Dokter IGD Jelaskan Alasan Pelayanan IGD Lambat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Dokter menangani pasien di IGD
Dokter menangani pasien di IGD
grosir-buah-surabaya

Sering ditemui keluarga pasien marah-marah di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena pasien tidak segera ditangani oleh dokter. Bahkan tidak jarang sampai terjadi kekerasan terhadap tenaga kesehatan di ruang IGD.

Melihat kondisi demikian, seorang dokter memberi penjelasan tentang layanan dokter di IGD terhadap pasien tertentu lambat. 

"Ada sistem triase, tangani yang paling kritis duluan," demikian penjelasan dokter.

Contoh singkatnya begini.

Jam 2 pagi. Anakmu demam 38.5, rewel tidak mau tidur. Kamu bawa ke rumah sakit dan sampai di IGD.

Perawat datang, cek sebentar, lalu pergi. Tidak ada dokter yang langsung muncul. Kamu mulai marah.

"IGD apa ini, tidak ada yang tanggap."

Wajar.

Tapi, seorang dokter bercerita dari dalam ruangan IGD.

Di saat yang sama, di balik pintu itu :

Bed 1 : pasien laki-laki, usia 55 tahun, nyeri dada, EKG menunjukkan serangan jantung aktif.

Bed 2: pasien perempuan, usia 30 tahun, sesak napas, saturasi turun terus.

Bed 3: pasien anak usia 3 tahun, tidak sadar setelah tersedak.

Dokter di IGD hanya satu. Perawatnya dua.

Bukan tidak peduli. Tapi ada yang bisa mati dalam hitungan menit kalau tidak ditangani sekarang. Ini namanya triase.

Sistem yang dirancang untuk satu tujuan, yakni menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa dengan sumber daya yang ada. Jika diasumsikan ke warna, sebagai berikut :

Merah : ancaman nyawa, ditangani detik ini.

Kuning : serius, ditangani setelah merah stabil.

Hijau : bisa tunggu, tidak mengancam nyawa dalam waktu dekat.

Bukan berarti kuning dan hijau tidak penting. Tapi di IGD, yang paling kritis yang ditangani duluan

Kamu lihat perawat duduk depan komputer. Dokter pegang Handphone.

"Santai banget, pasien nunggu," mungkin begitu ungkapanmu.

Perawat itu mengisi rekam medis. Kalau tidak dicatat, secara hukum dianggap tidak dilakukan.

Dokter itu konsul ke dokter spesialis. Minta advis. Tunggu balasan. Pantau laboratorium. 

Tidak ada yang nganggur. Yang ada : pekerjaan yang tidak terlihat seperti pekerjaan.

Yang paling menyakitkan dari posisi dokter IGD : 

Kami tahu kamu menunggu. Kami tahu kamu panik. Kami tahu satu menit terasa satu jam kalau yang sakit itu orang yang kamu cintai. Tapi kami tidak bisa keluar dan menjelaskan itu semua. Karena di dalam, ada tangan yang harus kami pegang, napas yang harus kami jaga. 

Yang bisa kamu lakukan saat nunggu di IGD :

Ceritakan gejala dengan jelas ke perawat triase, jangan simpan informasi. Kalau kondisi berubah, lapor langsung, jangan tunggu giliran.

Tanya ke perawat: "Ini triase apa? Berapa lama estimasinya?"

Kamu berhak tahu. Dan kami tidak keberatan ditanya.

IGD bukan tempat yang sempurna. Sistem kita belum sempurna. Dan frustrasimu valid. Tapi dokter dan perawat di balik pintu itu juga manusia.

Mereka sedang berlari sekencang yang bisa. Sebelum marah, tanya ke perawat. Sebelum viral, coba pahami dulu. (*)