Bikin Pupuk Organik dengan Kadar Nitrogen Setinggi Urea

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Pembuatan pupuk organik
Pembuatan pupuk organik
grosir-buah-surabaya

Bisakah kita membuat pupuk organik yang Nitrogen atau N-nya setinggi Urea? Jawabannya pendek : mustahil. Dan ini bukan soal malas riset, atau ketidakmampuan teknik, tapi memang mentok di hukum kimia. 

Jadi, jika ada yang ngeklaim mampu membuat pupuk organik yang kadar Nitrogen atau N -nya sebanding dengan urea, kemungkinannya hanya dua, antara dia bohong atau tidak paham hukum alam. 

Semangat berorganik, atau mandiri pupuk, itu bagus. Tapi semangat saja tidak cukup. Kita butuh ilmu, suatu hal yang membedakan kita dengan hewan lainnya.

Urea vs Organik : Beda Kelas dari Rumus Kimianya 

Urea itu CO(NH2)2. Kalau dihitung, nitrogennya 46%. Artinya dalam 1 kg urea ada 460 gram nitrogen murni. Itu angka tertinggi untuk pupuk padat yang masih stabil di suhu ruang. Tidak ada senyawa lain yang lebih padat nitrogen kecuali kita main di amonia cair yang ribet penanganannya.

Kenapa Nitrogen atau N Organik Mentok di 16% ? Sekarang lihat bahan organik. Semua pupuk organik itu basisnya protein. Protein paling kaya nitrogen di alam pun cuma 16%, karena nitrogennya masih terikat bareng karbon, hidrogen, dan oksigen dalam rantai asam amino yang panjang. Begitu jadi bahan nyata, angkanya turun lagi. 

Tepung darah yang paling tinggi cuma 13% sampai 15%. Bulu ayam yang sudah direbus pakai kapur supaya lunak dapat 12% sampai 13%. Tepung ikan 9% sampai 11%, bungkil kedelai 7% sampai 8%, ampas tahu kalau dikeringkan 8% sampai 9%. Kompos kotoran sapi yang biasa kita pakai di sawah bahkan cuma 1% sampai 2%.

Selisihnya sejauh apa? Jadi kalau disandingkan, selisihnya 3 sampai 30 kali lipat. Untuk dapat 1 kg nitrogen murni, kita cukup 2,17 kg urea. Tapi kalau pakai tepung darah butuh 7 kg. Kalau pakai kompos kohe sapi butuh 66 kg. 

Bayangkan saja kalau 1 hektar sawahmu kamu tanami padi, dan kebutuhan N-nya hanya mengandalkan kohe (kotoran hewan), butuh berapa ton? Paling tidak 6 ton kan? Itu hanya untuk sekali panen! Bayangkan saja. Kenapa tidak bisa dipaksa naik? 

Karena begitu kita murnikan sampai nitrogennya 46%, wujudnya pasti berubah jadi senyawa sederhana macam amonia NH3 atau amonium nitrat NH4NO3. Dan di aturan pertanian, itu sudah tidak disebut organik lagi. Jadi definisinya gugur sendiri. Batas alami bahan organik ya sekitar 15%. Lewat dari itu baunya sudah menyengat, cairannya cepat jadi gas amonia, dan gampang busuk.

Kalau bikin pupuk organik yang mendekati Urea, bisa? 

Bisa tidak kita bikin organik yang Nitrogen atau N -nya mendekati, dan murah? Nah ini baru bisa. Kita main di angka 8% sampai 12%. Caranya pakai bahan yang memang proteinnya tinggi dan mudah didapat di sekitar kita. Misalnya bulu ayam dari tempat pemotongan. Biasanya dibuang. Kita rebus dua jam dengan sedikit kapur, serat keratinnya pecah dan nitrogennya naik ke 12%. 

Campur dengan ampas tahu yang tinggal minta di pabrik, kasih gula merah dan EM4, fermentasi tiga minggu. Jadinya pupuk cair dengan Nitrogen atau N sekitar 9 sampai 11%. Satu liter cairan ini nitrogennya setara 200 gram urea. Biaya bikinnya tidak sampai seribu rupiah per liter. 

Kalau mau lebih cepat, pakai bungkil kedelai 2 kg dicampur urin kelinci 5 liter. Urin kelinci itu nitrogennya 2 % sampai 3�n sudah dalam bentuk yang gampang diserap tanaman. Fermentasi dua minggu, Nitrogen atau N -nya dapat 8 % sampai 9%. Baunya memang asam, tapi itu tanda proteinnya sudah jadi asam amino.

Hitung-hitungan di Lahan : Urea vs POC N Tinggi 

Sekarang kita bandingkan lurus. Untuk dapat 1 kg nitrogen, urea butuh 2,17 kg dengan harga 5.425 rupiah kalau subsidi. POC dari bulu ayam tadi butuh 10 liter dengan biaya 20 ribu rupiah. Dari bungkil kedelai butuh 12 liter dengan biaya 24 ribu rupiah. Artinya secara volume kita perlu 4 sampai 5 kali lebih banyak dibanding urea. Kalau biasa tabur 100 kg urea per hektar, gantinya butuh 450 sampai 500 liter POC.

Kelebihan Organik yang Tidak Dimiliki Urea 

Kelihatannya boros. Tapi di sinilah bedanya. Urea itu hanya nitrogen, titik. Tidak ada yang lain. Sementara POC dari bulu atau bungkil tadi bawa fosfor, kalium, kalsium, zinc, asam amino, hormon tumbuh, plus mikroba. Ibaratnya urea itu infus glukosa, langsung masuk darah tapi setelah itu habis. 

Ibaratnya, organik itu makan siang lengkap, ada nasi, sayur, lauk, dan probiotik. Nitrogennya dilepas pelan-pelan selama dua sampai empat minggu, jadi yang menguap ke udara lebih sedikit. Tanahnya juga ikut gembur, cacing balik, pH tidak drop.

Strategi paling realistis saat ini? Melihat kondisi tanah kita yang sudah sedemikian rupa kita eksploitasi, maka ya paling realistis itu pakai dua-duanya. Kurangi urea 30 % sampai 50%, ganti dengan POC Nitrogen atau N tinggi. Misal biasa 200 kg urea, jadi 100 kg urea ditambah 500 liter POC. Total nitrogen masuknya sama, tapi tanahnya tidak bantat dan biaya hampir imbang. 

Bisa juga misalnya tambah lagi tebar Azolla di sela padi. Tanaman paku air itu bisa nambat nitrogen gratis dari udara 50 sampai 100 kg per hektar per musim. Itu bonus setara 100 sampai 200 kg urea tanpa beli.

Main di Realitas, Bukan Mimpi 

Jadi ringkasnya begini. Bikin organik dengan Nitrogen atau N 46% itu melawan hukum protein. Mustahil. Tapi bikin organik Nitrogen atau N 10% itu gampang, pakai bulu ayam, ampas tahu, bungkil kedelai. Volume memang 4 sampai 5 kali urea, tapi kita dapat paket lengkap untuk tanah. 

Urea buat ngebut sesaat, organik buat maraton jangka panjang. Kalau digabung, sawah kencang, tanah juga waras. Kira-kira seperti itu ya. 

*) Source Ronda Tani