Eksodus Startup ke Luar Negeri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Traveloka
Traveloka
grosir-buah-surabaya

Pernah dengar berita Traveloka hengkang ke Singapura? Bukan cuman Traveloka, beberapa korporasi start-up besar dari india dan asia juga memindahkan kantor pusatnya ke singapura atau dubai.

Mengapa? Alasannya pasti soal kemudahan pendanaan, potensi Initial Public Offering (IPO) Internasional atau pengakuan hukum yang lebih kuat dimata investor global. Selain itu, Singapura juga menawarkan tarif pajak perusahaan 17% tanpa pajak keuntungan modal, Dubai bahkan menawarkan tarif pajak 0% untuk banyak startup di zona bebas.

Coba bandingkan di Negara Indonesia, yang punya tarif pajak lebih tinggi dan sistem regulasi yang sering dianggap membingungkan bagi investor asing, CMIIW (Correct Me if I'm Wrong). Singapura juga mempunyai infrastruktur digital kelas dunia, internet super cepat, pusat data modern dan dukungan teknologi misal 5G.

Pemerintahnya juga aktif memberikan insentif lewat program startup SG untuk tahap awal dan komersialisasi teknologi. Disana juga tersedia akses ke talenta dan pasar global. Dengan universitas top seperti NUS (National University of Singapore) dan NTU / Nanyang Technological University (top 10 dunia) plus sistem visa ramah founder asing, Singapura menjadi magnet talenta teknologi.

Letaknya yang strategis memudahkan akses ke pasar Asia Tenggara yang besar. Apa efeknya bagi Indonesia? Traveloka tetap besar di Indonesia, tapi tren ini bisa jadi alarm.

cctv-mojokerto-liem

Jika banyak startup besar memilih "domisili hukum" di luar negeri. Apakah ekosistem digital kita cukup kompetitif untuk mempertahankan mereka? Artinya banyak bisnis besar menjadinya kita hanya "konsumen" alias pasar yang besar tanpa ada niatan untuk investasi, yang menyebabkan terjebak dalam "middle income trap". Bahkan saya melihat banyak sumber daya manusia (SDM) teknologi ataupun orang pintar kita juga eksodus ke luar negeri, entah untuk studi lanjut ataupun buka usaha dari luar negeri.

Yang tersisa di negeri kita hanyalah orang "mediocre" alias rata-rata ASK (attitude, skill & knowledge) nya dan juga orang yang sibuk dengan perebutan jatah kekuasaan, "uang rakyat" dan ormas (organisasi masyarakat). (*)

*) Penulis : Stefanus Gunawan (Chief Marketing Officer Holding Group)