Djamaluddin Suryohadikusumo Sang Penjaga Rimba
Bagi dunia kehutanan Indonesia, nama Ir. Djamaluddin Suryohadikusumo (lahir 11 Oktober 1934) adalah jaminan sebuah dedikasi yang tak lekang oleh waktu. Purnatugas sebagai Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada tahun 1998 silam nyatanya tidak membuat alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhenti berjuang. Baginya, melestarikan alam adalah misi seumur hidup.
Djamaluddin mencatatkan rekor pengabdian yang luar biasa di birokrasi, yakni selama 40 tahun penuh (1958–1998), sebelum akhirnya dipercaya memimpin kementerian di era akhir Orde Baru.
Bergerak di Jalur Non-Pemerintah Usai Purnatugas
Ketika banyak pejabat memilih menikmati masa pensiun dengan tenang, Djamaluddin justru melangkah ke arah yang berbeda. Kecintaan dan keresahannya terhadap masa depan hutan Indonesia mendorongnya untuk tetap aktif turun ke lapangan melalui berbagai organisasi nirlaba (NGO) lingkungan.
Tepat setelah menanggalkan jabatan menterinya pada tahun 1998, ia langsung bergabung dan berperan aktif dalam kepengurusan Yayasan WWF-Indonesia. Konsistensinya di lembaga konservasi raksasa tersebut bahkan terus bertahan hingga saat ini.
Menembus Batas Organisasi Lingkungan
Kiprah Djamaluddin di dunia pelestarian alam terbilang sangat luas. Pikiran dan tenaganya tersebar di berbagai organisasi lingkungan strategis, baik skala nasional maupun internasional.
Beberapa lembaga terkemuka yang pernah dan masih disokong oleh pemikirannya antara lain:
CIFOR (Center for International Forestry Research)
TNC (The Nature Conservancy) Indonesia Program
BOS Foundation (Borneo Orangutan Survival)
YLI (Yayasan Leuser Indonesia)
LEI (Lembaga Ekolabel Indonesia)
Pelopor Sertifikasi Hutan Berkelanjutan
Keterlibatan Djamaluddin dalam Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) menunjukkan visinya yang modern. Beliau sadar bahwa menjaga hutan tidak bisa lagi sekadar melarang penebangan, melainkan harus lewat tata kelola industri kayu yang ramah lingkungan dan tersertifikasi secara internasional.
Melalui rekam jejaknya, Djamaluddin Suryohadikusumo membuktikan bahwa status sebagai "penjaga hutan" tidak hilang saat jabatan menteri lepas. Di usianya yang senja, ia tetap menjadi mentor sekaligus jangkar bagi para aktivis lingkungan muda dalam mempertahankan sisa-sisa paru-paru hijau Indonesia. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar