Chalida Fachruddin, Guru Besar Antropologi Universitas Sumatera Utara
Falsafah "merantau" bagi masyarakat Minangkabau bukan sekadar urusan perpindahan geografis, melainkan sebuah jalan pengabdian dan pencapaian prestasi tertinggi. Salah satu bukti nyata dari keberhasilan anak rantau tersebut tercermin dalam sosok Prof. Chalida Fachruddin, Ph.D.
Lahir di Pematang Siantar pada 24 Oktober 1941, Chalida merupakan salah satu tokoh perantau Minang asal Piaman (Pariaman) yang sukses mencapai puncak akademik tertinggi sebagai Guru Besar Antropologi di Universitas Sumatera Utara (USU). Rekam jejaknya dari seorang guru SD hingga menjadi profesor merupakan kisah inspiratif tentang konsistensi dan kerja keras.
Perjalanan Akademik: Bermula dari Guru Sekolah Dasar
Sisi menarik dari perjalanan hidup Chalida Fachruddin adalah semangat belajarnya yang tidak pernah padam. Ia mengawali kariernya dengan sangat bersahaja sebagai guru Sekolah Dasar di Pematang Siantar pada tahun 1958, sesaat setelah lulus dari Sekolah Guru Bawah (SGB).
Sambil mengajar, ia terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi:
Tahun 1975: Berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan Sejarah dari IKIP Medan (sekarang Unimed).
Tahun 1998: Menuntaskan pendidikan tertinggi dan meraih gelar Ph.D bidang Antropologi dan Sosiologi dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Disertasinya membedah secara mendalam tentang organisasi sosial komunitas Melayu di Labuhan Deli.
Urat Nadi Antropologi di Universitas Sumatera Utara
Pengabdian panjangnya di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan menempatkan Chalida sebagai ilmuwan senior dan rujukan utama dalam studi antropologi di Sumatera Utara. Sebagai Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USU, ia dikenal piawai dalam membedah realitas sosial yang kompleks di tengah masyarakat Sumatra Utara yang multikultural.
Hingga memasuki masa purnabakti pada tahun 2011, dedikasinya dalam membimbing, mengajar, serta mencetak generasi baru sarjana dan doktor di bidang ilmu sosial tetap tidak tergantikan.
Menjaga Akar Budaya Lewat Rumah Gadang PKDP
Meski lahir dan besar di perantauan Sumatra Utara, ikatan emosional Chalida terhadap tanah leluhurnya di Padang Pariaman tidak pernah luntur. Kiprah sosialnya di luar kampus dibuktikannya dengan mengemban amanah strategis sebagai Ketua Dewan Pakar Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) DPW Provinsi Sumatera Utara.
Melalui PKDP—paguyuban resmi bagi para perantau Minang asal Pariaman dan sekitarnya— Chalida Fachruddin aktif memastikan bahwa nilai-nilai luhur adat dan budaya Minangkabau tetap terjaga secara inklusif, khususnya bagi generasi muda yang lahir di perantauan.
Teladan Intelektual dan Sisi Keluarga
Dalam kehidupan pribadinya, Chalida membangun keluarga yang harmonis bersama sang suami, Fachruddin Umri. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Meuthia Fadila, Isfan Fachri, dan Dian Fithri, yang kini telah memberikan mereka beberapa orang cucu.
Bagi Chalida Fachruddin pendidikan adalah senjata utama bagi kaum perempuan untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik di ruang kelas maupun dalam organisasi sosial keagamaan.
Hingga hari ini, rekam jejak Chalida Fachruddin tetap menjadi inspirasi besar. Beliau telah membuktikan bahwa keterikatan pada akar budaya dan pengabdian tanpa batas pada ilmu pengetahuan adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan demi kemaslahatan orang banyak. (*)
Editor : Bambang Harianto