Kisah Mochamad Jasin Meredam Pemberontakan di Aceh
Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dihiasi oleh nama-nama jenderal besar yang tidak hanya tangguh di medan laga, tetapi juga ulung di meja perundingan. Salah satu sosok teladan tersebut adalah Letnan Jenderal TNI (Purn) Mochamad Jasin.
Tokoh militer senior ini dikenal luas atas dedikasinya yang tinggi bagi keutuhan NKRI, terutama perannya yang sangat masif dalam merajut perdamaian di tanah Serambi Mekah lewat pendekatan dialogis yang humanis.
Darah Campuran Minang-Jawa dan Awal Pengabdian
Mochamad Jasin lahir di Sabang, Pulau Weh, Aceh, pada 22 Juli 1921. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang plural, lahir dari seorang ayah bernama Mochamad Iyas yang berdarah Jawa dan ibu yang berdarah Minangkabau asal Sumatra Barat. Perpaduan latar belakang budaya ini membentuk karakternya menjadi sosok yang adaptif, berwawasan luas, namun tetap tegas. Pada tahun 1945, di awal masa kemerdekaan, ia memantapkan komitmen hidupnya dengan menikahi Siti Abesanti.
Karier militer Jasin merangkak naik berkat kecakapan kepemimpinan dan integritasnya yang tanpa cacat. Salah satu torehan tinta emas dalam kariernya terjadi saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) I/Iskandar Muda di Aceh untuk periode 1960–1963.
Aktor Utama Perdamaian DI/TII Aceh
Saat menjabat sebagai Pangdam di Aceh, Jasin dihadapkan pada ujian sejarah yang amat berat berupa pergolakan daerah DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Namun, alih-alih menggunakan pendekatan militer murni yang represif dan berisiko mengorbankan warga sipil, Jasin memilih jalur diplomasi, pendekatan budaya, dan dialog yang menyentuh hati.
Ia menjadi aktor utama yang berperan sangat besar dalam menjembatani kesepahaman serta menciptakan perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan kelompok DI/TII Aceh yang saat itu dipimpin oleh tokoh kharismatik, Teungku Daud Beureu'eh. Keberhasilan rekonsiliasi ini dicatat sebagai salah satu prestasi terbaik dalam sejarah penyelesaian konflik di Indonesia karena berhasil meredam pemberontakan secara damai dan menghentikan pertumpahan darah antarsesama anak bangsa.
Menuju Puncak Komando Angkatan Darat
Selepas sukses besar menjaga stabilitas dan melahirkan perdamaian di Aceh, reputasi Jasin kian mengkilap di mata markas besar amanah militer. Ia kemudian digeser ke Jawa Timur untuk menjabat sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) VIII/Brawijaya dari tahun 1967 hingga 1970.
Puncak karier militernya kedatangan momentum emas pada era 1970-an, di mana ia secara resmi diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakil KSAD) ABRI. Posisi ini menempatkannya sebagai salah satu perwira tinggi paling berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan strategis pertahanan dan keamanan nasional pada masanya.
Setelah pensiun, sang jenderal menikmati masa tuanya dengan bersahaja dan aktif menulis ingatan sejarahnya. Pada 7 April 2013, Jenderal M. Jasin tutup usia pada umur 91 tahun. Jenazah sang tokoh pembuat damai ini dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, meninggalkan warisan keteladanan tentang arti penting diplomasi dalam menjaga persatuan bangsa. (*)
Editor : Junaidi