Nama Prof. Dr. Satrio "Billy" Budihardjo Joedono menduduki posisi terhormat dalam sejarah perekonomian dan birokrasi Indonesia. Pria kelahiran 1 Desember 1932 yang tutup usia pada 16 April 2017 ini dikenal luas sebagai seorang ekonom ulung, akademisi, sekaligus tokoh publik yang telah malang melintang di berbagai posisi strategis negara.
Alumnus Kolese Kanisius ini juga tercatat aktif sebagai anggota Dewan Pembina di The Habibie Center hingga akhir hayatnya.
Baca juga: Ngaku Dekat Pejabat BPK, Putra Anggota Polsek Galis Tipu Tersangka Korupsi
Dari Kursi Kabinet hingga Korps Diplomatik
Karier cemerlang Billy Joedono di ranah pemerintahan dimulai saat ia dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada periode 1993–1995. Namun, dinamika politik dan efisiensi birokrasi kala itu membuat perjalanannya di Departemen Perdagangan harus terhenti lebih cepat.
Presiden Soeharto memutuskan untuk melebur Departemen Perdagangan dengan Departemen Perindustrian menjadi satu atap, yakni Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Imbas dari penggabungan ini, posisi menteri dipercayakan kepada Menteri Perindustrian yang menjabat saat itu.
Baca juga: Audit Pembangunan Gedung B Islamic Center Gresik, Ditemukan Dugaan Korupsi
Tak berhenti di situ, kepiawaian Billy dalam berkomunikasi dan memahami konstelasi global membuatnya didelegasikan ke luar negeri. Ia dikirim ke Paris untuk mengemban tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, memperkuat hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara.
Mengawal Transparansi di Era Reformasi
Puncak karier birokrasi Billy Joedono terjadi di masa transisi politik Indonesia. Pada tahun 1998, tepat saat Indonesia memasuki era Reformasi, ia terpilih menjadi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Baca juga: Puluhan Aset Kendaraan Bermotor di Pemkab Gresik Tanpa Bukti BPKB
Menjabat hingga tahun 2004, Billy memimpin lembaga auditor negara tersebut di tengah tuntutan publik yang tinggi akan transparansi dan akuntabilitas keuangan pemerintah. Di bawah kepemimpinannya, BPK mulai menata diri untuk menjadi lembaga yang lebih independen dan kritis dalam mengawal uang rakyat.
Melalui dedikasinya di bidang ekonomi, diplomasi, dan audit negara, Billy Joedono meninggalkan warisan berharga berupa integritas dan profesionalisme yang membekas dalam sejarah pembangunan Indonesia. (*)
Editor : S. Anwar