Nama H Hasril Chaniago sudah tidak asing lagi di dunia jurnalistik dan literasi Sumatra Barat maupun nasional. Pria kelahiran Nagari Koto Tangah Simalanggang, 20 Januari 1962 ini merupakan salah satu jurnalis senior, penguji kompetensi wartawan, sekaligus penulis biografi terkemuka di Indonesia yang telah menelurkan banyak karya arsitektur literasi.
Gagal Jadi Insinyur ITB, Berkah bagi Dunia Jurnalistik
Baca juga: Wartawan Diduga Diintimidasi Saat Liputan LPG di Sidoarjo
Perjalanan hidup Hasril Chaniago membuktikan bahwa garis tangan seseorang sering kali menuntun ke jalan terbaik yang tak terduga. Lulus sebagai juara umum dari Sekolah Teknik Mesin (STM) Negeri Bukittinggi pada tahun 1982, Hasril sebenarnya mendapatkan tiket jalur undangan untuk kuliah di FKT IKIP Padang.
Namun, mimpi besarnya saat itu adalah menjadi seorang insinyur dan melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Impian tersebut terpaksa urung akibat kebijakan Menteri Pendidikan era Daoed Joesoef yang kala itu membatasi lulusan STM untuk masuk ke perguruan tinggi negeri non-keguruan.
Kecewa namun tidak putus asa, Hasril memutar haluan hidupnya. Berbekal pengalamannya mengelola majalah sekolah bernama Gesit, ia memutuskan untuk terjun total ke dunia jurnalistik. Keputusan pahit masa muda itu justru menjadi berkah yang melahirkan salah satu jurnalis terbaik dari ranah Minang.
Karier Cemerlang: Dari Ranah Minang hingga ke Amerika Serikat
Memulai karier profesionalnya pada tahun 1982, Hasril menempa kemampuannya di Harian Singgalang. Di sana, bakat dan dedikasinya berkembang pesat. Ia dipercaya menjabat sebagai Redaktur Eksekutif pada periode 1986–1998. Selama kurun waktu tersebut, ia terus memperdalam ilmu jurnalistik melalui berbagai pelatihan di Universitas Andalas Padang, Medan, hingga ke Arlington, Virginia, Amerika Serikat.
Pengalaman internasionalnya semakin matang saat ia terpilih menjadi visiting editor di surat kabar Tallahassee Democrat, Florida, Amerika Serikat pada tahun 1998.
Sepulangnya dari AS, Hasril dipercaya menakhodai Harian Mimbar Minang sebagai Pemimpin Redaksi (1999–2005). Kiprahnya di dunia media terus bersinar. Ia tercatat pernah menjadi kontributor majalah ekonomi Prospek Jakarta, koresponden majalah Milenia Muslim (Malaysia) untuk Indonesia, Konsultan Pengembangan Media Haluan Media Group, Ketua Dewan Redaksi Harian Haluan (2010–2012), hingga jajaran Board of Editorial Majalah Indonesian Leaders Jakarta (2015–2016).
Baca juga: Dugaan Skenario Penangkapan Wartawan di Kabupaten Mojokerto
Meliput Konflik Dunia dan Penguji Wartawan Utama
Sebagai seorang jurnalis sejati, Hasril Chaniago adalah petualang interdimensional. Sepanjang kariernya, ia telah melakukan perjalanan jurnalistik ke lebih dari 30 negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Pengalaman paling ikonik dan menguji nyalinya adalah saat ia turun langsung meliput medan laga Perang Bosnia-Herzegovina pada tahun 1992, serta Konflik Moro di Mindanao, Filipina Selatan pada tahun 1996.
Di organisasi profesi, Hasril merupakan pilar penting di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatra Barat. Ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Organisasi (1997–2001), Ketua Dewan Kehormatan Daerah (2001–2006), dan kini aktif sebagai Penasihat PWI Sumbar. Mengantongi sertifikat kompetensi Wartawan Utama dari Dewan Pers, Hasril saat ini juga dipercaya menjadi bagian dari Tim Penguji Kompetensi Wartawan PWI Pusat yang melahirkan jurnalis-jurnalis profesional baru.
Aktif di Organisasi Sosial dan Demokrasi
Tidak hanya tajam dalam menulis, Hasril juga mengabdikan dirinya dalam kehidupan demokrasi dan sosial keagamaan. Ia tercatat pernah menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Sumatra Barat (2003–2004) dan didapuk sebagai Ketua Panwas Pilkada pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar tahun 2005.
Baca juga: Wartawan Surabaya Laporkan Penyebar Rekaman CCTV Dirinya Tanpa Izin
Di ranah sosial-keagamaan, ia aktif dalam kepengurusan Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) serta Persyarikatan Muhammadiyah, di mana ia sempat menjabat sebagai Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatra Barat.
Kehidupan Pribadi
Dalam kehidupan domestik, Hasril Chaniago menikah dengan Ir. Hj. Etti Mis'ar (almarhumah) dan dikaruniai empat orang putra: Muhammad Adam, Muhammad Rizqi, Muhammad Ramadhan, dan Muhammad Arief Rahman, serta seorang putri bernama Atiqah F. Hasril yang telah berpulang pada tahun 1998. Pasca-berpulangnya istri pertama, Hasril kemudian menikahi Dra. Nelfida, yang merupakan adik kandung dari almarhumah istrinya.
Saat ini, Hasril Chaniago memilih menetap di Kota Padang. Meski begitu, mobilitasnya sebagai penulis biografi tokoh-tokoh besar nasional dan jurnalis senior membuatnya tetap aktif melakukan perjalanan dinas, baik di dalam negeri maupun ke mancanegara. (*)
Editor : S. Anwar