Prabowo dan Fadli Zon di Penghujung Orde Baru

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo Subianto bersama Fadli Zon di Yordania, April 1998.
Pangkostrad, Letjen TNI Prabowo Subianto bersama Fadli Zon di Yordania, April 1998.
grosir-buah-surabaya

Prabowo Subianto menjadi figur yang kontroversial. Dengan posisinya sebagai Panglima Kostrad (Komando Strategis Angkatan Darat), ia dikaitkan dengan berbagai operasi keamanan menjelang kejatuhan rezim, termasuk penculikan aktivis pro demokrasi. 

Setelah Presiden Soeharto lengser, posisi Prabowo Subianto pun goyang. Ia dicopot dari jabatan Pangkostrad dan kemudian diberhentikan dari dinas militer. Setelah itu Prabowo Subianto memilih meninggalkan Indonesia untuk menghindari konsekuensi hukum lanjutan jika tetap berada di tanah air. 

Saat sebagian besar lingkaran kekuasaan menjauh setelah jatuhnya Orde Baru, Fadli Zon tetap setia sebagai pembela utama Prabowo. Ia berperan sebagai bagian dari jaringan sipil yang membantu menjaga koneksi, narasi, dan kelangsungan pengaruh Prabowo di dalam negeri. 

Saat Prabowo Subianto berangkat ke Yordania, negara sahabatnya, Fadli Zon tetap berada di garis depan Jakarta. Ia menjadi salah satu dari sedikit suara yang berani melawan narasi publik yang menyudutkan Prabowo, menjelaskan posisi sang jenderal dari sudut pandang yang berbeda. 

Yordania mungkin menjadi tempat Prabowo Subianto menyelamatkan diri dan membangun kembali kekuatan ekonominya. Namun, Fadli Zon lah yang memastikan bahwa pintu politik tidak tertutup bagi Prabowo Subianto saat ia nanti kembali ke Indonesia. (*)