Rekam Jejak Said Iqbal Sang Panglima Buruh
Teka-teki mengenai perombakan atau penambahan pos baru dalam Kabinet Merah Putih di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menemui titik terang. Nama Ketua Umum Partai Buruh, Said Iqbal, mencuat ke permukaan dan diproyeksikan kuat akan segera merapat ke lingkar dalam pemerintahan.
Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi telah mengonfirmasi bahwa potensi masuknya Said Iqbal ke dalam jajaran kabinet sedang dalam pembahasan intensif. Meski demikian, posisi definitif yang akan diemban oleh tokoh sentral pergerakan buruh ini masih disimpan rapat.
“Ya, sedang kita diskusikan,” ujar Prasetyo Hadi saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).
Prasetyo memberikan sinyal kuat bahwa jika Said Iqbal bergabung, posisinya tidak akan jauh dari urusan ketenagakerjaan, mengingat rekam jejak panjangnya di sektor perburuhan.
“Kemungkinan berkaitan dengan buruh, tenaga kerja. Tunggu saja, baru didiskusikan mana yang paling pas atau paling tepat,” tambah Mensesneg.
Sinyal senada juga ditangkap dari pernyataan Said Iqbal. Walau masih menahan diri untuk mengonfirmasi kepastiannya, ia membenarkan adanya komunikasi terkait isu-isu ketenagakerjaan.
“Kita tunggu saja pengumuman resmi dari Mensesneg atas nama presiden, ya. Kemungkinan sekitar isu ketenagakerjaan,” kata Said Iqbal, Jumat (5/6/2026).
Spekulasi pun berkembang. Mengingat Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah mendirikan lembaga baru pada Agustus 2025 lalu—yakni Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional serta Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK)—banyak pihak menduga Said Iqbal akan ditempatkan untuk menakhodai salah satu pos strategis tersebut.
Lantas, siapa sebenarnya Said Iqbal dan bagaimana dinamika rekam jejak politiknya hingga kini berada di ambang pintu kabinet?
Nakhoda yang Menghidupkan Kembali Poros Politik Buruh
Di panggung nasional hari ini, Said Iqbal melekat erat dengan citra Partai Buruh. Ia adalah aktor intelektual sekaligus motor utama yang membangkitkan kembali partai tersebut pada tahun 2021, setelah sempat mati suri sejak didirikan pasca-Reformasi 1998.
Strategi Said terbilang jitu. Ia menghidupkan kembali mesin politik ini dengan cara mengonsolidasikan basis massa dari konfederasi dan federasi serikat buruh raksasa di Indonesia. Sebut saja Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), hingga Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) tempat ia sempat menjabat sebagai Presiden.
Di bawah kepemimpinannya, Partai Buruh bertransformasi menjadi oposisi jalanan yang paling vokal terhadap regulasi ketenagakerjaan, khususnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Said berkali-kali memimpin gelombang unjuk rasa besar-besaran untuk menuntut pembatalan pasal-pasal kontroversial dalam klaster ketenagakerjaan, hingga puncaknya mengajukan gugatan konstitusional ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2024.
Kiprah Lintas Organisasi dan Internasional
Jauh sebelum mengonsolidasikan kekuatan politik formal lewat partai, pria yang pernah maju sebagai calon anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilu 2009 ini telah kenyang makan asam garam di dunia pergerakan.
Catatan portofolionya membentang di berbagai organisasi regional dan global. Said tercatat pernah menempati posisi strategis di PC SP LEM SPSI, Sekretaris DPP FSPMI, hingga menembus level internasional sebagai Central Committee Serikat Buruh Metal Sedunia (IMF), Wakil Presiden Serikat Pekerja ASEAN (ATUC), dan General Council Konfederasi Serikat Buruh Sedunia (ITUC). Pengalaman global inilah yang membentuk kapasitas diplomasinya di sektor ketenagakerjaan.
Dinamika Politik: Dari Oposisi Militan hingga Loyalis Prabowo
Hubungan ideologis antara Said Iqbal dan Prabowo Subianto sebenarnya memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Pada Pilpres 2019, saat Prabowo menjadi rival utama Joko Widodo, Said Iqbal memosisikan dirinya dan gerbong buruh sebagai pendukung militan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.
Ketika konstelasi politik bergeser di penghujung era Jokowi menuju Pilpres tahun 2024, loyalitas Said kepada Prabowo tidak luntur. Kendati Prabowo memilih jalan rekonsiliasi dan merangkul pengaruh Jokowi sebagai basis pemenangan, Said Iqbal tetap menjaga ritme hubungannya dengan Gerindra.
Hal ini tecermin dalam kontestasi Pilkada di berbagai daerah, di mana Partai Buruh kerap menjadi mitra strategis Partai Gerindra dalam mengusung pasangan calon kepala daerah, meskipun di beberapa wilayah lain mereka berada di kubu yang berbeda.
Pendekatan politik yang pragmatis sekaligus akomodatif ini semakin terlihat setelah Prabowo resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-8. Ritme pergerakan buruh di bawah komando Said Iqbal dinilai banyak pengamat mulai melunak terhadap kebijakan pemerintah pusat. Fenomena ini terlihat jelas pada momentum May Day (Hari Buruh Sedunia) tahun 2026 ini. Alih-alih menggelar aksi protes konfrontatif, Partai Buruh justru "merayakan" Hari Buruh bersama Presiden Prabowo di Monas, Jakarta.
Kini, dengan karpet merah yang mulai digelar oleh Istana, langkah Said Iqbal menuju Kabinet Merah Putih tampaknya tinggal menunggu waktu. Masuknya Said ke dalam sistem pemerintahan akan menjadi ujian baru : apakah sang panglima buruh mampu mengonversi retorika perjuangan jalanannya menjadi kebijakan yang konkret dan menyejahterakan para pekerja dari dalam birokrasi?
Editor : S. Anwar