Bagi masyarakat Indonesia, kalimat "Empat Sehat Lima Sempurna" bukan sekadar untaian kata biasa. Slogan ini telah menjadi doktrin kesehatan paling sukses sepanjang sejarah tanah air, yang menuntun jutaan keluarga memahami pentingnya gizi sejak masa awal kemerdekaan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa di balik rumusan piring makan ideal tersebut, ada dedikasi seumur hidup dari seorang dokter genius bernama Prof. Poorwo Soedarmo.
Oleh para murid dan sejawatnya, pria kelahiran Malang, 20 Februari 1904 ini akrab disapa dengan inisial "PS". Merujuk pada buku biografi resminya, nama depannya ditulis menggunakan ejaan "oo", meskipun generasi berikutnya di era 90-an kerap menulisnya dengan ejaan "Poerwo" atau "Purwo". Beliau bukan sekadar dokter biasa, melainkan sang perintis yang dinobatkan sebagai Bapak Ilmu Gizi Indonesia—tokoh besar yang sejajar dengan bapak gizi dunia, Antoine Lavoisier di Prancis, atau Wilbur Atwater di Amerika Serikat.
Baca juga: Ketua IDAI Dilarang Kementerian Kesehatan dan RSCM untuk Melayani Pasien BPJS
Dari Dokter Tambang Bangka Menuju Harvard dan Columbia
Perjalanan Prof. Poorwo di dunia medis dimulai saat ia lulus dari sekolah kedokteran era Hindia Belanda, STOVIA, pada tahun 1927. Di awal kariernya, ia sempat mengabdi sebagai dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin di Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (sekarang RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo) di Batavia.
Jiwa pengabdiannya yang tinggi membawa PS merantau ke Toboali, Pulau Bangka. Di sana, ia mengemban tugas sebagai dokter perusahaan tambang Bangka Tin Winning. Menariknya, PS tidak membatasi jasanya hanya untuk pekerja tambang; ia dengan sukarela membuka pintu pengobatan bagi seluruh penduduk lokal di sekitar wilayah terpencil tersebut.
Pasca-kemerdekaan, arah hidupnya berubah total ketika ia mulai jatuh cinta pada ilmu gizi—sebuah cabang ilmu yang kala itu masih sangat asing di Indonesia. Demi mendalami disiplin baru tersebut, PS melanglang buana ke berbagai pusat riset top dunia:
Post Graduate Institute, London (1949)
Institute of Nutrition, Manila (1950)
School of Public Health and Nutrition, Harvard University (1954–1955)
Baca juga: Akun Praktik BPJS Dibekukan di RSCM, dr Piprim Sebut Sebagai Dampak Melawan Kementerian Kesehatan
Institute of Nutrition Sciences, Columbia University, New York (1960)
Sekembalinya ke tanah air, pada tahun 1958, Prof. Poorwo Soedarmo dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama Ilmu Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sekaligus mendirikan Bagian Ilmu Gizi Pertama di kampus tersebut. Atas dedikasi akademisnya yang tiada tara, FKUI menganugerahinya gelar Doctor Honoris Causa pada tahun 1975.
Efek Magis "Empat Sehat Lima Sempurna" dan Institusi Gizi Nasional
Saat menjabat sebagai Direktur Lembaga Makanan Rakyat (LMR) Kementerian Kesehatan (1952–1959), Prof. Poorwo menghadapi tantangan berat berupa tingginya angka kurang gizi dan busung lapar di tengah masyarakat yang baru merdeka. Sadar bahwa teori ilmiah yang rumit tidak akan dipahami akar rumput, pada tahun 1950-an ia meluncurkan slogan jenius: "Empat Sehat Lima Sempurna" (Nasi, Lauk-Pauk, Sayur, Buah, plus Susu sebagai penyempurna).
Slogan praktis ini menjadi senjata utama LMR dalam mengedukasi publik. Efeknya luar biasa. Memasuki awal tahun 1960-an, masyarakat luas hingga pembuat kebijakan mulai melek gizi.
Baca juga: Kemenkes RI dan Philips akan Memulai Pelaksanaan Penyediaan Cathlab
Selain formula piring makan, visi jangka panjang PS mewujud pada pendirian "Akademi Ahli Diit dan Nutrisionis" (yang kemudian bertransformasi menjadi Akademi Gizi) untuk mencetak barisan ahli gizi pertama di Indonesia. Tak hanya itu, pada tahun 1957, ia menjadi pelopor pertama yang memperkenalkan ilmu "Home Economics" di Indonesia, yang kini kita kenal luas sebagai Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK).
Penghormatan Terakhir di Kalibata
Meskipun seiring perkembangan zaman dan ilmu kedokteran mutakhir, slogan "Empat Sehat Lima Sempurna" kini telah diperbarui menjadi pedoman "Gizi Seimbang", cetak biru pemikiran Prof. Poorwo Soedarmo tidak akan pernah usang. Tiap negara memiliki pahlawan gizinya sendiri—seperti Gopalan di India atau Aree Valyasevi di Thailand—dan bagi Indonesia, sosok itu adalah PS.
Sang begawan kesehatan mengembuskan napas terakhirnya pada 13 Maret 2003 di usia yang sangat sepuh, 99 tahun. Atas jasa-jasa besarnya yang telah menyelamatkan jutaan generasi penerus bangsa dari ancaman malnutrisi, jenazah Prof. Poorwo Soedarmo dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta. Warisannya akan terus hidup di setiap helai kampanye kesehatan publik di tanah air. (*)
Editor : S. Anwar