Orang Sakit Itu Bisa Tidak Bergejala

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Foto ilustrasi orang sakit mendadak
Foto ilustrasi orang sakit mendadak
grosir-buah-surabaya

Belum lama ini saya kedatangan pasien perempuan, usia sekitar awal 40-an. Beliau tampak cemas, dan bercerita keluhan yang dialaminya beberapa hari kebelakang. 

Beliau bercerita bahwa baru saja ia mengikuti pelatihan pembimbing haji untuk tahun 2026 dan selama pelatihan itu, dua peserta mengalami stroke dan serangan jantung.

Saya sempat bertanya setengah bercanda, “Pelatihannya seperti apa, Bu? Kok sampai ada yang kena serangan jantung? Ini pelatihan atau ospek?”

Ternyata pelatihannya cukup berat. Tahun ini pembimbingnya dari TNI. Disiplin ketat, jadwal padat, begadang. 

“Saya cuma tidur tiga jam selama pelatihan itu Dok,” katanya. 

Tiga jam. Selama beberapa hari berturut-turut.

Di situlah saya mulai paham. Beban fisik, stres, kurang tidur — ini kombinasi yang sangat berbahaya, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tersembunyi.

Yang sering tidak disadari masyarakat adalah: orang sakit itu bisa tidak bergejala. Hipertensi disebut “silent killer” bukan tanpa alasan. Tekanan darah bisa di atas 140 mmHg dalam keadaan istirahat, tanpa rasa apa-apa. Tidak pusing, tidak nyeri, tidak sesak. Tapi di dalam, pembuluh darah dan jantung bekerja lebih keras dari seharusnya.

Pada pasien ini, ia hanya minum satu obat tekanan darah dosis 5 mg. Tensinya masih di atas 140 saat istirahat. Artinya? Pengobatan belum mencapai target. Ini poin penting: hipertensi bukan sekadar “minum obat”, tapi mencapai target tekanan darah yang aman.

Saat saya periksa lebih lanjut, dari pemeriksaan fisik tampak tanda pembesaran jantung. Dari USG jantung, terlihat ventrikel kiri menebal — yang kita sebut hipertrofi ventrikel kiri. Ini bukan kabar baik. Artinya jantung sudah lama bekerja melawan tekanan tinggi. Ototnya menebal sebagai adaptasi, tapi adaptasi ini bukan tanpa konsekuensi.

Hipertrofi ventrikel kiri meningkatkan risiko gangguan irama jantung, gagal jantung, dan serangan jantung di masa depan. Selain itu, katup mitralnya mulai bocor ringan, dan atrium kirinya sudah mulai membesar.

Pembesaran atrium kiri ini penting. Kalau terus membesar, risiko gangguan irama seperti fibrilasi atrium meningkat. Dan fibrilasi atrium adalah salah satu penyebab stroke tersering pada usia dewasa. Jadi ini bukan sekadar angka di layar USG. Ini adalah jalur menuju komplikasi.

Saya teringat satu penelitian besar bernama SPRINT Trial (Systolic Blood Pressure Intervention Trial). Penelitian ini dipublikasikan tahun 2015 di New England Journal of Medicine. Dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat, melibatkan lebih dari 9.000 peserta dengan risiko kardiovaskular tinggi.

cctv-mojokerto-liem

Penelitian ini membandingkan dua target tekanan darah sistolik: kurang dari 140 mmHg versus target lebih ketat, kurang dari 120 mmHg. Hasilnya? Kelompok dengan target lebih rendah mengalami penurunan signifikan kejadian serangan jantung, gagal jantung, dan kematian akibat kardiovaskular.

Artinya apa dalam praktik sehari-hari? Jangan puas hanya karena “sudah minum obat”. Yang harus ditanya adalah: setelah minum obat, tekanannya berapa? Sudah sesuai target atau belum?

Pasien ini sempat khawatir. “Kalau obatnya ditambah, nanti ginjal saya rusak nggak, Dok?” 

Ini kekhawatiran yang umum. Tapi justru tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol lah yang merusak ginjal. Bukan obat yang diberikan dengan indikasi dan pemantauan yang tepat.

Kalau tekanan darah tetap tinggi, pembuluh darah ginjal rusak pelan-pelan. Mata bisa terganggu. Otak berisiko stroke. Jantung makin menebal. Jadi logikanya dibalik: bukan takut pada obat, tapi takutlah pada tekanan darah yang tidak terkendali.

Bayangkan kalau beliau tetap dengan obat seadanya, lalu ikut pelatihan berat, kurang tidur, stres tinggi. Dalam kondisi jantung sudah menebal dan atrium membesar, beban tambahan itu bisa jadi pemicu. Stroke atau serangan jantung sering terjadi justru saat tubuh diberi tekanan ekstra.

Itulah kenapa saya selalu mengatakan: orang sakit bisa tidak bergejala. Tidak pusing bukan berarti aman. Tidak nyeri dada bukan berarti jantung baik-baik saja. Tidak pernah pingsan bukan berarti pembuluh darah sehat.

Kita tidak bisa menunggu gejala untuk bertindak. Faktor risiko harus dikontrol sebelum komplikasi datang. Karena saat komplikasi datang, sering kali sudah terlambat.

Pesan saya sederhana: kalau punya hipertensi, obati sampai target. Evaluasi rutin. Jangan puas dengan “lumayan turun”. Dan jangan tunggu tubuh memberi alarm keras baru kita panik.

Karena penyakit tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia bekerja dalam diam. (*)

*) Penulis : Dr Erta Priadi Wirawijaya Sp.JP (Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah)