Syaikh Thahir Jalaluddin, Pelopor Reformasi dari Minangkabau
Jauh sebelum teknologi modern berkembang pesat, Nusantara telah melahirkan seorang cendekiawan muslim dan astronom ulung berskala internasional. Beliau adalah Syaikh Thahir Jalaluddin Al-Falaki Al-Azhari Al-Minangkabawi.
Lahir pada 4 Ramadhan 1286 Hijriah (8 Desember 1869 Masehi), kepakaran beliau di bidang astronomi dan ilmu falak menjadikannya sosok sentral dalam lintasan sejarah keilmuan Islam Asia Tenggara.
Sang Pelopor Hisab dan Reformasi Pendidikan
Syaikh Thahir Jalaluddin adalah tokoh pionir yang dengan berani memperkenalkan penggunaan metode hisab (perhitungan astronomis) dalam menentukan awal bulan pada penanggalan Hijriyah di Nusantara.
Visi pembaruannya tidak hanya berhenti di ranah falak; beliau juga menjadi motor penggerak reformasi Islam di Semenanjung Malaya dan Indonesia. Lewat penerbitan pers dan pendirian sekolah-sekolah agama modern, beliau mendobrak kebekuan berpikir dan membawa angin segar kemajuan bagi umat.
Penghormatan Abadi dan Karya Monumental
Dedikasi dan sumbangsih Syaikh Thahir begitu diakui oleh dunia, hingga nama besarnya diabadikan menjadi sebuah lembaga observatorium, yakni Syaikh Tahir Astronomical Center di Pulau Pinang, Malaysia. Selama hidupnya, beliau sangat produktif mewariskan gagasan lewat tulisan berbahasa Arab dan Melayu.
Berikut adalah deretan mahakarya peninggalan beliau yang menjadi rujukan penting hingga kin i:
Ithafa al-Murif fi Ahkam al-Tajwid (1928)
Natījat al-Umur (1936)
Natijatu al-Ummi (1951)
Nukhbatu al-Taqrīrāt fī Hisāb al-Awqāt wa Sumūt al-Qiblat bi al-Lūgārītmāt (Pati Kiraan pada Menentukan Waktu yang Lima dan Hala Qiblat Berdasarkan Logaritma - 1938)
Jadāwil al-Lūgārītmāt
Jadawil Pati Kiraan
Perisai Orang Beriman (1930/1936)
Ini Huraian Yang Membakar "Taman Persuraian" Haji Bakar (1932/1938)
Al-Qiblah fī an-Nusus Ulamā' asy-Syafi'iyah fi ma Yata'allaqu bi Istiqbāl al-Qiblah asy-Syar'iyah Manqulah min Ummuhat Kutūb al-Mazhab
Tazkirat’l-Muttabii ‘l-Sunnah fi ‘r-Raddi ala ‘l-Qaili bi-Sunnati Rak’attaini Qabla ‘l-Jumu’at (1953)
Menghadap Kiblat dalam Salat
Sebab Menulis Ilmu Falak
Penjelasan Ilmu Falak
Risalah Penebas: Bida’ah-Bida’ah di Kepala Batas (1953)
Sang pelita ilmu dari Minangkabau ini menyelesaikan tugasnya di dunia dan berpulang pada 22 Rabiul Awal 1376 H (26 Oktober 1956 M) dalam usia 87 tahun. Pemikirannya menembus batas zaman, mengajarkan kita bahwa Islam amat memuliakan sains dan ilmu pengetahuan. Lahumul fatihah. (*)
Editor : S. Anwar