkabel konvensional yang dinamakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM), ada sebuah komponen yang disebut Cyclic Prefix (CP) atau Guard Interval (GI). Komponen ini bertindak seperti "benteng perisai" untuk melindungi sinyal agar tidak rusak akibat pantulan gedung, delay, atau interferensi (derau).
Sialnya, benteng ini sebenarnya sangat memboroskan data dan energi karena ia tidak membawa informasi apa pun—hanya duplikasi simbol yang berulang-ulang. Banyak ilmuwan dunia menyerah dan menganggap pemborosan ini sebagai hal yang wajib ada demi menjaga keamanan sinyal.
Namun, Dr. Khoirul Anwar berpikir berbeda. Bersama timnya, ia merumuskan sebuah konsep ekualisasi berantai yang radikal bernama Chained Turbo Equalization (CHATUE). Dengan algoritma ini, komponen pemboros (CP/GI) tadi bisa dipangkas hingga nol tanpa merusak kualitas sinyal sama sekali!
Baca juga: Kisah Sukses Qomaruzzaman, Petani Melon yang Terlahir Tanpa Tangan
Saat ditanya dari mana formula rumit itu lahir, Dr. Khoirul memberikan jawaban yang mengejutkan dunia akademis.
"Saya terinspirasi dari proses pengumpulan energi Genki Dama (Bola Semangat) dalam serial animasi Dragon Ball. Di film itu, Son Goku mengumpulkan energi yang terserak dari berbagai penjuru alam untuk menjadi satu kekuatan raksasa. Saya berpikir, mengapa kita tidak mengumpulkan dan memanfaatkan energi sinyal yang terserak di awal dan akhir blok data saja untuk memperkuat dirinya sendiri?" jelasnya.
Gebrakan "Genki Dama" ini membuahkan hasil luar biasa. Sinyal menjadi jauh lebih bersih, penggunaan spektrum menjadi sangat efisien, dan konsumsi energi transmisi bisa ditekan secara drastis. Berkat riset ini, ia dianugerahi penghargaan elit Young Scientist Encouragement Award pada ajang IEEE Vehicular Technology Conference (VTC) 2010-Spring di Taiwan.
Diadopsi Menjadi Standar Internasional dan Dipakai di Satelit
Tidak main-main, teknik transmisi nirkabel yang dikembangkan Dr. Khoirul menggunakan dua transformer matematis (Inverse Fast Fourier Transformer dan FFT) ini langsung dipatenkan. Keandalannya yang teruji membuat Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU)—badan resmi di bawah Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)—mengadopsinya sebagai standar global untuk komunikasi multi-carrier.
Baca juga: Kisah Slamet Nuryono, Dari Petani Miskin, Kini Jadi Juragan Kangkung
Kini, paten dari anak petani Kediri tersebut digunakan secara masif di bumi dan di ruang angkasa untuk sistem komunikasi nirkabel berkecepatan tinggi serta transmisi sinyal satelit internasional.
Pulang Kampung demi Membangun Negeri
Setelah kenyang memanen prestasi dan mengajar selama bertahun-tahun di Jepang, jiwa nasionalisme memanggil Dr. Khoirul Anwar untuk pulang ke Indonesia. Ia memilih melabuhkan pengabdiannya di Universitas Telkom, Bandung.
Kini, ia aktif sebagai dosen sekaligus menjabat sebagai Direktur Center for Advanced Wireless Technologies (AdWiTech). Di pusat studi inilah, Dr. Khoirul membimbing talenta-talenta muda Indonesia untuk melahirkan inovasi teknologi nirkabel masa depan. Kisahnya adalah bukti nyata bagi seluruh anak bangsa: bahwa sebuah impian yang dibarengi kerja keras—bahkan yang berawal dari sekadar tontonan kartun masa kecil—bisa mengguncang dunia. (*)
Editor : S. Anwar