Penjajahan Dimulai dari Meja Makan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Cabe jamu
Cabe jamu
grosir-buah-surabaya

Semua yang ada di atas meja makan kita adalah hasil rekayasa budaya dari era kolonial. Tujuan utamanya adalah ekonomi. Intinya, penjajahan itu nggak dimulai dari senjata. Tapi dari atas meja makanmu.

Sebelum nasi jadi "makanan orang Indonesia."...

Nenek moyang kita makan sagu, thiwul, dan singkong selama ratusan tahun. Beras asli Nusantara yang sudah ada sejak zaman Majapahit (Oryza glaberrima), tidak laku untuk jadi makanan utama. Sebab, warnanya hitam rasanya keras, gampang hancu nggak menarik.

Nasi : Komoditi Kolonial

Baru di abad ke-18, semua berubah. Kolonial Belanda membawa varietas padi baru dari Cina (Oryza sativa), ekspansi besar-besaran, lalu riset varietas unggul. Butuh proses panjang, sampai satu abad kemudian: nasi jadi makanan pokok mayoritas orang Nusantara, terutama bagian barat.

Fun fact: orang Jawa masih bilang "sego", Sunda masih bilang "sangu", itu berasal dari kata "sagu", bukan "nasi". Jejak budaya lama yang ketiban budaya baru.

Sambal juga Diganti

Sambal pedasmu sekarang? Itu juga bukan asli Nusantara. Dulu, orang Jawa pakai cabai jawa/lombok (piper retrofractum) dikeringkan, ditumbuk, dicampur ke sagu.

Abad ke-16, Portugis bawa cabai dari Amerika Selatan (capsicum). Pelan-pelan cabai jawa tersingkir, dan sekarang cuma jadi bahan jamu.

Si tamu menggantikan si tuan rumah.

Minyak Goreng Hasil Black Campaign. Ini bagian paling gila. Orang Indonesia dulu terbiasa pakai minyak kelapa untuk menggoreng.

Tahun 1911, Belanda buka kebun sawit pertama di Nusantara. Tapi orang-orang masih setia sama minyak kelapa. 

Solusinya? Kampanye hitam. Ahli gizi kolonial bilang minyak kelapa "sumber segala penyakit." Padahal, itu strategi supaya sawit laku. Nama "minyak goreng" yang kita pakai sampai sekarang? Warisan dari situ.

Piring dari Daun Pisang Dianggap Tidak Beradab

Makan pakai alas daun pisang dan duduk melingkar?

Dianggap kolonial sebagai kebiasaan yang harus diperbaiki. Piring keramik dan porselen (gaya Eropalm mulai diperkenalkan sebagai simbol orang "beradab" dan "terhormat

Makan Pakai Tangan? Kampungan!

Makan pakai tangan, yang udah jadi tradisi turun-temurun?

Kolonial Belanda bilang itu kampungan dan tidak beretika. Sendok jadi simbol status sosial di Eropa, makin kaya, makin mewah sendoknya. Garpu? Awalnya cuma alat masak, bahkan pernah dikaitkan dengan "iblis" di abad ke-11.

Anak bangsawan pribumi mulai diajari di sekolah Belanda: piring, sendok, garpu sebagai paket "orang beradab."

Budaya Dikonstruksi...

Kenapa semua ini dilakukan?

Karena budaya yang diubah dulu, baru kebutuhan ekonomi bisa "dijual." Bukan produk mengikuti budaya, tapi budaya dikonstruksi supaya orang "butuh" produk tertentu.

Padi, cabai, sawit, piring, sendok, garpu dan lain-lain semua jadi komoditas wajib. Bukan karena orang butuh. Tapi karena kebutuhan itu didesain.

Budaya Meja Makan: Aturan Baru, Kekuasaan Baru

Makan lesehan? Nggak "bangsawan" banget dong...

Harus di meja. Ada aturan duduk, tata hidang, posisi kepala keluarga, semua ala Eropa. Kenapa? Karena "beretika" = standar yang dibuat oleh penjajah, bukan oleh budaya lokal.

Satu per satu, kebiasaan lama dihapus sampai berubah 100%. (*)

*) Source : Adhyra Irianto (Pojokseni)