Kisah dr Sahara Berujung Sakit di Tengah Pengabdiannya
Sahara adalah seorang dokter muda yang dikenal baik hati dan penuh kepedulian. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya setiap kali menyambut pasien di rumah sakit. Dengan jas putih dan stetoskop di lehernya, ia berjalan dari ruangan ke ruangan lain tanpa pernah mengeluh. Banyak pasien merasa tenang hanya dengan mendengar suaranya.
Bagi Sahara, menjadi dokter bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah panggilan hidup. Ia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kesehatannya demi menolong orang lain. Saat banyak orang takut menghadapi penyakit menular, Sahara justru berada di barisan paling depan. Ia tidak tega melihat pasien berjuang sendirian.
Hampir setiap hari ia pulang larut malam. Kadang ia lupa makan dan hanya tidur beberapa jam sebelum kembali bekerja. Teman-temannya sering mengingatkan agar ia beristirahat, tetapi Sahara selalu berkata, “Selama masih ada orang yang membutuhkan bantuan, aku harus tetap kuat.”
Namun tubuh manusia punya batas. Suatu hari Sahara mulai merasa lemas. Awalnya ia mengira hanya kelelahan biasa. Tetapi batuk dan demamnya semakin parah. Berat badannya turun drastis, wajahnya terlihat pucat, dan tubuhnya semakin kurus.
Kabar tentang sakitnya membuat banyak pasien sedih. Dokter yang selama ini selalu menyemangati orang lain kini harus berbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Orang-orang yang dulu melihatnya kuat kini hanya bisa mendoakan kesembuhannya.
Yang paling membuat haru, bahkan dalam keadaan s4kit, Dr. Sahara masih memikirkan pasien-pasiennya.
Dengan suara pelan ia sering bertanya, “Pasien anak kecil itu bagaimana keadaannya?”
“Apakah nenek yang kemarin sudah membaik?”
“Semua pasien sudah diberi obat, kan?”
Ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Hatinya tetap tertuju pada keselamatan orang lain.
Di kamar tempat ia dirawat, jas putih miliknya tergantung rapi di sudut ruangan. Setiap kali melihat jas itu, matanya berkaca-kaca. Ia rindu kembali berjalan di lorong rumah sakit, rindu mendengar ucapan terima kasih dari pasien, dan rindu bisa kembali menolong banyak orang.
Kisah Sahara mengajarkan bahwa dokter juga manusia biasa. Mereka bisa lelah, bisa terluka, dan bisa jatuh sakit. Di balik tugas mulia mereka menyelamatkan nyawa, ada pengorbanan besar yang sering tidak terlihat oleh banyak orang.
Semoga Allah memberi kesembuhan untuk setiap orang yang sedang berjuang melawan sakit, menguatkan hati para tenaga medis, dan membalas semua kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda. (*)
Editor : Bambang Harianto