Sejarah Rumah Sakit Panti Nirmala
Trautamatis bangsa Eropa terhadap penyakit menular tropis, membuat mereka ketika berhasil membangun fasilitas kesehatan di Nusantara pada medio abad-18, aksesnya hanya diutamakan untuk bangsa mereka sendiri. Meskipun layanan kesehatan bagi Bumiputera dan bangsa lain di Indonesia ada, namun sangat terbatas.
Termasuklah warga Tionghoa di Tanah Air yang merasakan diskriminasi layanan kesehatan tersebut. Khusus yang ada di Malang, masyarakat Tionghoa dan Bumiputera memang tidak mudah merasakan akses layanan kesehatan yang layak. Selain sulit diakses juga sangat mahal.
Hal tersebut menjadi perhatian oleh seorang Jurnalis bernama Koo Liong Ing. Ia pun mengajak seorang dokter yang peduli dengan kondisi memprihatinkan tersebut, yaitu dr Liem Ghik Djiang.
Mereka berdua membahas bagaimana mengatasi layanan kesehatan buruk bagi masyarakat non Eropa tersebut pertama kali pada 25 Agustus 1929 pada rapat Tiong Hwa Hwee.
Pada pertemuan warga Tionghoa itu, ide tersebut langsung disambut positif banyak pihak, dan mewujudkan dalam beragam bentuk sumbangan dan donasi. Dari sinilah akhirnya pada 1 Oktober 1929, berdiri sebuah Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS) di Kota Malang dengan lokasi pertama ada di Jalan Pecinan (Pasar Besar).
Dokter Liem Ghik Djiang adalah salah satu yang menjadi dokter di klinik tersebut. Ia melayani klinik secara pro bono, tanpa bayaran. Tak hanya dr Liem Ghik Djiang, Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS) juga mencatat dr Kuyk, Dr Soerodjo dan dr Soesman. Ternyatalah upaya baik ini direspon oleh berbagai pihak. Bukan hanya dari kalangan Tionghoa saja.
Klinik ini segera saja menjadi terkenal dan dimanfaatkan oleh orang-orang di Kota Malang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Bukan hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi masyarakat umum yang tak mampu menjangkau layanan rumah sakit Belanda pada pergi ke klinik Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS). Perjalanan klinik ini tidaklah mulus.
Sebab setiap bulan senantiasa mengalami kerugian. Tentu saja rugi, sebab masyarakat dibebaskan dari ongkos periksa dan obat. Mereka boleh membayar semampunya atau bahkan tidak membayar sama sekali.
Bertahan Dalam Badai Krisis Pendanaan
Dengan situasi seperti ini para pengelola Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS), terus memutar otak bekerja keras, karena dana dari donatur serta tombokan dari para pengusaha Tionghoa di Malang tidaklah cukup. Bahkan Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS) pernah mengumpulkan dana melalui pertunjukan tonil dan pasar malam.
Salah satu kelompok tonil yang sukarela melakukan pertunjukan rutin untuk THIS adalah Kumpulan Ang Hien Hoo, yang sebenarnya adalah perkumpulan kematian wadga Tionghoa di Malang. Mengumpulkan donasi melalui seni budaya dilakukan THIS mulai awal berdiri, hingga pertama kali berubah menjadi rumah sakit pada medio 1945-1950.
Berpindah dan tranformasi
Setelah ramai Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS) terus berpindah, untuk bisa menampung pasien. Mulai dari Pecinan, ke Kotalama, ke Jalan Kidul Pasar (Kyai Tamin), lalu ke Djagalanstraat (Jalan Sutan Syahrir), kemudian ke Jalan Klenteng (Jalan Laksamana Martadinata).
Ketika semakin dikenal dan masyarakat dadi antero Malang Raya mulai datang ke Poliklinik Tionghoa Hwa Le Sia (THIS), maka diputuskan membeli gudang kopi di Jalan Gudang garam nomor 8 Malang (sekarang Jalan Kebalen Wetan 2 – 8 Malang). Lokasi ini adalah lokasi gedung induk (Unit 1) RS Panti Nirmala sekarang.
Perluasan lokasi kembali dilakukan di tahun 1954, bertepatan dengan ulang tahun ke-25 perkumpulan/rumah sakit, dengan penambahan tanah seluas 5.000 m2. Areal ini dimanfaatkan untuk bangunan poliklinik umum, kebidanan, penyakit dalam, poliklinik gigi dan ruang perawatan.
Pada 1 April 1948, THIS beroperasi penuh dengan 60 tempat tidur. Dalam perkembanganya, Rumah sakit ini juga mendapat bantuan dari berbagai pihak, yakni dari lembaga supplier alat-alat kesehatan di Negeri Belanda, yaitu SIMAVI (Steun In Medische Aangelegenheden Voor Inheemschen) serta dari Uskup Malang.
Untuk memantapkan eksistensinya, sejak tahun 1961 nama “Tiong Hwa Ie Sia” diganti menjadi “Panti Nirmala”. Hal ini juga dikarenakan semangat nasionalisme yang ketika itu digaungkan pemerintah, meskipun tetap berinduk pada perkumpulan Tiong Hwa Ie Sia.
Pada perjalanan selanjutnya, di tahun 1980 dibentuklah Yayasan Rumah Sakit Panti Nirmala Malang.
Sejak awal tahun 1993 Yayasan mulai berusaha dan mencari cara bagaimana Rumah Sakit Panti Nirmala bisa mengembangkan diri.
Pembenahan dan penelitian pun dilakukan melalui berbagai pembicaraan dengan Perdhaki dan beberapa pihak. Hasilnya pada tahap pertama diperlukan penelitian secara khusus terhadap Rumah Sakit Panti Nirmala. Penelitian pendahuluan dilakukan tanggal 27 Oktober 1994 dan 10 – 11 November 1994. Hasil penelitian tersebut, menguraikan berbagai kelemahan Rumah Sakit Panti Nirmala dan cara – cara mengatasinya.
Pengurus Yayasan pun segera melakukan pembenahan intern dan menghubungi berbagai lembaga khususnya yang bergerak di bidang kesehatan. (*)
*) Source : Hino Kertapati
Editor : Bambang Harianto