Ilyas Yacoub Dibuang Belanda ke Papua dan Australia Selama 13 Tahun
Pernahkah Anda membayangkan rasanya hidup di dalam penjara dan kamp pengasingan selama 13 tahun, berpindah-pindah negara, menghadapi ancaman malaria, hingga harus kehilangan anak tercinta di tanah tetangga, namun tetap menolak untuk menyerah kepada musuh?
Itulah sepenggal kisah nyata yang luar biasa dari Haji Ilyas Ya’kub (ejaan baru: Ilyas Yacoub). Beliau adalah seorang ulama kharismatik, jurnalis tajam, dan tokoh pergerakan nasional asal Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kisah hidupnya adalah bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan yang kita nikmati hari ini.
Ulama yang Memilih Jalur "Radikal"
Lahir di lingkungan pesantren yang kuat pada tahun 1903, Ilyas Ya’kub tumbuh menjadi pemuda cerdas yang haus akan ilmu. Ia sempat menempuh pendidikan di Makkah sebelum akhirnya kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir pada tahun 1923.
Di Kairo, Mesir, Ilyas tidak hanya belajar agama. Jiwa nasionalismenya bergejolak melihat tanah airnya dijajah. Ia memimpin organisasi mahasiswa Nusantara di sana dan mendirikan majalah politik Pilihan Timur serta majalah bulanan Seruan Al-Azhar. Lewat tulisan-tulisannya yang tajam, ia membakar semangat anti-penjajahan.
Ketika kembali ke Indonesia pada tahun 1929, ia membawa ideologi yang sangat ditakuti Belanda: Mengawinkan prinsip Islam dengan Wawasan Kebangsaan. Beliau mendirikan partai PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) yang dengan tegas mengambil sikap non-kooperasi—artinya, haram hukumnya bekerja sama dengan penjajah!
Merasakan Kekejaman Boven Digul hingga Dibuang ke Australia
Aktivitas politiknya yang tanpa kompromi membuat pemerintah kolonial Belanda meradang. Menggunakan hak istimewa exorbita terechten (hak membuang orang yang dianggap berbahaya tanpa pengadilan), Belanda menangkap Ilyas Ya’kub.
Mulai tahun 1934, penderitaan fisik sang ulama dimulai. Bersama belahan jiwanya, Tinur, Ilyas dibuang ke Boven Digul, Papua—sebuah kamp pengasingan di tengah hutan belantara yang terkenal sebagai "neraka hijau" karena keganasan nyamuk malarianya. Sepuluh tahun lamanya ia bertahan di sana dalam kondisi serba terbatas.
Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang mulai masuk ke Indonesia, Belanda yang panik tidak mau melepaskan tawanan politiknya. Ilyas Ya’kub beserta keluarganya diangkut paksa dan diasingkan jauh ke pedalaman Australia.
Di Australia, pejabat tinggi Belanda seperti van der Plas dan van Mook mencoba melunakkan hatinya. Mereka merayu Ilyas dengan berbagai fasilitas agar mau bersekutu dengan Belanda. Apa jawabannya? Ilyas Ya'kub bergeming! Semangat Islam dan nasionalismenya terlalu kokoh untuk dibeli dengan kemudahan duniawi. Penjajah dibuat geleng-geleng kepala melihat keteguhan batin ulama Minang ini.
Tragedi Keluarga di Balik Jeruji Internasional
Bahkan setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, penderitaan Ilyas belum berakhir. Saat mencoba pulang dengan kapal pada Oktober 1945, Belanda kembali menangkapnya di pelabuhan.
Ia dan keluarganya kembali dibuang dan dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain di luar negeri: mulai dari Kupang, Sarawak (Malaysia), Brunei Darussalam, Labuan, hingga Singapura. Di Singapura, sebuah tragedi memilukan menimpa keluarga ini. Putranya yang bernama Iqbal wafat di dalam masa tahanan karena kondisi pengasingan yang memprihatinkan.
Akhir Hayat Sang Singa Pergerakan
Barulah pada tahun 1946, setelah 13 tahun keliling dari satu pengasingan ke pengasingan lain, Ilyas Ya’kub bisa menghirup udara merdeka di tanah Jawa. Alih-alih beristirahat karena fisik yang mulai menua dan sakit-sakitan, ia langsung terjun memimpin gerilya pada Perang Revolusi 1948 dan ikut mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua DPR Provinsi Sumatera Tengah.
Sang Singa Pergerakan ini akhirnya wafat dalam kondisi husnul khatimah pada 2 Agustus 1958 dan dimakamkan di depan Masjid Raya Al-Munawarah, Koto Barapak, Bayang. Atas pengorbanannya yang tanpa batas, negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1999 serta Bintang Mahaputra Adipradana.
Kisah H. Ilyas Ya’kub adalah refleksi bagi kita semua. Ketika ditanya apa modalnya menghadapi belasan tahun siksaan penjajah, jawabannya adalah iman dan cinta yang tulus pada tanah air. Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk menjaga persatuan bangsa yang telah diperjuangkan dengan air mata dan darah para syuhada. (*)
*) Source : Nasrul Koto Ps
Editor : S. Anwar