Sejarah Penemuan Padi IR8
Tahun 1960-an, Asia sedang krisis. Populasi meledak, tapi padi lokal tingginya minta ampun, gampang roboh ditiup angin, dan panennya lama (6 bulan sekali).
Banyak ahli meramal, Asia akan mengalami kelaparan massal. Indonesia saat itu adalah pengimpor beras terbesar dunia.
Bayangkan kondisi dunia saat itu. Populasi meledak. Lahan pertanian hancur akibat Perang Dunia. India dan negara-negara Asia berada di ujung tanduk krisis pangan yang tak terbendung. Para ilmuwan berlomba melawan waktu.
Pada tahun 1962, Ford Foundation dan Rockefeller Foundation mendirikan IRRI (International Rice Research Institute) di Los Banos, Filipina. Misinya satu, temukan padi yang bisa memberi makan dunia. Setelah bertahun-tahun riset, lahirlah IR8.
Varietas ini merupakan hasil persilangan antara Peta varietas tradisional Indonesia berpostur tinggi dengan Dee-geo-woo-gen, varietas berpostur pendek dari Taiwan.
IR8 adalah pendobrak. Kalau padi biasa cuma menghasilkan 1-2 ton per hektar, IR8 bisa tembus 5-10 ton! Masa tanamnya juga singkat. Petani yang biasanya cuma panen sekali setahun, tiba-tiba bisa panen 2-3 kali.
Ekonomi desa langsung berputar kencang. Di Indonesia, IR8 menjadi bintang utama Revolusi Hijau era Orde Baru.
Pemerintah membagikan benih ini secara masif ke pelosok negeri. Hasilnya nyata: Tahun 1984, Indonesia yang dulunya pengimpor beras tersesar, resmi menjadi negara Swasembada Beras. Kita diakui dunia (FAO).
Tapi, IR8 nggak sempurna. Padi ini manja, dia butuh banyak pupuk kimia dan air yang melimpah. Inilah awal mula petani kita ketergantungan pupuk kimia dan hilangnya ratusan varietas padi lokal yang dulu beragam.
Secara rasa, IR8 juga dianggap kurang pulen dibanding padi tradisional. Mungkin sekarang IR8 sudah digantikan oleh varietas yang lebih baru. Seperti Ciherang atau Inpari. Tapi DNA-nya ada di hampir semua nasi yang kita makan hari ini.
IR8 adalah bukti bahwa teknologi bisa jadi penyelamat nyawa jutaan orang dalam waktu singkat.
Kalian lebih suka Nasi Pulen tapi mahal, atau Nasi Biasa yang penting semua orang bisa makan?
*) Source : Yugi
Editor : Bambang Harianto