Dalam sejarah panjang peradaban manusia, hanya sedikit bencana yang begitu melekat dalam ingatan kolektif dunia seperti Kebakaran Besar Roma (Great Fire of Rome) pada bulan Juli tahun 64 Masehi. Peristiwa ini bukan sekadar kebakaran kota biasa, melainkan sebuah tragedi yang mengubah wajah ibu kota Kekaisaran Romawi, mengguncang stabilitas politik pemerintahan Kaisar Nero, melahirkan berbagai teori konspirasi yang bertahan selama hampir dua milenium, serta menjadi titik awal salah satu penganiayaan paling terkenal terhadap komunitas Kristen awal.
Hingga hari ini, ketika namÄ… Roma kuno disebut, kisah tentang kobaran api raksasa yang melahap kota dan legenda tentang Nero yang konon bernyanyi sambil menyaksikan kehancuran kotanya masih terus dibahas oleh para sejarawan. Namun, di balik legenda tersebut terdapat kenyataan sejarah yang jauh lebih kompleks dan menarik.
Baca juga: Mengungkap Dalang Pencemaran Sampah Plastik di Indonesia
Pada pertengahan abad pertama Masehi, Roma merupakan kota terbesar di dunia Mediterania dan pusat dari sebuah imperium yang membentang dari Britania hingga Timur Tengah. Diperkirakan lebih dari satu juta penduduk tinggal di kota tersebut. Kota Roma dipenuhi oleh bangunan-bangunan bertingkat yang dikenal sebagai insulae atau rumah susun rakyat, pasar-pasar yang padat, gudang penyimpanan barang dagangan, bengkel, kuil, pemandian umum, serta jalan-jalan sempit yang berkelok-kelok.
Sebagian besar bangunan rakyat dibangun menggunakan kayu, sementara penerangan malam mengandalkan obor dan lampu minyak. Kondisi ini membuat Roma sangat rentan terhadap kebakaran. Bahkan sebelum tahun 64 Masehi, kota tersebut telah berkali-kali mengalami kebakaran besar. Akan tetapi, tidak satu pun yang menyamai skala bencana yang akan terjadi pada bulan Juli tahun itu.
Pada malam 18 Juli 64 Masehi, ketika sebagian besar penduduk Roma sedang beristirahat, api mulai muncul di kawasan pertokoan dekat Circus Maximus, arena balap kereta kuda terbesar di Kekaisaran Romawi yang terletak di antara Bukit Palatine dan Bukit Caelian.
Menurut catatan sejarawan Romawi Tacitus dalam karya terkenalnya Annales, api pertama kali muncul di toko-toko yang menjual berbagai barang mudah terbakar. Di area tersebut tersimpan minyak, kain, kayu, jerami, dan berbagai komoditas perdagangan yang sangat mudah memicu kobaran besar. Dalam hitungan menit, nyala api berubah menjadi lautan api yang tidak terkendali. Angin musim panas yang kencang mempercepat penyebaran kobaran, sementara rapatnya bangunan menyebabkan api dengan mudah melompat dari satu rumah ke rumah lainnya.
Apa yang terjadi selanjutnya merupakan mimpi buruk bagi penduduk Roma. Jalan-jalan sempit yang biasanya ramai mendadak berubah menjadi jalur pelarian yang kacau. Orang-orang berlarian sambil membawa anak-anak, anggota keluarga lanjut usia, serta barang-barang berharga yang masih sempat diselamatkan. Teriakan, tangisan, dan kepanikan memenuhi udara malam.
Banyak warga yang tidak mengetahui arah datangnya api sehingga tanpa sadar justru berlari menuju kawasan yang sedang terbakar. Sebagian lainnya terjebak di dalam rumah-rumah bertingkat yang runtuh akibat panas luar biasa. Dalam suasana kacau tersebut, berbagai rumor mulai beredar.
Ada yang mengaku melihat kelompok misterius menghalangi upaya pemadaman, bahkan ada yang mengklaim bahwa beberapa orang sengaja menyebarkan api ke wilayah lain sambil mengatakan bahwa mereka bertindak atas perintah tertentu. Kebenaran dari laporan tersebut hingga kini masih diperdebatkan para sejarawan.
Kobaran api terus menyebar selama enam hari berturut-turut. Bukit Palatine yang menjadi pusat kekuasaan Romawi ikut terdampak. Kuil-kuil kuno, rumah bangsawan, bangunan publik, dan kawasan perdagangan mulai runtuh satu demi satu. Api begitu besar sehingga menciptakan fenomena yang kini dikenal sebagai firestorm, yaitu kondisi ketika panas ekstrem menghasilkan arus udara sendiri yang justru memperkuat penyebaran kebakaran.
Pada masa itu, pasukan pemadam kebakaran Romawi yang dikenal sebagai Vigiles memang telah ada, tetapi kemampuan mereka sangat terbatas menghadapi bencana sebesar ini. Mereka menggunakan ember air, pompa sederhana, dan penghancuran bangunan untuk membuat sekat api. Namun skala kebakaran jauh melampaui kemampuan teknologi yang dimiliki Roma abad pertama.
Setelah enam hari yang mengerikan, api akhirnya mulai mereda. Akan tetapi, malapetaka ternyata belum berakhir.
Kebakaran kembali muncul dan membara selama tiga hari berikutnya. Gelombang kedua ini menghancurkan wilayah yang sebelumnya selamat dari kobaran pertama. Ketika api akhirnya benar-benar padam, pemandangan yang tersisa menyerupai kota yang baru saja mengalami perang besar. Dari empat belas distrik administratif Roma, tiga distrik hancur total dan tujuh lainnya mengalami kerusakan parah. Hanya empat distrik yang relatif tidak terdampak.
Sebagian besar pusat kota berubah menjadi hamparan puing dan abu. Ribuan bangunan musnah, ratusan orang meninggal dunia, dan puluhan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal. Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa hampir tiga perempat wilayah kota terdampak oleh bencana tersebut.
Di tengah kehancuran tersebut, perhatian masyarakat segera tertuju kepada penguasa tertinggi Roma, yaitu Kaisar Nero. Nero merupakan salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Romawi. la naik takhta pada tahun 54 Masehi dan pada awal pemerintahannya cukup populer. Namun seiring waktu, hubungannya dengan kalangan senator memburuk.
Gaya hidup mewah, minatnya pada seni pertunjukan, dan berbagai keputusan politiknya menimbulkan banyak musuh di kalangan elite Romawi. Karena itu, ketika Roma terbakar, kecurigaan masyarakat dengan cepat mengarah kepadanya.
Legenda yang paling terkenal adalah kisah bahwa Nero memainkan alat musik sambil menyaksikan Roma terbakar. Dalam budaya populer, cerita ini kemudian berkembang menjadi ungkapan "Nero fiddled while Rome burned" atau "Nero bermain biola ketika Roma terbakar."
Namun secara historis, cerita tersebut bermasalah. Pertama, alat musik biola belum ditemukan pada abad pertama Masehi. Kedua, sumber-sumber paling awal tidak memberikan bukti kuat bahwa Nero benar-benar melakukan hal tersebut. Bahkan beberapa catatan menyatakan bahwa ketika kebakaran dimulai, Nero sedang berada di kota Antium (sekarang Anzio), sekitar 50 kilometer dari Roma.
Setelah menerima kabar bencana, ia dikabarkan segera kembali ke ibu kota dan mengoordinasikan berbagai upaya bantuan darurat bagi para korban. Banyak sejarawan modern menilai bahwa kisah Nero bernyanyi saat Roma terbakar kemungkinan merupakan hasil propaganda politik yang berkembang setelah kematiannya.
Meski demikian, kecurigaan terhadap Nero tidak pernah benar-benar hilang. Salah satu alasan utamanya adalah proyek pembangunan besar yang dilakukan setelah kebakaran. Di atas reruntuhan kota yang hancur, Nero membangun kompleks istana megah yang dikenal sebagai Domus Aurea atau "Istana Emas".
Kompleks ini sangat luas, dilengkapi taman, danau buatan, aula megah, serta dekorasi yang belum pernah terlihat sebelumnya dalam sejarah Romawi. Bagi banyak warga, pembangunan istana tersebut tampak seolah-olah Nero memperoleh keuntungan dari kehancuran kota. Inilah yang memperkuat teori bahwa ia mungkin sengaja membakar Roma untuk mewujudkan proyek ambisiusnya.
Baca juga: Pemuda Bok Brombong Mengajak Para Pengiat Lingkungan Bersih Sungai
Walaupun demikian, hingga kini tidak ada bukti langsung yang dapat membuktikan bahwa Nero memerintahkan pembakaran tersebut. Mayoritas sejarawan modern lebih cenderung menganggap kebakaran itu sebagai kecelakaan besar yang diperparah oleh kondisi perkotaan Roma yang sangat rentan terhadap api.
Di antara dampak paling penting dari kebakaran ini adalah munculnya penganiayaan terhadap komunitas Kristen awal. Ketika rumor tentang keterlibatan Nero semakin meluas, kaisar membutuhkan pihak yang dapat dijadikan kambing hitam. Pilihan kemudian jatuh kepada kelompok Kristen, sebuah komunitas kecil yang saat itu masih dipandang asing dan mencurigakan oleh masyarakat Romawi.
Menurut Tacitus, Nero menuduh orang-orang Kristen sebagai penyebab kebakaran dan menjadikan mereka sasaran hukuman yang sangat kejam. Banyak yang ditangkap, disiksa, dieksekusi, bahkan dijadikan tontonan publik. Dalam tradisi Kristen, masa ini kemudian dikenang sebagai salah satu gelombang penganiayaan pertama yang dilakukan negara Romawi terhadap para pengikut ajaran Yesus.
Ironisnya, dari abu kehancuran tersebut lahir pula sebuah transformasi besar dalam tata kota Roma. Nero memanfaatkan kesempatan ini untuk menerapkan berbagai aturan pembangunan baru. Jalan-jalan diperlebar, jarak antarbangunan ditingkatkan, penggunaan material batu lebih dianjurkan dibandingkan kayu, serta akses terhadap sumber air diperbaiki. Dalam istilah modern, kebijakan ini dapat disebut sebagai bentuk awal urban planning atau perencanaan kota yang lebih sistematis.
Dengan kata lain, meskipun kebakaran tahun 64 Masehi membawa kehancuran luar biasa, peristiwa tersebut juga mendorong lahirnya standar pembangunan yang lebih aman bagi kota Roma di masa berikutnya.
Hampir dua ribu tahun setelah kobaran api itu padam, Kebakaran Besar Roma tetap menjadi salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah dunia. Tragedi ini memperlihatkan betapa rapuhnya kota terbesar sekalipun ketika berhadapan dengan bencana, sekaligus menunjukkan bagaimana sebuah krisis dapat mengubah arah politik, sosial, dan budaya suatu peradaban.
Di balik kisah tentang api yang melahap Roma terdapat pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab: Apakah kebakaran itu murni kecelakaan? Apakah Nero benar-benar tidak bersalah? Seberapa besar propaganda politik membentuk citra buruknya dalam sejarah?
Yang pasti, malam 18 Juli 64 Masehi bukan hanya malam ketika Roma terbakar. Malam itu menjadi salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah Kekaisaran Romawi, meninggalkan jejak yang terus dikenang dalam literatur, seni, agama, dan historiografi hingga zaman modern. (*)
Sumber & Referensi
The Great Fire of Rome, Joseph J. Walsh, Johns Hopkins University Press, 2019.
Baca juga: Fenomena Pantai Plastik Imbas Air Laut Surut
Rome Is Burning, Anthony A. Barrett, Princeton University Press, 2020.
Kelly Shannon, "Memory, Religion and History in Nero's Great Fire: Tacitus, Annals 15.41-47," dalam The Classical Quarterly, Volume 62, Issue 2, 2012.
D. S. Potter, "Tacitus' Sources, dalam A Companion to Tacitus, Wiley-Blackwell, 2012.
Referensi Daring
Encyclopaedia Britannica, artikel "Great Fire of Rome".
Dickinson College Commentaries, "The Fire of Rome (Tacitus, Annals 15.38-41)".
Wikipedia, "Great Fire of Rome".
History Channel (History.com), "Nero's Rome Burns".
PBS, "The Great Fire of Rome".
*) Source : Venezia membaca
Editor : Bambang Harianto