Teruo Nakamura, Prajurit Jepang Terakhir yang Menyerah di Indonesia

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Teruo Nakamura
Teruo Nakamura
grosir-buah-surabaya

Dunia mungkin hanya tahu Hiroo Onoda sebagai prajurit Jepang terakhir yang menyerah. Namun, beberapa bulan setelah Onoda, seorang prajurit Jepang lainnya, yang sebenarnya secara teknis bukan warga negara Jepang pasca Perang Dunia II ditemukan di lebatnya hutan Pulau Morotai di Maluku Utara, Indonesia yang menjadikannya prajurit Jepang terakhir yang ditemukan di bekas daerah jajahan pasca Perang Dunia II.

Bagaimanakah kisahnya?

Penduduk Asli Yang Menjadi Prajurit Jepang

Terlahir sebagai Attun Palalin pada 8 Oktober 1919 di Toran, Prefektur Taito (kini Chenggong, Taitung) di Taiwan yang saat itu masih merupakan teritori Jepang sehingga ia terlahir sebagai warga negara Jepang dan sesuai aturan, ia memiliki nama Jepang, Teruo Nakamura. 

la sendiri berasal dari Suku Ami yang merupakan penduduk asli Taiwan sehingga ia dikatakan tidak terlalu fasih bahasa Mandarin ataupun Jepang. Tidak terlalu banyak cerita mengenai masa muda Nakamura, yang jelas pada tahun 1943, Nakamura tergabung dalam Unit Sukarelawan Takasago yang terdiri dari para prajurit dari suku-suku asli Taiwan karena dianggap mampu menembus medan Asia Tenggara yang dipenuhi hutan dan lembab.

Terdampar di Morotai

Tidak lama setelah bergabung dengan satuannya, Nakamura langsung ditempatkan di Pulau Morotai yang kini menjadi bagian dari Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Nakamura kemudian ikut bertempur dalam Pertempuran Morotai pada 15 September 1944 ketika sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat dan Australia menyerang pulau ini untuk membuka jalan menuju Filipina.

Nakamura, seperti Onoda diperintahkan untuk berperang secara gerilya dan tidak menyerah jika tidak diperintahkan untuk menyerah. Dalam beberapa hari banyak prajurit Jepang yang menyerah, namun Nakamura dan beberapa rekannya memilih untuk tetap bertahan dan lari hingga ke pelosok hutan yang lebih dalam sehingga mereka tidak tahu berita mengenai kekalahan Jepang pada Agustus 1945.

Bertahan Hidup di Gubuk

Bahkan ketika selebaran mengenai kekalahan Jepang disebar, Nakamura dan beberapa rekannya menolak untuk menyerah karena menganggap hal itu sebagai propaganda sekutu. la bahkan mengira perang masih berlanjut karena melihat banyak pesawat tempur terbang diatasnya, dimana pesawat itu sebenarnya milik TNI AU. 

Hingga pada tahun 1946, Teruo Nakamura dan beberapa rekannya dinyatakan tewas. Namun, pada tahun 1956, sekitar 9 orang tentara Jepang yang bertahan di Morotai memutuskan untuk menyerah, Nakamura tidak berada dalam rombongan itu karena sudah memisahkan diri karena merasa ia akan dihabisi oleh koleganya. Selama bertahun-tahun, Nakamura hidup di sebuah gubuk kecil dimana ia bertahan hidup dengan berburu dan mencari buah serta tanaman yang bisa dimakan.

Ditemukan di Hutan

Nakamura juga dibantu oleh seorang penduduk lokal yang merahasiakan keberadaanya dan selalu membawa makanan baginya. Hingga akhirnya Nakamura ditemukan pada 18 Desember 1974. Ada beberapa versi mengenai bagaimana keberadaanya bisa diketahui. Versi lain mengatakan ada penduduk yang tak sengaja melihatnya dan langsung melapor pada Tentara Nasional Indonesia (TNI), namun, versi lain mengatakan, putra dari penduduk lokal yang mengetahui keberadaanya menghubungi TNI karena kesehatannya yang memburuk. 

Tim ekspedisi TNI dikirim ke hutan Morotai membawa bendera Jepang serta menyanyikan lagu kebangsaan "Kimigayo" yang akhirnya direspon oleh Nakamura sehingga akhirnya ia ditemukan. Nakamura menjadi prajurit Jepang terakhir yang menyerah dan ditemukan, beberapa bulan setelah Onoda.

Kembali Ke Kehidupan Modern

Nakamura sempat dibawa ke Jakarta sebelum kemudian dikembalikan ke Taiwan, dimana ia kini diberi nama Tionghoa, Lee Kuang-hui. Secara teknis, ia bukan lagi WN Jepang sehingga Pemerintah Jepang sempat menolak membayar pensiun dan kompensasi. Hal ini membuat publik Taiwan dan Jepang geram sehingga mereka memberikan donasi hingga mencapai 750 ribu Yen dan tambahan 3,5 Juta Yen dari Pemerintah Taiwan, yang sebelumnya tidak terlalu menerimanya karena dianggap antek Jepang. 

Ada cerita unik, istri Nakamura yang mengira ia sudah gugur menikah lagi, sang suami baru mempersilahkan Nakamura kembali ke istrinya, namun ia menolak karena akan membuat kisruh. Nakamura tinggal di Donghe, Taiwan dan hidup tenang hingga wafat pada 15 Juni 1979. (*)