Anwar Abbas, Ulama Kritis Asal Minangkabau yang Menjadi Jangkar di MUI
Di panggung keagamaan dan sosial-politik Indonesia, nama Anwar Abbas atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas, menempati posisi yang sangat lekat di hati umat. Sosoknya dikenal luas melalui pembawaannya yang lugas, berani, dan tanpa kompromi jika menyangkut kemaslahatan masyarakat dan marwah agama. Di era di mana suara kritis sering kali melunak, Buya Anwar Abbas konsisten tampil sebagai jangkar sekaligus suara lantang yang menyuarakan kegelisahan umat dari dalam menara Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Namun, ketegasan dan keberanian tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Ada karakter kultural yang kuat dan kedalaman ilmu yang melatarbelakangi mengapa setiap statement-nya selalu berbobot dan diperhitungkan di kancah nasional.
Karakter Kuat yang Ditempa Falsafah Ranah Minang
Anwar Abbas lahir pada 15 Februari 1955 di Jorong Balai Mansiro, Nagari Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Tumbuh besar di Ranah Minangkabau yang memegang teguh falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat bersendikan agama, agama bersendikan Kitabullah) membentuk fondasi moral dan mentalitasnya sejak dini.
Dalam tradisi Minangkabau, seorang lelaki dididik untuk memiliki kemandirian berpikir, keberanian berpendapat, dan kepekaan sosial yang tinggi. Karakter "petarung intelektual" inilah yang dibawa oleh Buya Anwar Abbas ketika ia merantau dan berkiprah di ibu kota.
Di luar aktivitas publiknya yang padat, Buya Anwar Abbas adalah seorang kepala keluarga yang hangat. Bersama sang istri tercinta, Nurlaili, beliau membesarkan tiga buah hatinya: Hero Adela, Dini Amalia, dan Erika Firdausi Amalia, yang selalu menjadi sistem pendukung terdekat dalam setiap langkah pengabdiannya.
Perpaduan Langka: Ulama Kontekstual Sekaligus Pakar Ekonomi Islam
Salah satu hal yang membuat Buya Anwar Abbas begitu disegani adalah latar belakang akademisnya yang komplet. Beliau bukan sekadar ulama yang fasih berbicara dalil, melainkan seorang pemikir yang menguasai realitas ekonomi modern.
Anwar Abbas menyelesaikan pendidikan Magister Agama dengan konsentrasi Ekonomi Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta, lalu memperkuat lini manajerialnya dengan gelar Magister Manajemen dari STIE-IPWI Jakarta. Puncaknya, pada tahun 2008, ia meraih gelar Doktor Syariah/Pemikiran Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ilmu-ilmu tersebut tidak hanya disimpan di kepala, tetapi diamalkan lewat jalur pendidikan. Buya Anwar Abbas tercatat sebagai Dosen Tetap PNS Program Studi Perbankan Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga masa pensiunnya pada tahun 2020.
Kombinasi langka antara ilmu syariah dan ilmu ekonomi makro-mikro inilah yang membuat Buya Anwar Abbas selalu tajam saat mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai timpang atau kurang berpihak pada ekonomi rakyat kecil dan UMKM.
Dari Parlemen Nasional hingga Panggung Internasional
Rekam jejak kepemimpinan Buya Anwar Abbas sebenarnya sudah teruji lintas era. Di awal masa transisi reformasi (1997–1999), ia pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) dari Utusan Golongan.
Kapasitasnya pun diakui hingga ke luar negeri. Karena kepeduliannya yang tinggi terhadap hak-hak pekerja dan keadilan ekonomi, Buya Anwar Abbas pernah terpilih menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional (International Islamic Confederation of Labour - IICL) untuk periode 2000–2005.
Di dalam negeri, ia menjadi salah satu pilar penggerak di Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Berbagai posisi strategis pernah diembannya, mulai dari Bendahara Umum hingga Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan.
Menjadi Suara Lantang Umat di Tubuh MUI
Dedikasi terbesar Buya Anwar Abbas dalam satu dekade terakhir berada di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kiprahnya di lembaga ini merupakan potret kesetiaan dalam mengawal umat. Ia pernah menjabat sebagai salah satu Ketua MUI (2010–2015), kemudian naik menjadi Sekretaris Jenderal (2015–2020).
Kepercayaan umat yang begitu besar membuatnya didapuk sebagai Wakil Ketua Umum MUI periode 2020–2025. Konsistensi dan keteguhannya dalam memimpin membuat Buya Anwar Abbas kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk periode 2025–2030.
Bagi umat Islam di Indonesia, kehadiran Buya Anwar Abbas di Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan rasa aman. Beliau adalah sosok yang tidak ragu berdiri di depan untuk meluruskan hal-hal yang melenceng, mengkritik ketidakadilan sosial, namun tetap merangkul dengan kelembutan seorang ayah dan guru ketika berdialog.
Melalui sosok Buya Anwar Abbas, kita melihat kembali potret emas ulama Minangkabau legendaris zaman dulu: berilmu luas, berhati ikhlas, dan bernyali besar demi membela kebenaran. (*)
Editor : S. Anwar