Menjaga kedamaian dan keharmonisan di tengah kemajemukan suku serta agama di Indonesia adalah sebuah tantangan raksasa sepanjang sejarah berdiri Republik. Di era Orde Baru, ketika stabilitas nasional menjadi kunci utama pembangunan ekonomi, ada satu sosok jenderal bintang tiga asal Lampung yang sukses merumuskan formula emas demi meredam gejolak sosial berbasis keyakinan.
Tokoh genius berwibawa tersebut adalah Letnan Jenderal TNI (Purn.) Alamsyah Ratu Perwiranegara (atau ditulis Alamsjah Ratoe Prawiranegara). Lahir tepat pada hari Natal, 25 Desember 1925, ia merupakan salah satu ksatria kepercayaan Presiden Soeharto yang memegang peranan krusial sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Pembangunan III periode 1978–1983.
Baca juga: Widjojo Nitisastro, Angkat Senjata di Surabaya hingga Otak Ekonomi Orde Baru
Dari Pendidikan Militer Amerika Menembus Dinding Istana
Jauh sebelum mengurusi urusan umat, rekam jejak Alamsyah di dunia militer terbilang sangat mentereng. Lulusan Gyu Gun pada masa pendudukan Jepang ini merupakan salah satu perwira elit yang dikirim ke luar negeri pasca-kemerdekaan untuk memperdalam ilmu perang modern.
Ia tercatat sukses menyelesaikan pendidikan di Senior Officer Course di Mhow, India, sebelum akhirnya menembus salah satu sekolah staf komando militer paling prestisius di dunia, General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat.
Kecerdasannya dalam aspek manajerial, logistik, dan finansial militer membuat kariernya melesat tajam menjadi Letnan Jenderal - Men/Pangad (Menteri/Panglima Angkatan Darat) bidang Perbendaharaan. Kapasitas makro inilah yang membuat Pak Harto tanpa ragu menariknya ke lingkungan Istana untuk menjabat sebagai Sekretaris Negara (Sesneg) pertama di era awal Orde Baru.
Sang Perumus "Trilogi Kerukunan Umat Beragama" yang Legendaris
Puncak pengabdian Alamsyah yang paling membekas dalam sejarah bangsa terjadi ketika ia dipercaya memimpin Kementerian Agama pada tahun 1978. Menakhodai kementerian yang sangat sensitif di tengah riak sosiopolitik dalam negeri, Alamsyah melahirkan konsep kebangsaan yang sangat monumental: Trilogi Kerukunan Umat Beragama.
Formula cerdas ini memetakan tiga pilar utama yang wajib dijaga demi keutuhan NKRI:
Baca juga: Haryono Suyono Konseptor Posyandu
Kerukunan Intern Umat Beragama: Menjaga kedamaian dan persaudaraan di dalam satu payung agama yang sama agar tidak pecah oleh perbedaan mazhab atau aliran.
Kerukunan Antar-Umat Beragama: Membangun jembatan toleransi, saling menghormati, dan gotong royong antar-pemeluk agama yang berbeda.
Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah: Menyelaraskan langkah kehidupan beragama dengan garis kebijakan hukum serta pembangunan yang ditetapkan oleh negara.
Trilogi ini terbukti sangat ampuh. Formula tersebut sukses meredam berbagai gesekan sosial di akar rumput dan menjadi kompas utama kebijakan toleransi di Indonesia selama berdekade-dekade.
Baca juga: Ginandjar Kartasasmita Penentu Mundurnya Soeharto
Jenderal Diplomat yang Disegani hingga ke Timur Tengah
Alamsyah bukan sekadar jenderal di belakang meja. Keluwesannya dalam berkomunikasi membuatnya diutus menjadi Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda (1972–1974) serta Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada tahun 1977. Setelah sukses mengemban amanah sebagai Menteri Agama, ia kembali dipromosikan menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) periode 1983–1988.
Meski langkah politiknya sempat vakum karena harus menjalani operasi jantung koroner serius (by-pass) di RS Mount Elizabeth, Singapura, pengabdian Alamsyah belum usai. Pasca-suksesnya gelaran Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok 1992 di Jakarta, Presiden Soeharto kembali mempercayakan misi internasional padanya. Ia diangkat menjadi Duta Besar Keliling Non-Blok khusus untuk urusan Timur Tengah (1992–1995) guna memperkuat jaringan perdamaian dunia.
Sang jenderal diplomat tangguh ini mengembuskan napas terakhirnya pada 8 Januari 1998 dalam usia 72 tahun. Alamsyah Ratu Perwiranegara pergi dengan mewariskan legasi tak ternilai. Setiap kali kita menikmati indahnya kedamaian dan kerukunan beragama di tanah air hari ini, di sanalah buah pikir sang Jenderal lulusan Amerika ini akan selalu hidup abadi.
Editor : Bambang Harianto