Nur Sutan Iskandar, Pemimpin Redaksi Balai Pustaka yang Paling Produktif

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Nur Sutan Iskandar
Nur Sutan Iskandar
grosir-buah-surabaya

Jika kita berbicara tentang masa keemasan sastra Indonesia era Angkatan Balai Pustaka, nama Nur Sutan Iskandar dipastikan berada di jajaran paling depan. Pria kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, pada 3 November 1893 ini bukan sekadar penulis biasa, melainkan salah satu nakhoda utama yang ikut mengarahkan jalannya sejarah sastra modern di tanah air.

Sepanjang hidupnya hingga berpulang pada 28 November 1975 di usia 82 tahun, ia tercatat sebagai sastrawan paling produktif di angkatannya. Dedikasinya yang luar biasa di dunia literasi berhasil meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan bahasa dan ejaan bahasa Indonesia melalui lembaga penerbitan negara.

Darah Bangsawan Maninjau dan Makna Sebuah Gelar

Nur Sutan Iskandar lahir dengan nama asli Muhammad Nur. Ia tumbuh di lingkungan keluarga terpandang di tepi Danau Maninjau yang indah dan tenang. Ayahnya adalah Engku Kepala Datuk Rajo Endah, dan ia merupakan cucu dari Tuanku Laras di Maninjau. Jejak kemegahan keluarganya ini bahkan masih bisa disaksikan melalui peninggalan berupa Rumah Gadang Baanjuang Tanjung Raya yang berdiri kokoh.

Sebagaimana tradisi kebudayaan Minangkabau yang memegang teguh prinsip “kecil bernama, besar bergelar”, Muhammad Nur mendapatkan gelar kehormatan saat ia melangsungkan pernikahan. Gelar Sutan Iskandar yang disematkan kepadanya kemudian dipadukan dengan nama aslinya. Sejak saat itulah, nama Nur Sutan Iskandar abadi dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Dari Guru Bantu Menjadi Bos Besar Balai Pustaka

Perjalanan karier Nur Sutan Iskandar di dunia literasi dimulai benar-benar dari bawah. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat pada tahun 1909, ia sempat mengabdikan diri sebagai seorang guru bantu di tanah kelahirannya. Namun, panggilan jiwa yang kuat terhadap dunia kata-kata membawanya mengambil keputusan besar untuk merantau ke Batavia (Jakarta) pada tahun 1919.

Di ibu kota, ia bergabung dengan Balai Pustaka—sebuah lembaga penerbitan resmi milik pemerintah yang kelak menjadi kawah candradimuka sastra Indonesia. Di sana, ia memulai kariernya dari posisi paling dasar, yaitu sebagai korektor naskah karangan (proofreader).

Ketelitian, kecerdasan, dan ketajaman analisisnya dalam menyunting tulisan membuat kariernya melesat tajam. Hanya dalam beberapa tahun, ia dipercaya menduduki posisi puncak sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925–1942). Kepemimpinannya berlanjut di masa-masa sulit perang, di mana ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka dari tahun 1942 hingga 1945. Di bawah arahannya, Balai Pustaka melahirkan ratusan buku bermutu yang menjadi konsumsi intelektual masyarakat kala itu.

Maestro Literasi: Sastrawan Terproduktif dan Penerjemah Ulung

Di luar kesibukannya mengendalikan dapur redaksi penerbitan terbesar di masanya, Nur Sutan Iskandar adalah mesin penulis yang luar biasa. Ia diakui sebagai sastrawan paling subur dan produktif di Angkatan Balai Pustaka. Beberapa novel gubahan aslinya yang terkenal dan menjadi rujukan sejarah literasi antara lain Salah Pilih, Hulu Balang Raja, dan Katak Hendak Jadi Lembu.

Hebatnya lagi, visi literasi Nur Sutan Iskandar melompat melampaui batas negaranya. Ia menyadari pentingnya memperkaya khazanah berpikir bangsa dengan literatur dunia. Oleh karena itu, ia aktif menyadur serta menerjemahkan buku-buku mahakarya dari para pengarang legendaris dunia ke dalam bahasa Indonesia.

Masyarakat Indonesia era itu bisa menikmati keseruan kisah detektif Sherlock Holmes karya Arthur Conan Doyle, petualangan epik dari H. Rider Haggard, hingga cerita klasik karya Alexandre Dumas, semuanya berkat sentuhan terjemahan emas dari Nur Sutan Iskandar.

Hingga akhir hayatnya, Nur Sutan Iskandar telah mewariskan harta karun literasi yang tak ternilai harganya. Ia membuktikan bahwa seorang anak guru dari tepian Danau Maninjau, lewat ketekunan dan kecintaan pada bahasa, mampu menjadi nakhoda yang mengarahkan arus sastra sebuah bangsa besar bernama Indonesia. (*)