Sastri Bakry, Putri Kolonel Asal Pariaman yang Jadi Pejabat Kemendagri

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Sastri Yunizarti Bakry.
Sastri Yunizarti Bakry.
grosir-buah-surabaya

Provinsi Sumatera Barat tidak pernah kehabisan tokoh perempuan hebat yang bertangan dingin. Salah satu sosok kontemporer yang sukses bersinar di jalur birokrasi sekaligus panggung budaya internasional adalah Sastri Yunizarti Bakry.

Lahir di Pariaman pada 20 Juni 1958, Sastri Bakry adalah putri dari pasangan Kolonel (Purn.) Zaidin Bakry dan Fatimah Noer. Menghabiskan masa sekolahnya di SMA Don Bosco Padang, ia kemudian menuntaskan pendidikan Sarjana Ekonomi Akuntansi dan Magister Pembangunan Wilayah Pedesaan di Universitas Andalas.

Di balik latar belakang akademisnya yang kuat, Sastri mengawali kariernya sebagai jurnalis dan redaktur media di Padang pada era 1980-an, sebelum akhirnya memantapkan diri mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak tahun 1990.

Karier Birokrasi yang Mentereng

Karier Sastri di pemerintahan terbilang sangat mentereng. Ia tercatat pernah menduduki kursi anggota DPRD Sumatera Barat (1997-1999), Kepala Bawesda Kota Padang, hingga Sekretaris DPRD Padang.

Kepiawaiannya dalam bekerja membuat Sastri Bakry ditarik ke Ibu Kota Jakarta untuk mengemban amanah di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Di sana, ia dipercaya menjabat sebagai Inspektur Khusus Inspektorat Jenderal Kemendagri (2012-2016) hingga Direktur Perencanaan dan Anggaran Daerah Ditjen Keuda Kemendagri (2017-2018). Sastri Bakry kemudian menutup pengabdian panjangnya sebagai aparatur sipil negara dengan jabatan Widyaiswara Ahli Utama di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi.

Diplomat Budaya Lintas Negara

Meski sibuk dengan urusan pemerintahan dan anggaran, jiwa seni dan literasi Sastri Bakry tidak pernah padam. Sastri Bakry justru menjelma menjadi motor penggerak kebudayaan Minangkabau di panggung dunia.

Sastri adalah sosok penting di balik lahirnya gerakan besar Sumbar Talenta Indonesia dan merupakan Ketua SatuPena Sumatera Barat. Gebrakan monumentalnya tercatat saat ia dipercaya menjadi Ketua Pengarah Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) pertama pada tahun 2012. Lewat perhelatan internasional yang digelar di Kota Padang tersebut, Sastri sukses mengumpulkan lebih dari 200 sastrawan dari 6 negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Singapura, dan Thailand).

Tak berhenti di sana, perempuan yang kerap menjadi pembicara di berbagai forum dunia ini juga merupakan pencetus gelaran akbar International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Melalui jabatannya yang bervariasi, Sastri Bakry membuktikan bahwa tugas sebagai pejabat negara dan pelestari budaya bisa berjalan beriringan guna mengharumkan nama bangsa di mata dunia. (*)