Pabrik Pupuk Fosfat Lifosa di di Lithuania Berhenti Produksi
Lifosa—pabrik pupuk fosfat milik EuroChem di Lithuania—telah menghentikan produksinya sejak awal Agustus 2026. Penyebabnya karena lonjakan biaya bahan baku yang menekan kelayakan ekonomi produksi. Hal yang menarik bukan sekadar fakta bahwa satu lagi pabrik pupuk Eropa berhenti beroperasi.
Yang lebih penting adalah apa yang diungkapkan oleh penutupan tersebut mengenai struktur biaya yang mendasari pasar fosfat.
Lifosa memiliki kapasitas tahunan sekitar 1 juta ton untuk Diamonium fosfat (DAP), Monoamonium fosfat (MAP), dan Nitrogen (N), Fosfat (P₂O₅), dan Sulfur (S) atau NPS, serta kapasitas produksi fosfat pakan (feed phosphate) yang signifikan. Hilangnya produksi ini tidak serta-merta mengubah keseimbangan pasar global dalam semalam, namun hal ini menghilangkan satu lagi sumber pasokan Eropa di tengah situasi di mana harga belerang dan input utama lainnya terus melonjak.
Di sinilah letak ironinya. Harga pupuk memang bisa naik, namun jika biaya bahan baku meningkat lebih cepat, kenaikan harga jual tidak selalu berarti keuntungan produksi yang lebih baik. Pada titik tertentu, perhitungan biaya (angka-angka dalam lembar kerja) yang akan menentukan keputusan akhir.
Eropa kini menghadapi penawaran DAP di kisaran € 870/ton FCA, dengan transaksi OCP terbaru dilaporkan berada di kisaran € 850-an/ton. Kendati demikian, permintaan pasar masih jauh dari kata luar biasa. Dengan kata lain, situasi ini bukanlah lonjakan permintaan yang lazim terjadi menurut teori pasar. Pasar terdorong naik dari sisi biaya, sementara pembeli masih enggan menerima tingkat harga yang lebih tinggi tersebut.
Belerang memegang peranan kunci dalam persamaan ini. Harga belerang yang mahal berarti harga asam sulfat juga mahal; asam sulfat yang mahal berdampak pada tingginya biaya asam fosfat; dan pada akhirnya, tekanan biaya tersebut merembet ke harga DAP dan MAP.
Oleh karena itu, sinyal pasar yang sesungguhnya dari kasus Lifosa mungkin bukan terletak pada hilangnya volume produksi saat ini, melainkan pada pertanyaan tentang berapa banyak lagi volume produksi yang akan menjadi tidak ekonomis di masa mendatang jika harga belerang tetap tinggi.
Selama bertahun-tahun, industri pupuk mencemaskan risiko hilangnya permintaan (demand destruction). Kini, industri tersebut mungkin harus menghadapi kekhawatiran akan sesuatu yang tak kalah peliknya: hilangnya kapasitas produksi (production destruction). (*)
Editor : Redaksi