Profil Ahmad Nazri Adlani
Indonesia dibesarkan oleh tokoh-tokoh yang memiliki kombinasi keahlian luar biasa. Namun, sangat jarang ditemukan seorang figur yang mampu memadukan ketegasan disiplin militer, kedalaman ilmu ulama, kematangan akademisi, hingga kepiawaian berpolitik di tingkat tertinggi negara. Sosok langka itu melekat utuh pada diri Prof. Dr. KH. Ahmad Nazri Adlani. Pria kelahiran Ujung Gading, Pasaman Barat, Sumatra Barat pada 1 Mei 1938 ini adalah potret nyata seorang jenderal-ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk agama dan bangsa.
Darah Ulama dan Tempaan Ilmu hingga ke Al-Azhar Kairo
Darah kepemimpinan dan dakwah sudah mengalir kental di tubuh Ahmad Nazri sejak lahir. Beliau merupakan putra kandung dari ulama karismatik, Syekh Haji Mohammad Adlani, yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Adlaniyah dan Nursyakiah di Pasaman Barat. Lingkungan pesantren inilah yang membentuk fondasi spiritual Nazri kecil yang kokoh.
Setelah menuntaskan pendidikan dasarnya di Ujung Gading dan lulus dari Aliyah Pesantren Adlaniyah pada tahun 1957, Nazri memulai pengembaraan intelektualnya ke berbagai kota. Ia meraih gelar Sarjana Muda dari Fakultas Syari'ah Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) pada tahun 1963.
Hasratnya yang tak pernah padam terhadap ilmu agama membawanya ke Jakarta untuk meraih gelar Sarjana Lengkap di IAIN Syarif Hidayatullah pada 1968. Kecemerlangan akademisnya kemudian mengantarkan Nazri mendapatkan tugas belajar di salah satu kiblat keilmuan Islam dunia, Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir pada kurun waktu 1970–1971.
Karier Militer : Sang Penjaga Benteng Mental Spiritual TNI AD
Kisah hidup Ahmad Nazri Adlani mengambil jalur yang unik ketika ia memutuskan masuk ke dunia militer. Bukan di garis depan pertempuran senjata, melainkan sebagai penasihat spiritual dan pembina mental para prajurit TNI Angkatan Darat—sebuah tugas krusial dalam menjaga moral dan integritas korps.
Perjalanan militernya dimulai selepas menamatkan kursus dinas imam militer pada 1961. Menjabat sebagai Perwira Rohani Islam di Rinif Kodim I Pematang Siantar dengan pangkat Letnan Dua pada 1963, kariernya terus merangkak naik ke tingkat pusat di Jakarta.
Pangkatnya naik menjadi Letnan Satu saat menjabat Sekretaris Pusat Rohani Islam TNI AD, dan sepulang dari Mesir ia meraih pangkat Mayor sebagai Perwira Rohani Islam Komando Markas Besar Angkatan Darat (Komasad). Dedikasinya yang tinggi di bidang mental personel membuatnya dipercaya memegang pangkat Letnan Kolonel, hingga akhirnya meraih pangkat Kolonel pada tahun 1978 dengan posisi mentereng sebagai Kepala Pembinaan Rohani Islam pada Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat (Disbintalad).
Dari Kursi Rektor hingga Pimpinan Tertinggi MPR RI
Di samping pengabdian militernya, dunia pendidikan tinggi tidak bisa dilepaskan dari rekam jejak Nazri Adlani. Keahlian manajemen dan kedalaman ilmunya membuat beliau dipercaya menjabat sebagai Rektor Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (1984–1987), sebelum akhirnya dipanggil kembali ke Sumatra untuk memimpin IAIN Sumatera Utara di Medan sebagai Rektor selama dua periode (1987–1995).
Ketika Indonesia memasuki gerbang era reformasi, ketokohan nasional Nazri Adlani semakin diperhitungkan. Ketenangan, kebijaksanaan, dan latar belakangnya yang bersih membuat beliau terpilih mewakili Fraksi Utusan Golongan untuk menduduki kursi jabatan sebagai Wakil Ketua MPR RI periode 1999–2004. Di masa-masa transisi politik bangsa yang penuh gejolak itu, Nazri menjadi salah satu pilar penyejuk di parlemen.
Pengaruhnya di organisasi keagamaan juga sangat masif. Pemikirannya yang merangkul membuat beliau dipercaya sebagai Ketua Umum ormas Islam Al Ittihadiyah selama sepuluh tahun (2000–2010), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), hingga ranah profesional sebagai Ketua Dewan Pengawas Syariah di Bank Tabungan Negara (BTN).
Mewariskan Generasi Intelektual
Ahmad Nazri Adlani mengembuskan napas terakhirnya di Tangerang Selatan pada 6 Mei 2024 dalam usia 86 tahun. Sesuai wasiat dan kecintaannya pada tanah kelahiran, raga sang jenderal-ulama dipulangkan dan dimakamkan dengan khidmat di kompleks Pondok Pesantren Adlaniyah, Pasaman Barat.
Beliau tidak hanya meninggalkan warisan berupa tumpukan jasa bagi negara, tetapi juga teladan keluarga yang sukses. Bersama sang istri, Aniarti, beliau berhasil mendidik anak-anaknya menjadi insan yang bermanfaat: dr. Hadianti Adlani (dokter spesialis penyakit dalam), Muniaty Aisyah (dosen tetap Manajemen UIN Jakarta), dan Muhammad Umar, yang melanjutkan tongkat estafet pengabdian politik dengan menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Pasaman Barat. (*)
*) Source : Nasrul Koto
Editor : S. Anwar