Jenazah Nakes di Jok Motor, Tetesan Airmata di Tikungan Terjal

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
grosir-buah-surabaya

Kisah nyata dari Pinembani, Donggala, 2025

Seruput dulu kopimu, Bli. Tapi jangan kaget kalau setelah ini bukan cuma air mata yang menetes, tapi juga harga dirimu sebagai bangsa. Karena cerita hari ini bukan kisah perang atau diplomasi, bukan juga soal demo bahan bakar minyak (BBM) atau reshuffle kabinet.

Ini kisah satu tubuh tak bernyawa yang masih harus berjuang melewati medan terjal, dengan kakinya sudah kaku tapi hatinya masih mengetuk nurani negeri ini. Namanya tak disebut dalam video. Tapi wajahnya terpahat jelas di langit-langit hati siapa pun yang masih punya rasa.

Seorang tenaga kesehatan (nakes), Aparatur Sipil Negara ASN Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang wafat saat tugas di pelosok Kecamatan Pinembani, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Ia bukan gugur di medan perang, tapi gugur di medan pengabdian di mana jalan tak lagi bernama, dan ambulans pun menyerah. Dalam video yang viral itu, tubuh sang nakes dibalut kain jarik, diboncengkan di atas sepeda motor.

Di belakang, batang kayu menyangganya, agar tubuhnya tetap duduk tegak. Ya, tegak. Bahkan setelah mati pun ia masih menjaga postur sebagai abdi negara. Satu motor, dua nyawa. Satu hidup, satu sudah tenang. Tapi keduanya sama-sama pahlawan, yang satu mengantar, yang satu memberi pesan diam-diam. Dan di sana, jalan setapak seperti garis hidup yang remuk.

Aspal entah ke mana, jembatan hanya mimpi, dan pemerintah ya, mungkin sedang sibuk cari like di TikTok.

“Sudah 2025, akses jalan harusnya sudah sampai ke hati nurani,” tulis seorang netizen.

“Kalau gak viral, gak bakal dibenerin,” sindir yang lain.

Benar. Karena negeri ini kadang lebih takut viral daripada takut Tuhan. Lebih cepat menganggarkan plang peresmian daripada menggali lubang kubur untuk pejuang yang tak pernah disorot media. Tapi jangan salah. Ini bukan sekadar cerita duka.

Ini cerita keperkasaan. Karena di negeri yang katanya darurat infrastruktur ini, masih ada nakes yang rela menyusuri tebing dan jurang demi imunisasi bayi. Masih ada relawan yang menggendong harapan dengan sandal jepit dan doa. Dan ketika mereka gugur, mereka tak minta upacara.

cctv-mojokerto-liem

Mereka hanya ingin jalan pulang yang layak. Namun, hari itu, bahkan jalan pulang pun harus dititipkan pada knalpot dan rem cakram. Mereka tak marah. Mereka hanya diam. Dan diam mereka lebih nyaring dari pidato siapa pun.

Wahai engkau yang kini duduk di balik meja kekuasaan, dengarkan jerit dalam sunyi ini. Dengarkan suara mesin motor yang mengantar jenazah rekanmu. Itu bukan cuma suara knalpot, itu tangisan bangsa yang kehilangan arah pembangunan.

Dan kepada almarhum, kami tak punya karangan bunga. Tapi kami punya kalimat ini: “Terima kasih karena tetap berdiri, bahkan saat tubuhmu sudah tak bernyawa. Engkau bukan hanya nakes, engkau cermin nurani yang paling jujur.”

Semoga jalanmu lapang di sana. Karena di sini, jalan masih butuh viral.  

Penulis hanya rakyat kecil yang tak sanggup beli aspal, tapicukup waras untuk tahu mana jalan yang harus diperbaiki lebih dulu: jalan raya, atau jalan pikiran. (*)

*) Penulis : M. Fawaid AL

Catatan :

Seorang Penyuluh Keluarga Berencana (KB) dari BKKBN Kecamatan Pinembani, Kabupaten Donggala, bernama Ariel Sharon, meninggal dunia pada Rabu (9/7/2025), saat menjalankan tugasnya di Desa Palintuma, Kecamatan Pinembani. Karena mobil ambulance Puskesmas Pinembani rusak dan akses jalan menuju sulit dilalui kendaraan biasa, jenazah Ariel Sharon diangkut dengan sepeda motor menuju ke tempat yang lebih rendah. Sampai wilayah Dombu, jenazah Ariel diangkut dengan mobil Ambulans milik Puskesmas Dombu, Kabupaten Sigi, menuju rumah duka di Kota Palu.

Kejadian memilukan ini mengungkap keterbatasan infrastruktur dan sarana pelayanan kesehatan di wilayah terpencil seperti Kecamatan Pinembani. Selain belum beraspal, jalur menuju daerah ini sering mengalami longsor saat hujan dan hanya dapat dilalui kendaraan dobel gardan. (*)