Masjid Senapelan, Jejak Magis Kesultanan Siak
Di balik hiruk-pikuk Kota Pekanbaru yang kini tumbuh menjadi kota metropolitan dan pusat ekonomi di Provinsi Riau, tersimpan sebuah riwayat magis yang tak boleh dilupakan. Jauh sebelum ruko-ruko tinggi dan aspal jalanan memadati kota, sebuah pilar suci telah berdiri kokoh menjadi jangkar spiritual bagi masyarakat Melayu. Dialah Masjid Raya Pekanbaru, atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Senapelan.
Berdiri sejak tahun 1762, masjid ini bukan sekadar tempat bersujud, melainkan saksi bisu perpindahan pusat peradaban dan kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Simbol Kedigdayaan 'Tungku Tiga Sejarangan'
Kisah magis masjid ini bermula ketika Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak keempat) memutuskan untuk memindahkan pusat kerajaannya dari Mempura ke sebuah wilayah subur bernama Senapelan. Dalam tradisi ketatanegaraan adat Melayu kuno, pemindahan ibu kota bukanlah perkara sepele. Raja wajib membangun tiga pilar utama sebagai fondasi kehidupan masyarakat, sebuah konsep sakral yang disebut Tali Berpilin Tiga atau Tungku Tiga Sejarangan.
Tiga pilar itu harus mewakili tiga unsur: Pemerintahan, Adat, dan Agama. Maka dibangunlah Istana Bukit sebagai simbol kekuasaan raja, Balai Payung Sekaki sebagai tempat permusyawaratan adat, dan sebuah tempat ibadah yang diberi nama Masjid Alam (diambil dari nama kecil Sultan Alamuddin, Raja Alam).
Ketika upacara menaiki ketiga bangunan ini digelar pada akhir tahun 1762, Senapelan resmi menjelma menjadi pusat peradaban baru. Kelak, wilayah di sekitar pilar-pilar suci inilah yang berkembang pesat dan kita kenal hari ini sebagai Kota Pekanbaru. Pembangunan masjid ini pun kemudian diteruskan oleh putra sang sultan, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah.
Misteri 26 Tiang Kuno di Dalam Kemegahan Modern
Seiring berjalannya waktu, Masjid Raya Pekanbaru telah melewati berbagai zaman dan beberapa kali mengalami pemugaran sejak tahun 1755 hingga 1940 untuk menampung para peziarah makam bangsawan di sekelilingnya. Namun, titik balik paling dramatis dalam sejarah arsitekturnya terjadi pada tahun 2009.
Proyek revitalisasi besar-besaran kala itu sempat memicu perdebatan sengit. Arsitektur Melayu kuno yang sarat akan nilai historis terpaksa diratakan dengan tanah demi membangun struktur masjid modern yang lebih megah dan luas. Banyak yang menyayangkan hilangnya wajah asli rumah ibadah abad ke-18 ini.
Namun, di situlah letak keajaibannya. Nilai magis masa lalu menolak untuk sepenuhnya lenyap. Di tengah bangunan modern yang kini berdiri megah, para pekerja berhasil mempertahankan 26 tiang penyangga bekas bangunan lama yang tersebar di empat penjuru mata angin.
Bahkan, enam tiang utama di bagian tengah bangunan disulap menjadi struktur menara yang berdiri kokoh di dalam ruangan masjid. Hal ini menjadikan Masjid Raya Pekanbaru sebagai satu-satunya masjid unik di Indonesia yang memiliki menara kuno di dalam bangunan utama—sebuah monumen abadi yang terus membisikkan cerita masa lalu kepada setiap jemaah yang datang.
Struktur Cagar Budaya yang Dilindungi Undang-Undang
Meskipun fisiknya telah berganti baju menjadi lebih modern, aura kesucian dan nilai sejarah masjid ini tetap tidak berkurang. Menyadari pentingnya sisa-sisa peninggalan Kesultanan Siak yang ada di sana, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional bergerak cepat.
Melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 209/M/2017, situs ini resmi dilindungi di bawah payung hukum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dengan status sebagai Struktur Cagar Budaya.
Masjid Raya Senapelan bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah pilar suci penjaga spiritual Kota Pekanbaru sejak abad ke-18. Menatap sisa-sisa tiang kunonya adalah cara terbaik untuk melintasi waktu, mengenang kembali masa-masa ketika selawat dan titah sultan berpadu, membangun fondasi sebuah kota bertuah yang kita pijak hari ini. (*)
*) Source : Nasril Koto PSU
Editor : Bambang Harianto