Berusia 54 Tahun, Blue Bird Masih Jadi Market Leader di Industri Transportasi
PT Blue Bird Tbk (BIRD), perusahaan layanan transportasi berhasil melewati badai pada tahun 1998, 2016, dan 2020. Ternyata, perjuangan ini dimulai dari Ibu yang terinspirasi dengan dongeng dari Eropa.
Tak terbayangkan, betapa sedihnya ditinggal suami tercinta meninggal dunia. Itu yang dialami oleh Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono.
Semasa hidup, sang suami berjasa dalam mendirikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Akademi Hukum Militer (AHM). Sebagai penghormatan, keluarga ini menerima hadiah dua unit mobil sedan, Opel dan Mercedes.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono memikirkan bagaimana agar dua mobil ini bisa membantunya dalam melanjutkan hidup dan juga bisa memberikan kebahagiaan untuk banyak orang.
Baginya, "Harta terbesar dalam hidup manusia adalah kepintaran, karena itu tidak bisa hilang atau dirampas."
Keputusan dibuat, dua mobil itu mulai menjadi layanan taksi. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono dibantu oleh anak-anaknya. Kantor taksi itu dimulai dari garasi rumah dengan harapan yang besar.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono juga mengajak kerja sama dengan para janda pahlawan untuk memanfaatkan mobil mereka.
Armada taksi pun terus bertambah seiring dengan kebutuhan market yang meningkat. Namun sayang, taksi ini masih belum mengantongi izin. Tapi, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono tidak menyerah. Berbagai usaha dilakukan.
Sampai waktunya tiba, pada 1 Mei 1972, izin itu sudah ada di genggaman. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono pun memberikan nama 'Blue Bird' untuk anak barunya ini.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono mengaku bahwa nama 'Blue Bird' terinspirasi dari dongeng Eropa tentang burung biru yang membawa kebahagiaan. Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono berharap hal yang sama.
Semoga taksi burung birunya ini bisa membawa kebahagiaan bagi pelanggan, pengemudi, dan semua orang yang terlibat di dalamnya.
Ada satu dongeng yang sering sekali Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono ceritakan pada anak dan cucu-cucunya. Satu cerita, diulang berkali-kali, akhirnya menancap di sanubari.
Ada seorang anak perempuan, masih kecil. Dia miskin dan hanya sebatang kara. Dia pun ingin mencari kebahagiaan. Saat itu, dia hanya punya sepotong sandwich. Dia terus berjalan. Lalu, bertemu harta karun.
"Ambil aja harta karunnya, kamu kan lagi cari kebahagiaan. Kamu akan bahagia selamanya dengan semua harta ini."
Si anak menggeleng. Dia merasa itu bukan kebahagiaan yang dia cari. Dia pun terus berjalan. Lalu, bertemu lagi dengan teman sebayanya yang ingin berpesta.
"Kamu kan mau cari kebahagiaan, ayo dong ikut kita aja! Kita akan bersenang-senang."
Anak itu menggeleng lagi. "Itu bukan kebahagiaan yang aku mau."
Dia lanjut berjalan, sedangkan hari sudah malam. Dia pun lelah dan kelaparan. Akhirnya, dia duduk dan baru mau makan sandwich yang dia punya.
Di saat yang sama, dia melihat kakek tua itu sedang kelaparan. Spontan, dia langsung saja memberikan satu-satunya makanan yang dia punya.
Saat itulah burung biru itu datang dan memberikan semua yang dibutuhkan oleh anak kecil itu.
Dari cerita itu, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono ingin berpesan bahwa ketika kita memberi, maka kita akan lebih mudah menerima. Memberi tidak selalu tentang harta. Tapi, masih bisa dengan cara lain.
Maka, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono melatih para pengemudi untuk selalu 'memberi' setiap ada pelanggan yang baru masuk. Dengan cara apa?
Dengan menyapa dan senyuman. It is a form of giving.
Begitu juga untuk yang ada di manajemen. Makin tinggi levelnya, makin tinggi pula dalam 'memberikan' pelayanan.
Ketika ada yang cuti, maka bukan bawahan yang take over pekerjaan, tapi atasan yang mengambil alih.
Tidak cukup juga hanya mendengar cerita dari lapangan. Sering kali para direksi menjadi driver untuk merasakan apa yang terjadi.
Karena mengetahui, beda dengan mengerti, dan mengerti tidak sama dengan merasakan. Maka, perlu merasakan baru bisa mengetahui dan mengerti apa yang terjadi hingga bisa memberikan solusi yang tepat, bukan hanya berdasarkan asumsi.
Perjalanan menuju 54 tahun tentu tidak mudah. Ada krisis pada tahun 1998 yang dihadapi, tapi ternyata itu menjadi loncatan Bluebird untuk makin berkembang.
Saat kerusuhan itu terjadi, mereka memutuskan untuk tidak ada yang pulang. Ini adalah bisnis keluarga, maka dihadapi dengan kekeluargaan oleh semua stakeholder yang ada.
Next day, banyak yang harus dievakuasi, khususnya ke bandara. Saat itu belum menggunakan google map, sedangkan jalan masih banyak yang ditutup.
Bluebird hadir di depan untuk mencari jalan dan bus-bus besar mengikuti dari belakang. Ternyata, hal itu meningkatkan kepercayaan pelanggan pada Bluebird.
Dari kejadian itu, banyak kabar tentang anak yang putus sekolah. Maka, lahir program 'Bluebird Peduli' untuk memberikan beasiswa kepada putra putri para pengemudi yang dimulai pada tahun 1999.
Bluebird terus bertumbuh.
Saat kejadian tahun 1998, ada 6.000 armada. Lalu, tahun 2003, armada menjadi 13.000.
Ya, selalu ada pembelajaran di setiap krisis, jadi dihadapi bersama secara kekeluargaan.
Lanjut pada kejadian tahun 2016. Ada dua ribuan orang turun di jalan dan ada sekitar 200 pengemudi Bluebird pada pagi hari itu.
Saat pukul 11, pihak manajemen sudah meminta para pengemudi untuk keluar dari kerumunan itu. Tapi karena jalanan sudah penuh, kendaraan sudah tidak bisa keluar.
Jam 1 siang, pihak Bluebird menemui media untuk mengungkapkan bahwa mereka menyesali apa yang sedang terjadi. Saat kejadian itu, mental para pengemudi drop.
Pada hari berikutnya, Bluebird memberikan gratis layanan selama 24 jam. Tujuannya bukan untuk menarik simpati publik, tapi untuk memulihkan mental pengemudi dengan perasaan 'giving' kepada para pelanggan.
Tahun 2011, Bluebird sudah mengeluarkan aplikasi pemesanan yang bernama Taxi Mobile Reservation (TMR).Tapi, penggunaan aplikasi itu tidak optimal.
Setelah kejadian di tahun 2016, dilakukan kolaborasi dengan Gojek. Akhirnya lahir Go Bluebird dan kini ada My Bluebird. Belajar dari badai ini, mereka terus melakukan pengembangan teknologi.
Tahun 2019, dampak pertumbuhan begitu pesat. Bahkan Januari-Februari 2020 revenue sedang tinggi-tingginya. Tiba-tiba badai pandemi datang.. Maret 2020 revenue turun sampai 70%.
Teringat pesan Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang melahirkan Bluebird ini.
"Tanggung jawab generasi ketiga ini bukan hanya pada family dan pemegang saham. Tapi, yang paling penting adalah keberlangsungan hidup dari seluruh karyawan pengemudi dan keluarganya yang bernaung di perusahaan ini."
Sang cucu, Noni Purnomo menambahkan, "So, with that spirit. We cannot die! We do not have a choice. Kita harus terus survive".
Dilakukan banyak cara.
Pihak manajemen PT Blue Bird Tbk melakukan renegosiasi dengan para partner. Para top manajemen dipotong gaji, bahkan Ibu Noni Purnomo sebagai Chief Executive Officer (CEO) saat itu mengaku tidak dibayar selama 6 bulan agar bisa survive. Mereka berusaha sekuat tenaga agar staff level tidak merasakan dampaknya
Di tengah badai itu, Bluebird tetap bersyukur karena telah melewati tragedy ditahun 2016 yang memaksa mereka untuk lebih siap menghadapi pandemi dengan teknologi yang akhirnya melahirkan 'Bluebird kirim'.
Bukan hanya itu, tapi 5 tahun sebelum pandemi datang, mereka sudah membuat program 'Kartini Bluebird'. Program itu memberikan kesempatan untuk para istri dan putri dari para pengemudi untuk berkarya dari rumah.
Bluebird memberikan vocational training seperti menjahit, membuat kue, dan apa pun itu untuk berbisnis dari rumah. Ternyata, program kartini ini yang membantu dalam menopang perekonomian keluarga saat pandemi datang.
Bluebird telah melewati badai itu dan selalu ingin bertumbuh.
Teringat pesan Noni Purnomo.
"Kita tidak boleh merasa di puncak gunung. Karena kalau sudah di puncak, kita mau kemana lagi selain turun gunung?"
"So, shall never feel that you're on top of the world,” ungkap Ibu Noni Purnomo pada Daniel Mananta.
"Dulu, saya ingin sempurna, tapi ternyata lewat ketidaksempurnaan itu bisa terbuka pintu pembelajaran. Embracing your imperfection because through it you can grow and love more. Terima ketidaksempurnaan itu, tapi teruslah melakukan yang terbaik. Karena sempurna itu adalah ketika kita bisa lebih baik dalam menghadapi suatu tantangan," sambungnya.
Bluebird juga membuat program berangkat haji sejak tahun 1995 dan tahun 2014 dilanjutkan dengan program ibadah umroh.
September 2025 2025 kemarin, Bluebird memberangkatkan 50 orang.
"Kami percaya bahwa kebahagiaan pengemudi maupun karyawan adalah kunci untuk menghadirkan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Karena itu, Bluebird berupaya memenuhi berbagai aspek kesejahteraan, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga dukungan spiritual. Program ini juga sebagai ungkapan rasa terima kasih kami atas pengabdian dan kesetiaan pengemudi dan karyawan. Sekaligus menegaskan bahwa apresiasi perusahaan dapat diberikan kepada seluruh lini layanan dan daerah operasional,” ungkap Adrianto Djokosoetono.
Baru saja, Ibu Noni Purnomo membuat pantun saat acara Satya Lencana 2026.
Lagi mager nyeruput kopi supaya tenang. Eh, My Bluebird manggil, kopi jadi kenangan.
“Dari dulu sampai sekarang kita berjuang. Bluebird besar karena kita dalam kebersamaan. Pada waktu bersamaan, kita harus bisa melihat ke bawah dan ke atas. Lihat ke bawah. Sesusah apa pun kita, pasti ada yang lebih susah. Maka, bersyukur. Lihat ke atas. Segimana kita merasa sukses, pasti ada yang lebih sukses dari kita. Maka, jangan berhenti melakukan yang lebih baik,” kata Ibu Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, Founder Bluebird Group. (*)
*) Source : Jee Luvina
Editor : Bambang Harianto