Kisah KH Arwani Amin Kecopetan
KH Arwani Amin Kudus dikenal luas sebagai salah satu ulama besar ahli Al-Qur'an di Nusantara. Sepanjang hidupnya yang penuh keteladanan, beliau melahirkan ribuan santri yang kini tersebar di pelosok kampung hingga kota.
Ruh Al-Qur'an seolah selalu memancar dari dalam dirinya, membuat nama beliau harum sebagai salah satu waliyullah yang masyhur hingga hari ini.
Di bawah asuhan beliaulah, Pondok Pesantren (Ponpes) Yanbu’ul Qur’an di Kabupaten Kudus berdiri dan sukses menjadi kiblat utama bagi para penghafal Al-Qur'an (hafidz-hafidzah) dari seantero Indonesia.
Di balik karisma besar tersebut, tersimpan berbagai kisah nyata penuh hikmah Islam yang menyentuh hati. Salah satu cerita yang paling berkesan adalah saat beliau mengalami musibah di Terminal Terboyo, Semarang.
Kegaduhan di Terminal Terboyo.
Suatu hari, KH Arwani Amin melakukan sebuah perjalanan dengan menggunakan bus umum. Begitu beliau melangkah turun di Terminal Terboyo, Semarang, seorang pencopet yang lincah berhasil menyikat dompet milik sang ulama.
Santri yang mendampingi beliau menyadari kejadian tersebut. Dengan rasa terkejut dan amarah yang memuncak, sang santri spontan berteriak sambil mengejar pelaku.
"Copet...! Copet...!" teriaknya memecah keramaian terminal.
Suasana seketika berubah menjadi gaduh dan serabutan. Penumpang lain yang berada di lokasi ikut berlarian mengejar sang pencopet. Namun sayang, pencopet tersebut terlalu cerdik dan menguasai medan terminal.
Ia berhasil lolos dan raib di telan kerumunan. Para santri kembali dengan napas terengah-engah, diselimuti rasa kecewa sekaligus geram. Bagi mereka, sungguh keterlaluan ada orang yang berani mengusik ketenangan guru mulia mereka.
Ketenangan Sang Waliyullah.
Di tengah kegaduhan dan kepanikan para santrinya, Kiai Arwani justru menunjukkan sikap yang sangat bertolak belakang. Beliau tampak sangat tenang, seolah-olah tidak terjadi peristiwa apa pun. Bibirnya terus bergerak, sibuk melantunkan zikir kepada Allah SWT.
Melihat sang guru yang tampak tidak ambil pusing, santrinya pun mendekat untuk melapor.
"Kiai, Njenengan (Anda) baru saja kecopetan!" ujar santrinya dengan nada panik.
"Oh, ya?" jawab Kiai Arwani dengan sangat santai.
"Benar, Kiai. Tapi kami gagal menangkapnya. Keterlaluan betul pencopet itu!" keluh sang santri masih dengan sisa kekesalannya.
Mendengar laporan itu, kalimat yang keluar dari lisan Kiai Arwani justru membuat para santri tertegun.
"Alhamdulillah.... Sudahlah kalian tidak perlu ribut-ribut. Saya bersyukur, yang dicopet itu saya!" ucap beliau lembut.
Sang santri pun bingung dengan respons tersebut.
"Apa maksudnya, Kiai?"
"Syukur.... syukur Alhamdulillah. Karena saya yang dicopet, bukan saya yang menjadi pencopetnya!" jawab Kiai Arwani penuh ketenangan.
Pelajaran Berharga tentang Hakikat Syukur.
Mendengar jawaban sang guru, para santri seketika terdiam dan saling pandang. Mereka bengong, mencoba mencerna logika berpikir sang Kiai yang begitu jernih.
Melihat para santrinya kebingungan, Kiai Arwani kemudian melemparkan sebuah pertanyaan retoris.
"Sekarang apa jawab kalian jika aku tanya, lebih baik mana, menjadi orang yang dicopet atau menjadi tukang copetnya?"
Pertanyaan sederhana itu langsung menghujam lubuk hati para santri. Jawaban KH Arwani Amin sungguh tak terbantahkan dan masuk akal. Nuansa zuhud, kesufian, dan ketulusan hati mengiringi setiap bait kalimat yang diucapkannya. Para santri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda paham sekaligus takjub yang luar biasa.
Hari itu, di tengah debu dan bisingnya Terminal Semarang, para santri mendapatkan sebuah pelajaran spiritual yang sangat mahal—pelajaran yang tidak akan pernah mereka temukan dalam barisan teori kitab mana pun.
KH Arwani Amin telah mencontohkan secara nyata bahwa di dalam musibah yang paling menjengkelkan sekalipun, seorang hamba beriman masih bisa menemukan celah yang luas untuk bersyukur kepada Allah SWT.
Kagem Mbah KH Arwani Amin Amin lahul fatihah..
Editor : Bambang Harianto