Rekam Jejak Green SM Terlibat Beberapa Kali Kecelakaan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Taksi Green SM saat tertemper KRL
Taksi Green SM saat tertemper KRL
grosir-buah-surabaya

14 nyawa melayang, Green SM cuma bilang, "Kami Menaruh Perhatian Penuh”. (Dan ini adalah insiden yang kesekian kalinya).

Selamat datang di era transportasi hijau, di mana taksi listrik ramah lingkungan berwarna meluncur mulus di jalanan Jakarta, sambil sesekali menghantam penjual nasi goreng, menerobos palang kereta, atau dalam puncak pencapaiannya, memicu tabrakan kereta api yang menewaskan 14 orang dan melukai 84 orang lainnya.

Taksi listrik asal Vietnam ini sendiri tercatat sudah bikin 11 insiden dalam 17 bulan. Butuh 14 korban jiwa meninggal dulu buat mereka akhirnya angkat bicara, itu pun tanpa satu kata pun permintaan maaf.

Inilah Green SM Indonesia. Perusahaan taksi yang problemati.

Malam Yang Tidak Perlu Terjadi

Senin, 27 April 2026. Pukul 20.52 WIB. Di perlintasan sebidang JPL 85 kawasan Bulak Kapal, Bekasi Timur, sebuah taksi listrik berwarna hijau toska milik Green SM melintas dari arah utara ke selatan. Di tengah rel, taksi itu mogok.

JPL 85 adalah perlintasan tanpa palang pintu. Tidak ada portal otomatis yang naik-turun, hanya perlintasan sebidang terbuka. Taksinya sendiri sudah mogok sebelum ada peringatan KRL akan melintas. Di sinilah sifat fisik mobil listrik menjadi masalah yang tidak ada dalam buku panduan siapapun di lokasi: mobil yang mati mesin tidak bisa didorong. Sistem pengunci roda elektronik pada EV membuat roda terkunci saat mesin mati.

Beredar informasi bahwa sang sopir sebenarnya sudah mau memanggil derek umum yang tersedia di lokasi untuk mengevakuasi kendaraan secara cepat. Namun SOP Green SM konon mewajibkan pengemudi menggunakan derek resmi dari perusahaan, bukan derek sembarangan.

Konsekuensinya jika sopir menggunakan derek umum tanpa izin, ia bisa dibebankan seluruh biaya kerusakan kendaraan. Informasi ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Green SM dan masih menjadi bagian dari investigasi, tapi jika terbukti benar, ini mengubah sifat dari tragedi secara fundamental.

Taksi tersebut tertabrak KRL rute Jakarta-Cikarang dan berhenti darurat. Di arah sebaliknya, KRL yang menuju Cikarang berhenti darurat di lintasan, tepat di jalur yang sama dengan Argo Bromo yang datang dari belakang dan akhirnya menabrak. Gerbong lokomotif Argo Bromo sendiri menembus gerbong terakhir KRL tersebut.

Angka korban sudah mencapai 14 orang tewas dan 84 luka-luka. 

Insiden Taksi Green SM Yang Terus Berulang

Satu hal yang membuat insiden Bekasi ini bukan sekadar tragedi biasa adalah konteksnya: insiden taksi Green SM ini sudah terjadi sebelumnya. Berkali-kali.

Green SM resmi beroperasi di Indonesia pada 18 Desember 2024. Dalam waktu kurang dari 17 bulan, armadanya telah terlibat setidaknya 11 insiden yang terdokumentasi media. Berikut daftar beberapa "prestasi" mereka:

Februari 2025: Taksi Green SM menabrak penjual nasi goreng yang sedang berjualan di pinggir Jalan Meruya Utara, Jakarta Barat. Nomor polisi B 1637 SBX. Terekam, viral, dilupakan.

Maret 2025: Armada Green SM menabrak bagian belakang bus Transjakarta. Penyebabnya? Pengemudi mengantuk.

Oktober 2025: Taksi Green SM terserempet KRL di perlintasan Rawa Buaya, Cengkareng. Penjaga perlintasan berusia 62 tahun, M. Nasir, mengaku sudah memperingatkan pengemudi agar berhenti dan meminta kendaraan dimundurkan. Peringatan itu diabaikan. Kereta menyerempet taksi itu.

31 Desember 2025: Momen pergantian tahun yang tidak terlupakan, sebuah taksi Green SM menerobos palang pintu kereta yang sudah tertutup di JPL 11, lintasan Kampung Bandan-Kemayoran. Ringsek dihantam KA L303-2. Sopir selamat.

9 Januari 2026: Di Karang Tengah, Tangerang, sebuah taksi Green SM ditinggal sopirnya, lalu tiba-tiba berjalan mundur sendiri menghancurkan kaca depan restoran ayam goreng. Kapolres menyebut ini "murni kelalaian driver." 

Suatu pola yang sangat konsisten.

Catatan: 

Xanh SM adalah nama awal taksi Green SM.

Ekspansi 10.000 unit, pelatihan seadanya.

Untuk memahami mengapa pola ini terus berulang, perlu dilihat konteks bisnis Green SM di Indonesia.

Perusahaan ini yang bernaung di bawah konglomerat Vietnam, Vingroup, milik orang terkaya Vietnam Pham Nhat Vuong, masuk Indonesia dengan ambisius. Targetnya: meluncurkan 10.000 unit taksi listrik sepanjang 2025. Satu angka yang mengesankan untuk perusahaan yang baru genap sebulan beroperasi di negeri orang.

Sepuluh ribu unit membutuhkan ribuan pengemudi, dan ribuan pengemudi dalam waktu singkat artinya satu hal: rekrutmen massal dengan standar yang entah bagaimana tidak cukup mampu mencegah sopir dari kebiasaan menerobos rel kereta api.

Mayoritas pengemudi Taksi Green SM adalah mantan sopir taksi konvensional atau taksi online yang terbiasa dengan mobil bensin. Mereka kini mengendarai VinFast, mobil listrik dengan karakteristik torsi instan yang sama sekali berbeda. Sekali injak gas, mobil langsung melesat. Sistem pengereman berbeda dan fitur auto-hold yang asing.

Tanpa pelatihan adaptasi yang memadai, hasilnya persis seperti yang sudah kita saksikan: taksi yang "tiba-tiba berjalan mundur sendiri karena sopirnya tidak paham cara kerja sistem pengereman EV”.

Masalah yang lain juga bukan soal kemampuan mengemudi dasar, tapi soft skill keselamatan berkendara: kebiasaan tidak menerobos palang kereta, tidak berhenti sembarangan, tidak melawan arah.

Namun, semua itu jadi terabaikan karena tidak adanya pelatihan yang optimal, bahkan konon hanya dengan modal punya SIM dan bisa menyetir, sudah bisa langsung narik di hari itu juga. Ditambah dengan attitude para pengemudinya yang problematik menjadi sebuah combo mematikan di jalan raya.

Setelah 14 orang tewas, Green SM akhirnya angkat bicara. Melalui akun Instagram resmi mereka, mereka merilis pernyataan resmi yang dengan segala hormat layak dijadikan studi kasus bagaimana sebuah perusahaan bisa tampil sangat tidak berperasaan sambil tetap menggunakan kata "keselamatan."

Press Release Paling Nirempati di 2026

Empat paragraf. Tidak satu pun kata maaf." Tidak satu pun kata "duka." Tidak satu pun nama korban disebut.

Perhatikan juga diksi yang dipilih dengan sangat teliti: "insiden... yang melibatkan satu kendaraan Green SM."

Kata "melibatkan", seolah kendaraan Green SM kebetulan hadir di tempat kejadian, seperti penonton yang tidak sengaja termasuk dalam foto. Bukan "insiden yang dipicu oleh atau 2 "insiden yang disebabkan oleh." Cukup: "melibatkan."

Hukum Bisa Menjangkau, Kalau Ada Kemauan

Secara hukum, Indonesia punya perangkat yang cukup untuk mengejar pertanggungjawaban, baik dari pengemudi maupun dari perusahaan.

Pasal 310 Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengancam pengemudi yang karena kelalaiannya menyebabkan kematian dengan pidana penjara maksimal 6 tahun. Lalu yang penting : perdamaian dengan keluarga korban tidak menghapus tuntutan pidana.

Lalu yang lebih menarik adalah soal tanggung jawab perusahaan. Berdasarkan prinsip vicarious liability dan Pasal 1367 KUH Perdata perusahaan yang mempekerjakan pengemudi turut bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan. Pasal 192 UU LLAJ pun mengatur bahwa Perusahaan Angkutan Umum bertanggung jawab atas korban, kecuali kejadian itu "tidak dapat dicegah atau dihindari."

Di sinilah argumen terkuat untuk menuntut Green SM secara institusional: insiden ini dapat dicegah. Bahkan harus dicegah. Sudah ada banyak insiden sebelumnya yang memberi sinyal jelas bahwa ada yang salah dalam sistem rekrutmen, pelatihan, dan pengawasan pengemudi mereka. Memilih untuk tidak berbenah adalah juga sebuah pilihan dan pilihan itu sekarang duduk di depan 14 peti mati.

Akhir Kata

Tragedi ini tidak butuh empati setengah matang. Tidak butuh kalimat korporat yang rapi tapi kosong, tapi yang dibutuhkan itu sederhana: tanggung jawab yang nyata.

Kalau 11 insiden dalam 17 bulan masih bisa disebut "komitmen keselamatan," berarti standar keselamatan Green SM memang serendah itu. Kalau sistem yang jelas-jelas bermasalah masih dibiarkan jalan, berarti yang dipertahankan bukan keamanan, tapi bisnisnya.

Lalu yang paling mengganggu dari semuanya: ini bukan kejadian yang tidak bisa diprediksi, tapi malah diabaikan. Seperti biasa, di negeri ini, sesuatu baru dianggap serius setelah ada angka korban. Sekarang angkanya 14 korban jiwa.

Pertanyaannya, butuh berapa korban lagi supaya benar-benar ada yang berubah?

*) Source : Andriy Hadinata