Kisah Nyimas Utari Jadi Prajurit Wanita Mataram yang Memenggal Gubernur VOC
Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih atau Nyimas Utari adalah seorang mata-mata atau "telik sandi" Kerajaan Mataram yang berhasil meracuni Gubernur Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Jan Pieterszoon Coen pada 20 September 1629. Lalu JP Coen dipenggal, dan kepalanya dibawa ke ibu Kota Mataram di Kotagede.
Nyimas Utari merupakan keponakan Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Mataram (1593-1645). Pada Mei 1629, Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo menyerang Batavia yang saat itu masih dikuasi VOC. Penyerangan itu merupakan yang kedua setelah serangan pertama gagal di tahun 1628.
Kala itu, Sultan Agung Hanyokrokusumo memberinya tugas untuk membunuh Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen dengan cara penyamaran, Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih menyamar menjadi seorang penyanyi (sinden) di benteng perkumpulan perwira VOC.
Masuknya Nyimas Utari atau Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih menjadi salah satu penyanyi perwira VOC tidak terjadi begitu saja, tetapi bekerja sama dengan Wong Agung Aceh. Ketika di Batavia, Nyimas Utari bergabung dengan para matamata dari Samudra Pasai. Nyimas Utari kemudian dinikahkan dengan Mahmudin, seorang intelijen dari Samudra Pasai yang terkenal cerdas dan mahir.
Pernikahan mereka bukan sekadar ikatan cinta, melainkan bagian dari strategi Mataram untuk memperkuat jaringan intelijen. Misi sulit dan berbahaya ini bersamaan dengan tentara Mataram menyerbu Batavia pada tahun 1629, Nyimas Utari atau Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih memanfaatkan kekacauan itu dengan membunuh istri JP. Coen yang bernama Eva dan anak-anaknya dengan racun.
Empat hari setelah itu, duka mendalam dan kebingungan akibat kehilangan tersebut membuat JP Coen menjadi lengah. Dalam kesempatan itu, tepat pada 20 September 1629.
Nyimas Utari atau Raden Ayu Utari Sandi Jaya Ningsih berhasil mencampurkan racun arsenik ke dalam minuman Coen saat sebuah pertemuan di klub perwira VOC. JP Coen pun terbunuh karena menenggak minuman yang sudah dicampuri racun, membuat Coen tewas dalam waktu singkat tanpa sempat mendapatkan pertolongan.
Nyimas Utari lantas memenggal kepala JP Coen sebagai bukti keberhasilan misinya dan menyerahkannya kepada Wong Agung Aceh. Setelah berhasil menyelesaikan misi yang berbahaya tersebut, Nyimas Utari, Mahmudin dan Wong Agung Aceh berusaha melarikan diri dari Batavia.
Dengan membawa kepala JP Coen, tetapi mereka menghadapi tantangan besar untuk keluar dari kota yang kini berada dalam kondisi siaga tinggi. Sayangnya, dalam proses pelarian tersebut, Nyimas Utari tewas akibat tembakan meriam dari pasukan VOC yang mengejar mereka.
Wong Agung Aceh dan Mahmudin berhasil keluar dari Batavia sambil membopong jenazah Nyimas Utari hingga wilayah Desa Keramat, di tempat itulah Nyimas Utari dimakamkan.
Kepala JP Coen kemudian diserahkan kepada Tumenggung Surotani untuk dibawa ke Istana Mataram Saat tiba di Mataram, Sultan Agung memerintahkan untuk penggalan kepala tersebut dikubur di baris ke-716 tangga menuju makam raja-raja Mataram di Imogiri.
Keberhasilan operasi komando pembunuh JP Coen ini secara keseluruhan telah menghentikan niat Sultan Agung melanjutkan peperangan melawan Kompeni Belanda di Batavia, namun selama Sultan Agung masih bertahta di Mataram selama itu pula VOC di Batavia tidak berani mengusik kedudukan Sultan Agung di Mataram. Kisah pembunuhan JP Coen oleh Nyimas Utari menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan.
Beberapa sumber kolonial menyebut bahwa Coen meninggal akibat wabah penyakit, sementara sumber-sumber lokal dan catatan seperti Babad Jawa menceritakan JP Coen dibunuh oleh Nyimas Utari. Sumber kolonial seolah olah menutup nutupi keberhasilan Mataram membunuh JP Coen.
Makam Nyimas Utari berada di Desa Keramat, Tapos, Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sosok perempuan hebat yang tak banyak dikenal dalam sejarah Nusantara. Beliau dikenal sebagai Puteri Mataram yang berjuang mempertahankan kehormatan bangsa dan budaya leluhur.
Nyimas Utari menunjukkan bahwa semangat, keberanian, dan cinta tanah air tidak mengenal gender. Kini makamnya diziarahi, sebagai pengingat bahwa perjuangan bukan hanya milik raja dan prajurit, tapi juga kaum perempuan yang menjaga marwah bangsa. (kocar. Koma)
Editor : S. Anwar