Bagir Manan Juru Selamat Kemerdekaan Pers

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. Bagir Manan, S.H., MCL
Prof. Dr. Bagir Manan, S.H., MCL
grosir-buah-surabaya

Di panggung hukum dan demokrasi Indonesia, Prof. Dr. Bagir Manan, S.H., MCL menempati posisi yang sangat elite sekaligus unik. Lahir pada 6 Oktober 1941, pria berdarah Lampung-Minangkabau ini merupakan salah satu begawan hukum tata negara paling dihormati di tanah air. 

Sepanjang kariernya, ia sukses menorehkan tinta emas dengan memimpin dua institusi yang menjadi pilar penting reformasi : Mahkamah Agung (MA) dan Dewan Pers Indonesia.

Dedikasinya yang melintasi batas antara penegakan hukum dan kebebasan berekspresi menjadikan sosoknya sebagai teladan tentang integritas dan profesionalisme.

Pendekar Yudikatif di Era Transisi Reformasi

Nama Bagir Manan paling lekat di ingatan publik ketika ia memegang palu tertinggi keadilan sebagai Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Menjabat selama tujuh tahun penuh (periode 2001–2008), Bagir memimpin MA di masa-masa krusial transisi reformasi hukum nasional.

Di bawah kepemimpinannya, Mahkamah Agung dituntut untuk melakukan pembenahan internal skala besar, memperkuat independensi kekuasaan kehakiman dari intervensi politik, sekaligus menjadi benteng terakhir bagi pencari keadilan di tengah dinamika demokrasi yang baru mekar. Sebelum menduduki kursi nomor satu di MA, keahlian akademisnya telah diakui secara luas sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Hukum Tata Negara di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Jembatan Akademisi dan Kepemimpinan di UNISBA

Dunia akademis adalah rumah kedua bagi Bagir Manan. Jauh sebelum namanya meroket di ibu kota, ia telah mengabdikan diri di dunia pendidikan tinggi Jawa Barat. Kepemimpinannya yang matang membuatnya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Islam Bandung (UNISBA).

Menariknya, Bagir memimpin kampus perjuangan tersebut dalam dua periode yang terpisah jauh, yakni pada tahun 1985–1986 dan kembali terpilih di era awal reformasi pada tahun 2000–2001. Fleksibilitas kepemimpinannya di dunia kampus ini membuktikan kapasitasnya yang tidak hanya jago dalam teori hukum, tetapi juga piawai dalam manajemen institusi pendidikan.

Menakhodai Dewan Pers: Jaga Kemerdekaan lewat Aklamasi

Usai purnatugas dari Mahkamah Agung, pengabdian Bagir Manan tidak lantas surut. Pada Februari 2010, ia melangkah ke ranah media setelah terpilih menjadi Ketua Dewan Pers Indonesia untuk periode 2010–2013. Kehadiran seorang mantan Ketua Mahkamah Agung di pucuk pimpinan Dewan Pers memberikan suntikan legitimasi hukum yang sangat kuat bagi perlindungan kemerdekaan pers di Indonesia.

Reputasinya yang bersih dan dihormati oleh komunitas pers membuatnya kembali terpilih pada 3 April 2013. Melalui rapat pleno sembilan anggota Dewan Pers untuk periode 2013–2016 di Jakarta, Bagir Manan kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin lembaga tersebut, didampingi oleh Margiono sebagai Wakil Ketua. Di bawah asuhannya, Dewan Pers menjadi lembaga yang disegani dalam memediasi sengketa pemberitaan tanpa harus mengkriminalisasi jurnalis.

Kehidupan Pribadi yang Bersahaja

Di balik reputasi besarnya sebagai pejabat negara dan akademisi senior, Bagir Manan dikenal sebagai sosok keluarga yang bersahaja dan jauh dari sorotan miring. Kehidupan domestiknya dibangun kokoh bersama sang istri tercinta, Komariah. Pernikahan yang harmonis tersebut dikaruniai tiga orang anak yang menjadi kebanggaan keluarga, yaitu Kemal, Safitri, dan Firman.

Dari ruang kelas di Universitas Padjadjaran, meja rektor Universitas Islam Bandung, ruko persidangan Mahkamah Agung, hingga ruang rapat Dewan Pers, Bagir Manan telah menuntaskan tugasnya sebagai penjaga hukum dan penjaga kata-kata. Ia membuktikan bahwa hukum yang kaku dan pers yang bebas bisa berjalan beriringan jika dipimpin oleh tangan yang tepat. (*)

*) Source : Nasrul Koto PSU