Abdul Halim Iskandar, Dari Guru BP di Jombang hingga Jadi Menteri
Roda nasib dan garis hidup seseorang senantiasa menjadi misteri yang indah untuk disimak. Ada kalanya, pengabdian sunyi di ruang-ruang kelas dan bilik pesantren justru menjadi anak tangga yang mengantarkan seseorang menuju panggung tertinggi pengabdian negara. Kisah inspiratif inilah yang melekat erat pada sosok Dr. Drs. H. Abdul Halim Iskandar, M.Pd.
Bagi masyarakat luas, namanya dikenal sebagai salah satu menteri yang berfokus pada urusan akar rumput, yakni saat menjabat sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) pada Kabinet Indonesia Maju periode 2019–2024.
Namun, di balik baju seragam menteri dan protokol kenegaraan, pria kelahiran 14 Juli 1962 asal Jombang, Jawa Timur ini adalah seorang santri tulen dan mantan guru sekolah yang meniti karier benar-benar dari bawah. Mari kita simak kisah perjalanan hidupnya yang penuh teladan ini!
Belasan Tahun Nyantri dan Trah Luhur Pendiri NU
Pondasi karakter, kesederhanaan, dan kepemimpinan Abdul Halim Iskandar tidak bisa dipisahkan dari kultur pesantren yang melingkupinya sejak kecil. Ia lahir dari garis silsilah yang sangat dihormati di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), yaitu sebagai cicit dari KH Bisri Syansuri, salah satu ulama besar sekaligus pendiri NU. Halim juga merupakan kakak kandung dari Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.
Kendati lahir dari keluarga tokoh besar, Halim tetap melewati proses prihatin layaknya santri pada umumnya. Masa kecil hingga remaja ia habiskan di dalam lingkungan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Jombang. Di tempat ini, ia menimba ilmu agama dan mengabdi sebagai santri selama 12 tahun, tepatnya dari tahun 1968 hingga 1980.
Pendidikan formalnya pun diselesaikan secara berjenjang di MI, MTs, hingga MAN Mamba'ul Ma'arif Denanyar. Setelah itu, ia merantau untuk menyelesaikan studi sarjana (S-1) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan melanjutkan studi magister (S-2) di Universitas Negeri Malang (UM) pada jurusan Manajemen Pendidikan yang berhasil diselesaikannya pada tahun 1992.
Mendedikasikan Hidup Sebagai Guru BP dan Dosen Kampus
Sebelum namanya tercatat di lembaran negara sebagai menteri, Abdul Halim Iskandar terlebih dahulu mewakafkan waktunya untuk dunia pendidikan di kampung halamannya. Pengalaman mengajarnya terbilang sangat komplet dan menyentuh berbagai lapisan.
Ia tercatat pernah menjadi Guru Bimbingan Penyuluhan (BP) di MAN Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang—sebuah tugas yang menuntut kesabaran ekstra dalam membimbing akhlak dan masa depan para siswa.
Dedikasinya di dunia pendidikan vokasi juga teruji saat ia dipercaya memimpin sebagai Kepala SMK Sultan Agung Tebuireng. Tak berhenti di situ, Halim juga sempat mengabdi di dunia akademis sebagai dosen di Institut Keislaman Hasyim Asy'ari (IKHAFA) Tebuireng, Jombang. Dari sinilah instingnya dalam mendidik dan memahami karakteristik masyarakat lapis bawah kian terasah tajam.
Setia Merawat Partai dari Tingkat Basis hingga Kursi Kabinet
Darah perjuangan yang mengalir di tubuhnya membuat Halim memutuskan terjun ke panggung politik tak lama setelah era reformasi bergulir. Sejak tahun 1999, ia mengawali karier politiknya benar-benar dari tingkat akar rumput dengan menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Jombang.
Berkat kemampuan manajerialnya yang rapi dan pendekatannya yang humanis khas pesantrean, karier politiknya terus melesat. Ia kemudian dipercaya naik tingkat untuk menakhodai Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur, salah satu lumbung suara terbesar nasional.
Puncak pengabdian politiknya terjadi pada Oktober 2019, saat Presiden Joko Widodo mempercayakan kursi Mendes PDTT kepadanya. Pengalaman belasan tahun menjadi guru, mengurus santri, dan mengonsolidasikan masyarakat daerah menjadi modal utama bagi Halim untuk merumuskan kebijakan yang berpihak pada kemajuan ribuan desa di seluruh pelosok Indonesia.
Teladan Hidup yang Bersahaja
Di sela-sela kesibukannya melayani publik, Abdul Halim Iskandar tetap dikenal sebagai seorang kepala keluarga yang hangat dan bersahaja bersama istrinya, Lilik Umi Nashiah, serta ketiga anak mereka.
Kisah hidup Abdul Halim Iskandar memberikan kita sebuah pesan berharga: bahwa latar belakang sebagai santri dan guru bukanlah batasan untuk bermimpi besar. Dengan ketekunan, loyalitas pada perjuangan, dan niat mengabdi yang tulus, ruang kelas di daerah terbukti bisa menjadi jalan pembuka untuk ikut serta memimpin bangsa. (*)
*) Source : Nasrul Koto PSU
Editor : Bambang Harianto