Kegigihan Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono Mendirikan Bluebird Group

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Siti Fatimah Djokosoetono bersama manajemen Bluebird
Siti Fatimah Djokosoetono bersama manajemen Bluebird
grosir-buah-surabaya

Bluebird Group merupakan salah saty perusahaan jasa transportasi terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, berawal dari jualan telur, dan kini menjelma jadi penguasa jalur.

Sosok "Ibu Kandung" Taksi Blue Bird

Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono atau Bu Djoko lahir di Malang pada tahun 1921. la bukan berasal dari keluarga kaya dan sempat mengalami masa sulit saat kecil. Meski begitu, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono tetap melanjutkan pendidikan hingga masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Di kampus itu, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono bertemu Prof. Djokosoetono, Guru Besar Hukum, pendiri Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), sekaligus tokoh penting di Universitas Indonesia yang kemudian menjadi suaminya. Tak ada yang menyangka, dari keluarga inilah kelak lahir perusahaan taksi terbesar di Indonesia. 

Cikal Bakal Blue Bird

Saat kondisi ekonomi sulit, Mutiara Djokosoetono mulai berjualan batik dan telur untuk menghidupi keluarga, apalagi setelah suaminya wafat pada tahun 1965. Dari usaha itu, ia membeli satu bemo yang awalnya dipakai mengantar dagangan lalu membawa penumpang. Dari situ Bu Djoko memulai dengan sederhana 2 mobil sedan jadi kendaraan, rumah pribadi jadi kantor. 

Anak sendiri menjadi sopir dan operator taksi. Taksi tanpa argo dengan nama "Chandra Taksi" berjalan.

Jalan Dulu, Izin Menyusul

Usaha Chandra Taksi beroperasi dari rumahnya di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, pada tahun 1965. Jumlah armadanya terus bertambah hingga 60 mobil. Namun pada tahun 1971, Pemerintah mulai melarang taksi tanpa izin dan mewajibkan perusahaan memiliki minimal 100 armada.

Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono kemudian mendapat dukungan investasi dari Udatimex hingga akhirnya berhasil memenuhi syarat izin. Dari situlah lahir nama Blue Bird Group pada tahun 1972.

Pionir Taksi Dengan Argo

Blue Bird langsung tampil berbeda dibanding taksi lain pada zamannya. Mereka memperkenalkan sistem argometer, komunikasi radio, standar layanan sopir, armada yang lebih bersih dan nyaman.

Di era ketika tarif taksi sering "asal tembak", argometer jadi inovasi besar karena membuat tarif lebih transparan.

Tumbuh Jadi Raksasa Transportasi

Di bawah Mutiara Djokosoetono, Blue Bird Group tumbuh menjadi perusahaan transportasi besar di Indonesia.

1978 : Armada taksi mencapai 500 unit.

1979 : Meluncurkan Big Bird untuk layanan bus sekolah dan pariwisata.

1985 : Jumlah armada naik menjadi 2.000 unit.

1994 : Mulai memakai call center pemesanan taksi.

2014 : Resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2019 : Menghadirkan taksi listrik pertama di Indonesia.

Blue Bird tidak hanya melayani taksi, tetapi juga bus pariwisata, sewa mobil, logistik, properti, hingga teknologi informasi.

Digempur Transportasi Online

Saat taksi online mulai booming pada tahun 2016, Blue Bird menghadapi masa sulit. Banyak masyarakat beralih ke layanan online karena lebih murah dan penuh promo. Di periode itu, harga saham Blue Bird sempat turun dan jumlah armada juga dikurangi. Namun, Blue Bird kemudian mulai berbenah lewat digitalisasi dan kerja sama dengan aplikasi.

Blue Bird Digugat

Pada tahun 2022, Elliana Wibowo menggugat Blue Bird senilai Rp 11 triliun terkait sengketa saham, perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) perusahaan, hingga pembagian dividen. Elliana mengaku sebagai pemegang saham. Namun, tahun 2023 Blue Bird memenangkan gugatan yang diajukan Elliana.

Selain Elliana, pada tahun 2015, Blue Bird sempat digugat Rp 6,6 triliun terkait penggunaan logo "Burung Biru" dan merek Blue Bird. Gugatan itu diajukan Mintarsih Abdul Latief pendiri Taksi Gamya sekaligus salah satu anak Mutiara Djokosoetono. Namun gugatan tersebut ditolak.

"Kita bukan perusahaan taksi biasa. Kita adalah armada taksi yang memberikan pelayanan ekstra. Profesionalisme kita yang menentukan perusahaan ini akan maju atau tidak. Kredibilitas baik yang kita bangun hari ini adalah masa depan kita," kata Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, pendiri Bluebird Group. (*)