Pernikahan Politik Pangeran Willem II van Oranje dan Putri Mary Stuart
Pernikahan antara Pangeran Willem II van Oranje & Putri Mary Stuart merupakan hasil perjodohan dan salah satu pernikahan politik paling ikonik sekaligus canggung secara usia dalam sejarah Eropa di abad ke-17.
Di saat pernikahan antara keduanya dilangsungkan di Istana Whitehall, London, pada 2 Mei 1641, Willem II baru menginjak usia 14 tahun. Ia adalah putra mahkota dari Pangeran Frederik Hendrik, Pangeran van Oranje, penguasa de facto Belanda yang waktu itu berbentuk negara republik dan dinamakan : Republik Batavia.
Sedangkan Mary Stuart saat itu berusia 9 tahun. Ia adalah putri sulung dari Raja Charles I dari Kerajaan Inggris, Skotlandia dan Irlandia.
Karena usia mereka yang masih sangat muda, setelah upacara pernikahan, Mary tidak langsung diboyong ke Belanda. Ia tetap tinggal di Inggris bersama keluarganya selama setahun sebelum akhirnya menyusul suaminya di Belanda.
Wangsa Oranje-Nassau yang menjadi penguasa Belanda memiliki ambisi besar. Meskipun Belanda saat itu adalah negara republik yang kaya raya, status keluarga Oranje secara teknis pada awalnya "hanya" bangsawan tinggi setingkat pangeran dan bukan raja.
Pangeran Frederik Hendrik ingin mengangkat derajat keluarganya agar setara dengan monarki besar di Eropa. Menikahkan putranya dengan putri Raja Inggris adalah cara tercepat untuk mendapatkan pengakuan bahwa keluarga Oranje adalah "trahing kusumo rembesing madu" alias memiliki darah bangsawan sejati dan bukan hanya sekedar pegawai negara republik.
Belanda saat itu masih dalam tahap akhir 80 tahun melawan Spanyol. Aliansi dengan Inggris diharapkan dapat memberikan dukungan militer atau setidaknya memastikan Inggris tidak memihak Spanyol.
Ada keinginan terselubung dari keluarga Oranje untuk mengubah struktur pemerintahan Belanda dari republik menjadi monarki kerajaan. Aliansi dengan wangsa Stuart dari Kerajaan Inggris Raya memberikan legitimasi moral untuk mewujudkan ambisi tersebut.
Awalnya, Charles I ingin menikahkan Mary dengan putra raja Spanyol. Namun, karena tekanan politik di dalam negeri, ia berubah pikiran. Charles I sedang mengalami konflik dengan Parlemen Inggris dan butuh uang. Belanda adalah negara terkaya di dunia saat itu dan pernikahan ini menjanjikan "mas kawin" yang besar.
Dan juga rakyat Inggris yang mayoritas Protestan lebih setuju jika negaranya beraliansi dengan Belanda yang juga Protestan, daripada dengan Spanyol yang Katholik.
Hubungan Willem II dan Mary Stuart juga tidak selalu bahagia. Willem dikenal ambisius, bangga dan kadang impulsif.
Tidak lama setelah pernikahan mereka, dunia politik berubah drastis. Perang saudara pecah di Inggris. Ayah Mary : Charles I, berselisih dengan parlemen. Konflik itu berkembang menjadi English Civil War. Akhirnya terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan pada masa itu,
Charles I dihukum pancung pada tahun 1649. Bagi Mary, itu merupakan bencana pribadi dan politik yang sangat besar.
Pada tahun 1650, Willem II meninggal mendadak. Kemungkinan karena cacar di usianya yang ke-24 thn. Saat itu Mary sedang hamil. Beberapa hari kemudian lahirlah putra mereka : Willem III van Oranje. Bayi itu kelak menjadi salah satu penguasa Oranje paling terkenal dalam sejarah. Putra mereka mengubah sejarah Eropa, Willem III kemudian menjadi stadhouder Republik Batavia dan sekaligus sebagai Raja Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Bersama istrinya Mary II, ia memerintah Inggris setelah Glorious Revolution.
Bagi Belanda dan terutama wangsa Oranje, pernikahan bocah ini adalah strategi "munggah bale" tingkat tinggi untuk mengamankan posisi mereka di panggung kekuasaan Eropa.
Di era Republik Batavia (7 Provinsi Bersatu) wangsa Oranje-Nassau tidak menyandang gelar "Raja". Mereka menjabat sebagai Stadhouder alias pemegang negara.
Karena Belanda saat itu berbentuk Republik, Stadtholder secara teknis adalah "pegawai negeri" atau panglima militer yang ditunjuk oleh provinsi dan bukan penguasa berdaulat. Meskipun posisinya adalah jabatan publik, orang-orang yang mengisinya (seperti Willem van Oranje) tetaplah bangsawan tinggi yang memiliki tanah dan gelar feodal.
Nama "Oranje" bukan berasal dari wilayah di Belanda, melainkan dari Kepangeranan Orange (Principality of Orange) di wilayah Perancis Selatan.
Willem Sang Pendiam mewarisi gelar Prince of Orange dari sepupunya, René of Chalon, pada tahun 1544. Gelar "Pangeran" ini memberi mereka status Sovereign (penguasa berdaulat), yang menempatkan mereka sejajar dengan keluarga kerajaan lain di Eropa, meskipun wilayah kekuasaan mereka di Belanda sendiri secara teknis masih di bawah Kekaisaran Romawi Suci atau berbentuk Republik.
Lukisan terkenal potret ganda karya Anthony van Dyck koleksi Istana Het Loo di kota Apeldoorn memperlihatkan Willem II dan Mary Stuart sebagai anak bangsawan muda yang anggun an rapi. Namun di balik gambaran indah itu tersembunyi pernikahan bocah, kekuasaan politik, perang, eksekusi raja, kehidupan sebagai janda muda, dan kelahiran calon raja besar.
Karena itulah lukisan tersebut tetap begitu menarik secara sejarah, bukan hanya sekedar menggambarkan dua anak muda, tetapi juga sebuah titik penting dalam sejarah Eropa. (*)
Editor : S. Anwar